
[Sumber gambar: https://www.hipwee.com/]
Penulis: Saepul Anwar
Pagi itu udara segar masih menggantung di atas sawah. Burung-burung kecil saling mengejar di langit, seakan menyambut datangnya hari baru. Di ujung jalan tanah yang berdebu, berdiri sebuah sekolah yang sangat sederhana dengan dinding papan dan atap seng yang mulai berkarat. Di sanalah aku mengabdikan diri disebuah sekolah dasar di pelosok desa, jauh dari ramainya kota.
Namaku Epul, seorang guru kelas di SD Negeri Sudimampir. Ketika dulu aku dantang dan janji untuk menjadi pendidik, aku tahu bahwa profesi ini bukan hanya sekadar pekerjaan. Ada amanah besar yang saya siap tanggung,yaitu mencetak generasi penerus bangsa.Itulah makna bela negara bagi diriku,bukan dengan senjata, melainkan dengan pulpen, papan tulis, dan kapur yang menorehkan masa depan.
Suatu hari…..
“Pa, kenapa kita harus upacara dan hormat bendera setiap Senin?” tanya Dimas, seorang siswa kelas tiga dengan polosnya.Pertanyaan itu membuatku seketika tertegun. Aku pun menarik napas panjang, lalu tersenyum.
“Dimas, bendera merah putih memang hanya sebuah kain, tapi bukan sembarang kain. Itu adalah simbol pengorbanan para pahlawan yang berjuang agar kita bisa bersekolah saat ini, bermain, dan hidup merdeka. Menghormati bendera yang berarti kita menghargai mereka yang sudah berjuang untuk kita.”
Namun, membela negara melalui jalu pendidikan tidaklah mudah. Anak-anak di desaku ini banyak yang lebih suka membantu orang tua di sawah dan di kebun dari pada belajar. Ada pula yang sudah nyaman untuk bekerja,
Cukup sering aku merasa lelah, bahkan cenderung menuju putus asa. “Apa yang bisa kuperbuat saat ini?”fikirku suatu sore, ketika melihat tumpukan buku latihan yang masih kosong tanpa jawaban.
Namun,ketika langkahku mulai goyah,aku teringat sumpahku saat wisuda:“Setia pada bangsa, mencerdaskan kehidupan anak negeri.” Maka, seketika aku kembali menguatkan hati. Bela negara bukan tentang besar kecilnya medan tempur,tetapi tentang bagai mana keberanian menjaga api semangat agar tidak padam.
Beberapa tahun terus berlalu. Usahaku selama ini tidak sia-sia.siswa-siswa yang dulu malas belajar kini sudah tumbuh menjadi pribadi yang bersemangat untuk belajar. Dimas, yang pernah bertanya tentang bendera, kini bercita-cita menjadi tentara
Suatu pagi, saat upacara bendera, aku mendengar suara yang lantang dari siswa -siswiku menyanyikan Indonesia Raya. Tubuhku merinding. Air mataku menetes tanpa bisa kutahan. Di sanalah bisa aku melihat, bahwa inilah hasil kecil dari perjuangan seorang guru.
Aku sadar, bela negara bukanlah ucapan.Ia hidup di dada siswa-siswi yang belajar dengan penuh semangat,dari guru yang setia mengajar tanpa kenal lelah dan masyarakat yang mendukung pendidikan.
terkadang aku bertanya pada diriku sendiri, apakah perjuanganku ini cukup besar untuk disebut bela negara? Aku tidak berperang, tidak juga mengangkat senjata, dan aku tidak duduk di kursi kekuasaan.Tapi,setiap kali melihat wajah lugu siswa-siswiku, aku yakin jawabanku adala “iya”….
Bela negara merupakan keberanian untuk tetap berdiri tegak walaupun harus menghadapi keterbatasan.
Bela negara merupakan kesetiaan menyalakan cahaya ilmu di tengah kegelapan.
Bela negara merupakan kesabaran menuntun siswa-siswi menuju masa depan yang lebih baik.
Kain merah putih yang berkibar di tiang halaman sekolah menjadi saksi. Bahwa setiap tetes keringat guru,setiap garis kapur di papan tulis, setiap doa yang dipanjatkan.semuanya mmerupakan bagian dari perjuangan membela negeri ini.
Suatu hari, setelah bel pulang berbunyi, aku berdiri di depan kelas. Papan tulis yang penuh coretan masih tertinggal,kapur putih berdebu di bawah telapak tanganku. Aku tersenyum sambil berbisik pada diriku sendiri.“Negeriku mungkin tidak tahu namaku,akan tetapi aku tahu tugasku yaitu mendidik anak-anak bangsa dengan sepenuh hati. Dan itulah cara terbaik untuk membela negara.”
Dan suatu hari nanti, benih itu akan tumbuh menjadi pohon-pohon yang kokoh,generasi penerus bangsa yang siap melanjutkan estafet perjuangan negara ini.












Tinggalkan Balasan