Literatura Nusantara

Membumikan Sastra Melangitkan Kata

Pak Guru dan Janji Merah Putih

[Sumber gambar: https://www.gurusiana.id/]

Penulis: Ayi Yeyen

Pagi itu, halaman SDN 1 Cimarel dipenuhi semangat anak-anak berseragam merah putih. Matahari baru saja naik, sinarnya menyapa wajah-wajah ceria para siswa yang berbaris rapi. Bendera Merah Putih berkibar pelan tertiup angin, sementara di sisi lapangan seorang guru berdiri tegak penuh wibawa. Dialah sosok teladan mereka: Pak Guru.

Bagi Pak Guru, upacara bendera setiap Senin bukan sekadar rutinitas. Ia memandangnya sebagai momen berharga untuk menanamkan rasa cinta tanah air. Mengibarkan Sang Merah Putih adalah simbol janji setia untuk menjaga, mencintai, dan membela negeri dengan sepenuh hati.

Usai upacara, Pak Guru membawa murid kelas IV masuk ke ruang belajar. Dari tas kain sederhana, ia mengeluarkan sebuah bendera kecil yang warnanya mulai pudar, dengan benang di ujungnya yang terurai. “Anak-anak,” ucapnya lembut, “bendera ini sudah lama menemani sekolah kita. Meski kecil dan warnanya tak lagi cerah, maknanya tetap besar: simbol perjuangan dan kebanggaan kita sebagai bangsa Indonesia.”

Seorang siswa bernama Budi mengangkat tangan polos bertanya, “Pak, apakah membela negara berarti harus ikut berperang seperti pahlawan dulu?”Pak Guru tersenyum. “Tidak selalu, Nak. Dulu para pejuang memang mengangkat senjata. Tapi hari ini, bela negara bisa dilakukan lewat hal-hal sederhana: belajar dengan sungguh-sungguh, menjalankan kewajiban di sekolah maupun rumah, menjaga kebersihan, serta menghormati sesama. Itu semua juga bentuk cinta tanah air.”

Anak-anak terdiam, lalu mata mereka berbinar. Mereka mulai memahami bahwa membela negara tak harus heroik, melainkan bisa diwujudkan lewat tindakan kecil sehari-hari.
Santi, salah seorang siswi, berbisik, “Kalau begitu, membuang sampah pada tempatnya juga bela negara ya, Pak?” Pak Guru tersenyum lebar. “Betul sekali. Bela negara selalu dimulai dari hal-hal kecil. Jika kita bisa menjaga kebersihan, berarti kita juga sedang menjaga Indonesia.”

Seisi kelas pun bergemuruh penuh semangat. Siang itu, saat jam istirahat, beberapa anak terlihat langsung mempraktikkan ucapan Pak Guru. Mereka saling mengingatkan agar tidak membuang sampah sembarangan, ada pula yang membantu temannya merapikan buku yang terjatuh. Dari jauh, Pak Guru memperhatikan dengan hati hangat. Ia merasa perjuangannya sebagai pendidik tidak sia-sia.

Sore harinya, selepas kegiatan sekolah, Pak Guru pulang dengan langkah ringan. Jalan desa yang ia lalui dipenuhi suasana khas pedesaan: suara ayam berkokok, anak-anak bermain layangan, hingga aroma masakan dari dapur warga. Di depan rumahnya, ia melihat tetangga sedang membersihkan selokan. Tanpa diminta, ia langsung bergabung, tangannya cekatan mengangkat lumpur dan sampah. Warga tersenyum kagum; mereka tahu, meski berpendidikan tinggi, Pak Guru tak pernah gengsi untuk bergotong royong.

Malam harinya, di teras rumah sambil meneguk teh hangat, Pak Guru merenung. Ia teringat wajah-wajah muridnya yang penuh semangat. Ia percaya, masa depan bangsa ada di tangan mereka. Tugasnya adalah menyalakan api cinta tanah air agar tetap hidup dalam diri setiap anak. Ia sadar, tantangan zaman kian berat globalisasi, teknologi, dan perubahan gaya hidup sering membuat generasi muda lupa akar budaya. Namun ia yakin, selama ada orang yang mau menanamkan kejujuran, disiplin, kerja keras, dan cinta tanah air sejak dini, Indonesia akan tetap kokoh berdiri.

Esok paginya, Pak Guru memberi tugas khusus: “Anak-anak, minggu ini kita buat proyek kecil. Setiap kelompok tunjukkan satu bentuk bela negara yang bisa kalian lakukan di sekolah atau di rumah. Misalnya menjaga kebersihan, membantu orang tua, atau menghormati tetangga.”

Seketika kelas bersorak gembira. Mereka bersemangat berdiskusi: ada yang ingin membuat poster kebersihan, menanam pohon di halaman sekolah, bahkan merancang drama singkat tentang gotong royong. Hari-hari berikutnya, suasana sekolah berubah lebih hidup. Anak-anak lebih peduli lingkungan, lebih menghargai teman, dan lebih bersemangat belajar.

Pak Guru tersenyum setiap kali melihat perubahan kecil itu. Baginya, inilah arti sejati pendidikan: bukan sekadar mengajarkan pelajaran di papan tulis, melainkan menanamkan nilai yang akan dibawa murid-murid sepanjang hidup.

Dan di setiap langkahnya, Pak Guru selalu berpegang pada janji Merah Putih: janji untuk mendidik, menjaga, dan mencintai tanah air dengan sepenuh hati. Karena ia percaya, bela negara bukan hanya tugas para pahlawan di medan perang, tetapi juga tugas setiap warga, setiap hari, dalam kehidupan sederhana yang penuh makna.


Eksplorasi konten lain dari Literatura Nusantara

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Categories:

3 tanggapan untuk “Pak Guru dan Janji Merah Putih”

  1. Avatar Max Weber
    Max Weber

    Mantap.. keren

  2. Avatar Dede irpan
    Dede irpan

    Cerpen sangat bagus 👍

  3. Avatar sjahroelanwar
    sjahroelanwar

    good job pak guru

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *