
[Sumber gambar: AI]
Penulis: Difani Suci Nursefiya
Namanya Pak Budi, seorang guru di daerah pelosok Nusantara, tepatnya di Desa Lemo, yang terletak jauh di pedalaman Sulawesi. Jalanan menuju sekolahnya bukanlah aspal halus, melainkan tanah merah yang licin saat hujan dan berdebu kala kemarau. Setiap pagi, Pak Budi menempuh perjalanan sejauh 5 kilometer, berjalan kaki menyusuri hutan, menyeberangi sungai kecil, demi satu tujuan: mendidik anak-anak Indonesia.
Tak ada sorotan kamera, tak ada pengakuan dari media. Tapi Pak Budi terus datang—dengan semangat yang tak pernah pudar. Ia membawa buku, kapur, dan yang paling penting: cinta pada Indonesia. Di depan murid-muridnya yang duduk bersila di kelas berdinding bambu, Pak Budi bukan hanya mengajar Matematika dan Bahasa Indonesia. Ia bercerita tentang Indonesia, tentang perjuangan kemerdekaan, tentang keberagaman suku dan budaya, dan tentang pentingnya menjaga persatuan.
“Nak, negara ini besar dan kaya. Tapi ia bisa hancur jika kalian tidak jujur, tidak peduli, dan tidak bersatu. Membela negara bukan soal perang, tapi bagaimana kalian hidup dengan nilai-nilai kebaikan,” ujarnya suatu hari.
Para murid mendengarkan dengan mata berbinar. Mereka tahu, Pak Budi bukan guru biasa. Ia rela hidup sederhana, bahkan kadang mengajar tanpa bayaran karena dana sekolah yang terbatas. Pernah suatu ketika, datang tawaran dari sekolah kota—lengkap dengan fasilitas dan gaji yang jauh lebih besar. Tapi Pak Budi menolaknya.
“Negara ini butuh lebih banyak orang yang bertahan di pelosok, bukan yang pergi mencari kenyamanan. Saya membela negara dengan cara saya—dengan mencerdaskan anak-anak bangsa.”
Bagi Pak Budi, kapur tulis adalah senjatanya, papan tulis adalah medan juangnya, dan setiap ilmu yang ditanamkan adalah bentuk nyata bela negara. Tahun demi tahun berlalu. Murid-muridnya mulai tumbuh besar. Ada yang menjadi guru, perawat, petani sukses, bahkan salah satu muridnya kini menjadi kepala desa.
Pada Hari Guru Nasional, tanpa ia duga, datang serombongan orang ke sekolah. Mereka membawa piagam dan bendera merah putih. Salah satu dari mereka, mantan murid Pak Budi, berkata:
“Kami berdiri di sini, Pak, karena Bapak pernah percaya pada kami. Bapak bukan hanya guru, Bapak adalah pahlawan tanpa senjata yang telah membela negeri ini melalui pendidikan.”
Pak Budi tersenyum haru. Ia tak butuh penghargaan besar, karena bagi dirinya, melihat murid-muridnya berguna bagi bangsa sudah lebih dari cukup. Pak Budi tak pernah berperang di medan laga. Tapi lewat ilmu, dedikasi, dan cinta pada negeri, ia telah membuktikan:
“Guru sejati adalah prajurit bangsa. Tanpa senjata, tapi dengan jiwa yang tangguh, mereka membela Indonesia setiap hari.”












Tinggalkan Balasan