Literatura Nusantara

Membumikan Sastra Melangitkan Kata

Pawai Jampana: Persatuan di Tengah Perbedaan adalah Kemenangan Sesungguhnya

[Sumber gambar: AI]

Penulis: Eva Nurhasanah

Ada banyak sekali perjalanan yang terpatri, pengalaman yang terekognisi; hidup dalam penjagaan yang diwariskan dari generasi ke generasi; dan ia tumbuh dengan cinta— yang setiap sisinya mampu mengikat keberagaman dari masing-masing diri manusia— menjadi satu kesatuan yang harmoni. Ini bukan sekadar perjalanan, tetapi juga pembelajaran, di mana jiwa dalam setiap diri manusia akan dapat menemukan pengertian dan menyadari makna kehidupan.

***

Mari menyelam bersama-sama—

ke dalam cerita yang mungkin saja pernah kita rasa,

tetapi keberadaannya hanya terlewati begitu saja.

***

Kali ini, langkah kaki menapaki bumi Nusantara yang penuh resonansi. Perjalanan dimulai dengan sebuah desa yang dikenali, karena kehidupan warganya yang masih menjaga tradisi, meski zaman telah berganti.

Ya, “Desa Mekarjaya”,

begitulah seluruh warga desa menyebut namanya.

Sebuah daerah kecil di tanah air Indonesia yang kaya dengan kehangatan dan kearifan lokal di dalamnya. Dari banyak kearifan lokal yang ada, tradisi “Pawai Jampana” hidup menjadi salah satu warna, yang kehadirannya selalu ditunggu oleh warga desa pada tanggal 17 Agustus setiap tahunnya— tanggal di mana negara Indonesia dinyatakan merdeka.

Warga desa menyatakan bahwa tradisi ini selalu dilaksanakan dalam peringatan “Hari Ulang Tahun Republik Indonesia”— karena keberadaannya sebagai bentuk rasa syukur atas kemerdekaan, kekayaan alam yang dihasilkan, dan atas semangat kebersamaan yang dibangun turun-temurun dari setiap zaman.

Seperti namanya, “Pawai Jampana”; ini adalah suatu tradisi budaya Sunda, di mana tandu besar berisi hasil bumi dikreasikan secara bersama-sama, dengan kerajinan tangan dan makanan khas Indonesia, yang kemudian diarak ke sepanjang jalan desa sebagai bentuk rasa syukur dan semangat atas merdekanya negara Indonesia. Biasanya, setiap tahunnya, tiga Rukun Warga (RW) di Desa Mekarjaya akan diseleksi sebagai pemenang perlombaan kreasi Pawai Jampana dengan pemberian penghargaan berupa piagam dan sertifikat serta hadiah lain di hari pelaksanaannya. Kriteria penilaian kompetisi pada umumnya meliputi banyaknya massa, kreativitas kostum dan jampana, serta kualitas penampilannya.

***

            Dan tepat hari ini, tujuh hari sebelum tanggal 17 Agustus tiba dalam kalender Masehi. Intan, Laksmi, Alisa, dan Putri adalah mahasiswa Fakultas Seni Rupa dan Desain di salah satu perguruan tinggi Indonesia yang juga merupakan bagian dari warga Desa Mekarjaya. Dalam perayaan kemerdekaan tahun ini, mereka mendapat kepercayaan dari Ketua RT untuk menjadi anggota tim utama yang merancang konsep dan rencana pembuatan kreasi “Pawai Jampana” bersama beberapa pemuda dan warga di RT 04 RW 01 Desa Mekarjaya.

            Sebagai mahasiswa, mereka merasa bangga atas kepercayaan yang diberikan; tetapi di balik itu semua, mereka juga mengemban tanggung jawab yang cukup berat dalam menjaga makna tradisi yang telah diwariskan. Segala perbuatan— tidak semudah membalikkan telapak tangan. Perjalanan itu cukup menjadi tantangan.

            Intan, Laksmi, dan Putri; ketiganya memiliki pendapat yang sama dalam misi ini. Mereka ingin membuat kreasi Pawai Jampana sebagai kesempatan untuk menunjukkan hasil bumi sekaligus memenangkan kompetisi. Tentu saja, dana yang dikeluarkan juga cukup luar biasa. Berbeda dengan mereka bertiga, Alisa memiliki pandangan yang lebih bijak dan sederhana. Dirinya mengusulkan pembuatan kreasi Pawai Jampana yang lebih hemat biaya, tetapi kaya akan makna.

Bagi Alisa, kemenangan bukanlah tujuan utama. Pembuatan kreasi pun tidak perlu mengeluarkan banyak dana, dia ingin benar-benar mendaur ulang dan mengolah barang bekas yang ada menjadi sesuatu yang bernilai dan berharga, serta poin yang paling utama— adalah bermanfaat bagi sesama. Intan, Laksmi, dan Putri menganggap ide Alisa terlalu sederhana; bahkan menurut ketiganya, Alisa bersikap seolah tidak menghargai pendapat besar mereka.

Alisa dengan sabar mencoba menjelaskan, tetapi sayangnya suara hati mereka tenggelam dalam gelombang ambisi yang tidak dapat ditenangkan. Dengan sukarela, Alisa kemudian mengalah demi kelancaran rencana, dan dirinya mengikuti keputusan dari mereka bertiga.

Namun rencana tetaplah rencana; tidak ada yang dapat memastikan bagaimana proses dan hasilnya. Pada akhirnya; Intan, Laksmi, dan Putri memilih mengundurkan diri dari tim dan meninggalkan Alisa— sahabatnya. Secara harfiah, persahabatan mereka kini telah terpecah belah dan terkubur menjadi sejarah, hanya karena setitik amarah, setitik ego yang menguasai dan membuat diri mereka sendiri kehilangan arah.

Akan tetapi, sejak ketiganya mengundurkan diri, Intan secara diam-diam selalu pergi ke posko memantau tim pembuat kreasi. Sebenarnya, dirinya tidak tahan membiarkan Alisa bekerja seorang diri sebagai tim utama; karena, ya, mereka bertiga seharusnya ada di sana, sebagai orang yang bertanggung jawab dalam tim utama, dan sebagai sahabat yang mampu menghargai dan menerima perbedaan di antara keberagaman yang ada.

Satu hari setelahnya, Intan memberanikan diri untuk mengobrol dengan Laksmi dan Putri agar ketiganya dapat kembali ke tim membersamai Alisa; tentu saja, mereka harus kembali sebagai seorang sahabat yang sesungguhnya. Dan setelah obrolan panjang itu selesai dengan hati yang lapang, pada akhirnya mereka siap untuk datang; menemuinya, menemui sahabat mereka— Alisa. Mereka menyadari, bahwa tindakannya saat itu sangat mematuhi ego sendiri, dan siapa yang mengira jika tindakan itu benar-benar membuat Alisa sakit hati.

Sayangnya, ketika sampai di lokasi posko tim utama, niat mereka untuk membantu Alisa padam seketika. Posko itu sudah bersih dan rapi, Alisa dan anggota tim lainnya juga sudah tidak ada di lokasi, itu tandanya seluruh kreasi mungkin sudah siap diarak dalam Pawai Jampana nanti. Dan benar saja, di balik tirai berwarna coklat muda, kreasi jampananya memang telah selesai dibuat dengan begitu apiknya.

Rencana Alisa dalam kreasi Pawai Jampana kali ini benar-benar menjadi nyata. Hanya dengan bahan seadanya, tumpukan barang bekas itu didaur ulang menjadi karya penuh makna. Di sana, terlihat tandu kreasi rumah adat khas Sunda. Rekayasa rumah itu dirancang sedemikian rupa dengan hasil bumi yang mendekorasi setiap sisinya. Selang beberapa menit lamanya; Intan, Laksmi, dan Putri memutuskan akan kembali untuk meminta maaf kepada Alisa secara langsung besok hari. Karena tampaknya, saat ini Alisa sedang istirahat di rumahnya setelah mengerjakan proyek yang lumayan cukup menguras energi.

Singkat cerita, di hari selanjutnya; Intan, Laksmi dan Putri kembali ke posko tim utama, tetapi mereka, mereka dikejutkan dengan sesuatu yang tidak pernah sekali pun terlintas di dalam pikirannya. Kreasi jampana yang telah dibuat oleh tim kini telah terbakar habis menyisakan abu hitam dan sedikit api yang masih menyala, seperti kebakarannya baru saja terjadi dalam beberapa jam sebelum mereka ada di sana.

Intan, Laksmi, dan Putri masih terdiam melihat kejadian itu, hening dan bisu. Saking kagetnya, tidak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulut mereka, dan tanpa ada satu orang pun di lokasi itu kecuali mereka bertiga. Dua menit berlalu dari sana, dan tidak lama, Alisa datang melihat keadaan itu dengan berdirinya tiga sahabat yang dulu selalu bersamanya. Alisa pun ikut terdiam bersama mereka, dan tidak lama pikirannya dihinggapi kesalahpahaman atas apa yang terjadi di sana.

“Apa kalian yang melakukannya?” ucap Alisa,

keadaan itu menghantui pikirannya.

Intan, Laksmi, dan Putri masih terdiam karena tidak tahu siapa yang melakukannya. Tuduhan pun muncul dari salah satu anggota tim logistik yang tiba-tiba datang ke lokasi itu, dia adalah Nadin. Nadin sangat terkejut ketika melihat kreasi untuk “Pawai Jampana” yang telah dibuat oleh tim dengan susah payahnya, kini telah terbakar habis hingga tidak ada yang tersisa. Dan dirinya, dengan cepat membuat kesimpulan dari bukti yang ada; bahwa Intan, Laksmi, dan Putri adalah pelaku yang membakar kreasinya.

Nadin tahu betul jika mereka bertiga sedang mengalami masalah dengan Alisa, dan mungkin saja, mereka secara diam-diam membakar kreasinya, karena ketidaksukaan mereka terhadap pendapat Alisa, apalagi jika pada akhirnya, pendapat itu terlaksana. Nadin bersikeras menyalahkan ketiganya hingga dirinya berani melaporkan keadaan itu ke ketua RT dan RW.

Intan, Laksmi, dan Putri tidak diam membisu, mereka selalu mengelak akan tuduhan itu; karena di sini mereka bukanlah pelaku, tetapi mereka adalah korban dari seorang penipu. Sayangnya, bukti di lapangan terus mengarahkan bahwa mereka adalah pelaku yang membakar kreasinya, bahwa mereka bertanggung jawab atas apa yang terjadi di sana. Alisa— dengan kepercayaan kepada ketiga sahabatnya, sangat ragu atas tuduhan Nadin yang secara langsung menuduh ketiga sahabatnya itu, entah mengapa firasat Alisa berkata bahwa mereka bertiga bukanlah pelaku, meskipun terakhir kali bertemu, Alisa dan ketiganya sempat berseteru.

***

“Lalu siapa yang melakukannya?”

Pertanyaan itu, pada akhirnya terjawab tanpa ragu.

Ketika Alisa melewati posko tim kedua, dirinya tidak sengaja mendengar seseorang yang sedang menangis di dalamnya, dengan suara lirih yang mungkin hanya bisa terdengar oleh orang berjarak satu meter dari sana. Seseorang itu menangis dengan mengucapkan beberapa rangkai kata, seperti dirinya sedang mencurahkan permasalahan kepada temannya di sana. Saat itu juga, Alisa— terdiam seketika.

Kini, Alisa telah mengetahui siapa pelaku yang membakar kreasi. Dirinya dengan cepat mengetuk pintu posko itu, dan salah satu orang di dalamnya membukakan pintu. Di sana, Alisa menemukan tiga orang teman satu timnya— ya, teman satu timnya.

“Alisa!?”

“Apa benar yang kalian katakan?”

“Kamu…, kamu mendengar semuanya?”

“Jadi, semua ini?”

“Itu…, itu sebuah ketidaksengajaan, Sa!”, “Maafkan aku, aku yang tidak sengaja menyenggol lilin untuk merekatkan plastik mengenai kreasi jampananya, dan secara tidak sadar, lilinnya membakar kreasi itu. Aku sudah berusaha memadamkannya, tetapi api itu terus membesar. Maafkan aku, Alisa, aku tidak sengaja…, ini, ini bukan suatu rencana, ini keteledoran yang aku takut mengakuinya.” kata-kata itu keluar seiring dengan tangisan yang tidak bisa ditahan.

“Lantas, mengapa kamu terus menutupinya?

Dan membiarkan tuduhan Nadin menjadi alasannya?”

“Maafkan aku…, aku juga yang meminta Nadin untuk menuduh Intan, Laksmi, dan Putri sebagai pelakunya; karena, aku tahu bahwa hubungan kalian berempat sedang tidak baik-baik saja. Maafkan aku, aku sangat… sangat… menyesali perbuatanku itu.”

“Jadi, kamu memanfaatkan situasi ini menjadi sebuah solusi?”

“Maafkan aku, aku sangat kebingungan saat itu, sehingga keputusan yang aku ambil adalah hal yang tabu. Sa, kali ini, aku berjanji, untuk menjadikan hal ini sebagai sebuah pelajaran untuk aku melangkah di kemudian hari.”

***

Teman satu tim Alisa, Nusa— adalah pelaku di balik terbakarnya kreasi untuk Pawai Jampana. Ternyata, firasat Alisa selama ini adalah sesuatu yang bisa dirinya percaya; seperti lentera yang muncul di dalam gelap gulita. Tentang ketiga sahabatnya, mereka adalah korban atas tuduhan yang tidak berdasarkan fakta. Namun yang menjadi pertanyaan Alisa selanjutnya, “Mengapa mereka bertiga ada di lokasi kejadian saat itu juga?”.

Di sisi lain cerita, setelah saat itu berbincang dengan Alisa, akhirnya, Nusa dan Nadin mendatangi ketua RT dan RW untuk melaporkan apa yang seharusnya dilaporkan sejak awal; kejujuran dan rasa bersalah kali ini mengalir menjadi sesuatu yang sepenuhnya tidak mereka sangkal. Kebenaran— telah disampaikan; sesuai dengan nilai dari sila keempat Pancasila— yang menerangkan bahwa— di dalam kerakyatan, warga negara Indonesia harus mentaati kejujuran, kemurnian, kebenaran, kebaikan, dan keindahan. Tanpa adanya kejujuran, akan sulit bagi warga negara untuk membangun kepercayaan.

Mereka tanpa ragu telah melakukan hal itu; dan dalam lintasan waktu, perjalanan ini telah memberikan suatu pelajaran yang baru. Selagi pintu kesempatan masih terbuka; tidak ada kata terlambat bagi orang yang menyadari dan menyesali perbuatannya, pun tidak ada lagi rasa takut bagi orang yang berani mengakui kesalahannya.

Dan hari ini adalah satu hari menuju tanggal 17 Agustus tiba. Tim pembuat kreasi jampana memulai kembali rencana dari titik pertama, meski hari kemerdekaan sudah sangat dekat di depan mata.  Alisa— masih dalam keadaan sendiri menyusun konsep dari awal dengan temanya yang berbeda, dirinya menolak bantuan dari siapa pun karena merasa tugas tim utama adalah tanggung jawabnya. Dan tim lainnya, mereka membagi tugas bersama-sama; ada yang menggalang dana, ada yang membereskan sisa kebakaran yang ada, pun ada yang menyiapkan alat dan bahan seadanya.

Namun tidak menunggu lama; Intan, Laksmi, dan Putri datang ke posko mengejutkan Alisa. Mereka membawa sedikit dana serta alat dan bahan seadanya. Dengan harapan, tindakan mereka saat itu dapat dimaafkan. Tidak beranjak dari sana, Alisa— terdiam seketika. Sahabatnya, kini telah kembali dengan segaris tawa yang selalu ada di dalam ingatannya. Entah perkataan apa yang harus disampaikan, tetapi tidak lama kemudian, mereka berempat berpelukan, dan saling meminta maaf atas apa yang telah mereka lakukan. Akhirnya, pertanyaan Alisa pun telah menemukan jawabannya.

Alisa sangat terharu— atas apa yang kini dilakukan oleh ketiga sahabatnya itu, hingga dirinya— dengan tidak sadar meneteskan air mata. Detik itu, kesadaran membawa mereka berempat ke dalam perenungan yang memberikan langkah baru. Mereka sangat menyadari— bahwa alur cerita kehidupan ini sangat berarti, bagi perjalanan persahabatan yang sejati. Perbedaan— bukan suatu hal yang perlu dipermasalahkan. Justru, dari perbedaan itu, lahirlah sebuah persatuan, sebuah semangat baru yang merajut benang menjadi kain kehidupan. Keberagaman adalah kekuatan, ketidaksamaan adalah benih untuk tumbuh menjadi warna baru yang lebih mengagumkan.

Mereka bergandengan tangan— merangkai kembali persahabatan di atas kebersamaan. Dengan semangat yang menggelora, mereka dan seluruh anggota tim bersatu membangun kembali konsep rencana dan membuat kreasi jampana yang sangat berbeda dari sebelumnya. “Pawai Jampana”— kali ini akan menjadi sesuatu yang penuh makna. Bukan hanya sebagai bagian dari tradisi dalam kearifan lokal Indonesia, tetapi juga sebagai bagian dari sesuatu yang ditulis pada pita yang dicengkram oleh kaki Burung Garuda. Ya, “Bhinneka Tunggal Ika”.

“Sebuah kreasi seni—

yang lahir dari perbedaan menjadi persatuan sejati,

abadi,

dan sepenuh hati”.

Jampana atau tandu dengan kreasinya dibuat sekreatif mungkin oleh mereka, dan setiap detail bagiannya dibentuk dan dihias sedemikian rupa. Kali ini “Burung Garuda” mengepakkan sayapnya, Garuda menjadi bentuk jampana yang mereka buat bersama. Nilai estetis dari hasil kreativitas Intan, Laksmi, Putri, dan Alisa, serta seluruh anggota tim RT 04 RW 01 Desa Mekarjaya, termasuk Nadin dan Nusa, sungguh luar biasa. Di sisi lainnya, jampana itu diisi dengan aneka hasil bumi seperti buah-buahan, sayur-sayuran, dan umbi-umbian; serta makanan khas Jawa Barat seperti opak, wajit, gurandil, dodol, kue ali, peuyeum, bandros, jalabria; hingga hasil kerajinan warga Desa Mekarjaya seperti anyaman dari bambu (tas, boboko, nyiru, topi caping), dan lain sebagainya. Kerajinan tangan, makanan, dan hasil bumi itu melambangkan kemakmuran, serta rasa syukur atas kekayaan alam yang dihasilkan— dari tanah tercinta, tanah air Indonesia.

Besok harinya, tanggal 17 Agustus telah tiba. Hari kemerdekaan Indonesia, dan segala usaha yang mereka lakukan telah sampai di titik puncaknya. Pagi hari yang biasanya dingin itu kini terasa lebih hangat, dekat, dan penuh semangat. Intan, Laksmi, Putri, dan Alisa, serta seluruh tim lainnya bersiap dalam rangkaian perayaan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia. “Pawai Jampana” telah ada di depan mata. Hasil kreasi yang mereka buat dengan seluruh anggota timnya itu kemudian dibawa dan diarak dari titik lokasi RW 01 Desa Mekarjaya menuju ke lapangan Desa Mekarjaya, tepat sebagai lokasi perayaan peringatan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia di Desa Mekarjaya.

Peserta pawai melibatkan seluruh elemen masyarakat dari tingkat Rukun Warga. Sepanjang perjalanan, “Pawai Jampana” itu diiringi oleh alunan musik tradisional maupun modern dengan penuh toleransi keberagaman. Warga yang ikut pawai menampilkan berbagai peranan dan kostum kreatif hasil buatannya. Dengan sukacita, harapan itu terbang mengangkasa. Intan, Laksmi, Putri, Alisa, serta warga lainnya juga tidak jarang menyanyikan lagu-lagu perjuangan, dan sebagian warga mewarnainya dengan suara meriam bambu atau lodong untuk menyulut semangat kemerdekaan.

Sesampainya di lapangan Desa Mekarjaya, seluruh rombongan pawai dan kreasi dari setiap RW diarahkan oleh panitia acara untuk berkumpul dan berbaris dengan masing-masing RWnya. Hal ini sebagai tanda persiapan akan dilaksanakannya upacara bendera— dalam peringatan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia. Tidak lama, upacara bendera Sang Saka Merah Putih pun tiba. Saat ini, bendera telah dikibarkan di atas tiang yang tinggi. Merah melambangkan keberanian, perjuangan, dan putih melambangkan kesucian, keikhlasan. Perjalanan kali ini adalah bukti cinta terhadap tanah air Indonesia.

Setelah selesai upacara bendera, kreasi jampana dan arak-arakan lainnya dari setiap RW ditampilkan mengelilingi lapangan Desa Mekarjaya. Ini juga merupakan momen penting dalam pembagian dan perebutan isi tandu oleh warga. Intan, Laksmi, Putri, Alisa, dan seluruh anggota tim bersiap menampilkan hasil kreasinya. Mereka semua sangat antusias; dan seiring helaan napas, mereka mulai mengikrarkan “Sumpah Pemuda” dan menyanyikan lagu “Syukur” dengan senyuman yang lepas.

_______

“Kami putra dan putri Indonesia

mengaku berbangsa satu, bangsa Indonesia.

Kami putra dan putri Indonesia

mengaku bertanah air satu, tanah air Indonesia.

Kami putra dan putri Indonesia

menjunjung tinggi bahasa persatuan, bahasa Indonesia.”

_______

Dari yakinku teguh

hati ikhlasku penuh

akan karunia-Mu

tanah air pusaka

Indonesia merdeka

syukur aku sembahkan

ke hadirat-Mu, Tuhan

_______

Pada saat rangkaian perayaan itu mendekati penutupan, panitia acara melalui pengeras suara menyampaikan beberapa pengumuman; termasuk di antaranya adalah pengumuman pemenang bagi tiga RW di Desa Mekarjaya yang menampilkan kreasi jampana terbaik sesuai dengan ketentuan. Dan di akhir pengumuman; Intan, Laksmi, Putri, dan Alisa telah lebih dulu mempercayakan hasilnya kepada Tuhan. Karena kejuaraan— kali ini bukanlah hal utama yang mereka harapkan. Namun semesta mengizinkan, perjalanan itu memberikan hasil dari apa yang telah mereka perjuangkan.

Untuk pertama kalinya, kreasi “Pawai Jampana” dari RW 01 Desa Mekarjaya— ada di peringkat utama. Artinya, kreasi yang dibuat Intan, Laksmi, Putri, Alisa, dan seluruh anggota tim adalah pemenangnya. Mereka semua terkejut setelah mendengar pengumuman itu. Ini adalah pencapaian tingkat RW yang baru. Ketua RT 04 dan RW 01 memberikan selamat atas kerja keras dan kerja sama tim pembuat kreasi jampana. Mereka, meskipun saat itu mengalami permasalahan dalam proses pembuatannya, tetapi dari sanalah tumbuh suatu pengertian yang tidak biasa— sesuatu yang memetamorfosiskan deretan tanda menjadi sebuah makna.

***

Pada akhirnya, mereka membuktikan bahwa persatuan Indonesia menjadi salah satu kunci dari kemenangan yang sesungguhnya, bahwa kemenangan hakiki lahir dari keberagaman dan perbedaan yang menyatupadukan diri manusia, bahwa di dalam ketidakselarasan ada keberanian, kesabaran, keikhlasan, kepercayaan, kejujuran, kebenaran, kemurnian, kebaikan, keindahan, dan kekuatan yang membentuk suatu kesatuan “Bhinneka Tunggal Ika”.

Dan persahabatan mereka, perjalanan di dalam cerita, ini adalah perwujudan dari nilai-nilai berharga yang hidup dalam tradisi kearifan lokal di negara Indonesia. Sebuah cermin dari Negara Kesatuan Republik Indonesia yang menyatukan keberagaman dalam satu tujuan. Dan tradisi “Pawai jampana” bukan hanya tentang merayakan kemerdekaan, tetapi juga tentang menumbuhkan perbedaan menjadi persatuan, kebersamaan menjadi kekuatan, hingga kebermaknaannya menjadi kemenangan sejati dalam kehidupan.

***

Demikian dari sana— ada banyak makna dari pelaksanaan “Pawai Jampana” yang menjadi salah satu kearifan lokal di Indonesia, yaitu tradisi ini merupakan bentuk rasa syukur atas merdekanya tanah air Negara Kesatuan Republik Indonesia, dan atas limpahnya hasil bumi yang ada. “Pawai Jampana” merupakan wujud dari sila Pancasila, bentuk persatuan dan kebersamaan, di mana warga bersatu dan bersama-sama, bergotong-royong membentuk suatu ikatan, dari pembuatan— hingga pembawaan kreasi tandu ke lokasi tujuan.

“Pawai Jampana” juga adalah suatu upaya melestarikan budaya dan sejarah Sunda, serta bagian dari promosi produk khas Indonesia— yang diwujudkan dengan cara menampilkan kekayaan dan keunikan budaya— kepada generasi muda dan masyarakat dunia. Kemudian, “Pawai Jampana” yang membawa kekayaan Indonesia ini bukan hanya untuk dipamerkan, tetapi juga untuk dibagi dan dinikmati warga secara bersama-sama di akhir perjalanan. Hal ini melambangkan bahwa kemerdekaan adalah hasil kerja sama— yang harus disyukuri dan dirayakan secara bersama-sama.


Eksplorasi konten lain dari Literatura Nusantara

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Categories:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *