
[Sumber gambar: Buku Pelajaran]
Penulis: Resa Kurniawati
Langit pagi begitu gelap, kabut tebal merayap turun ke bumi, bukan karena hari masih subuh, tapi karena langit menumpahkan seluruh air lautan di atas Kampung Lembang Dano Desa Cipada. Semalaman hujan deras terus mengguyur tanpa henti, pohon-pohon tumbang, sampah berserakan dimana-mana, listrik mati total dan selokan-selokan kecil berubah menjadi sungai bergemuruh yang bercampur dengan tanah aspal menjadi kolam keruh. Semua warga panik berusaha menyelamatkan diri dan barang berharga mereka ke tempat yang lebih tinggi.
Dalam situasi yang genting itu, Mahwa (10 tahun), duduk termenung di kamar atas lantai 2 rumahnya. Dia memeluk lututnya sambil mengamati dari jendela kamarnya, rupanya air sudah mulai masuk ke ruang tengah lantai 1. Tak ada yang bisa ia lakukan, hanya rasa takut dan bingung yang menyelimuti hatinya. Bagaimana tidak? Dia melihat ibu dan ayahnya begitu panik membereskan perabotan agar tak terkena air. Bau lumpur begitu menyengat, keramik lantai berubah menjadi hitam pekat. Suasana di rumah terasa dingin dan mencekam, membuat seisi rumah ketakutan. Ayahnya dengan cekatan memastikan semua anggota keluarga sudah ada di lantai atas dan barang-barang berharga disimpan ditempat yang aman.
“Mahwa, jangan turun ke bawah nak, tetap di kamar ya sayang !” teriak Ayah sambil menggeser karung beras agar bisa diselamatkan.
“Ia ayah, ini banjir terparah sejak kita pindah” keluh Ibu sambil membawa dus indomie.
Pikiran Mahwa melayang, teringat pelajaran PPKn saat gurunya memberikan materi tentang Sila Kedua Pancasila, bahwa sebagai seorang manusia kita harus saling menolong. Ia memikirkan tetangganya Pak Hamzah yang tinggalnya di tempat yang lebih rendah. Pasti rumahnya terdampak lebih parah. Ditambah istrinya, Bu Imas sakit stroke sehingga kesulitan bergerak apalagi berjalan. Mereka berdua sudah renta dan hanya tinggal berdua di rumah gang sempit. Mahwa berusaha bangkit dan menghilangkan rasa takutnya lalu turun ke bawah.
“Ayah, bolehkah aku pergi menolong Pak Hamzah ?” Suaranya bergetar takut jika orang tuanya tidak mengizinkan.
Ayah terdiam sejenak sambil menghentikan kegiatannya, “Astagfirullohaladzim Ibu, kita lupa mungkin air di rumah Pak Hamzah sudah selutut, tetapi kita tidak bisa kesana karena hujan masih deras”
Mahwa mendengarkan dengan tenang, tetapi hatinya gelisah. Ia ingat bahwa dua hari yang lalu saat membeli gorengan, Pak Hamzah menceritakan sudah menabung untuk biaya berobat istrinya yang disimpan disebuah kotak kayu. Pak Hamzah adalah pedagang gorengan di depan Alfamart dan ia kesulitan menabung di Bank karena jaraknya yang cukup jauh, khawatir meninggalkan istrinya dan tidak ada buat ongkos pergi, lebih baik uangnya disimpan saja. Pikiran Mahwa pasti kotak kayu itu sudah terendam jika airnya sudah selutut.
“Ayah please, izinkan Mahwa ya, sebentar kok. Kasihan Pak Hamzah pasti kesulitan” pinta Mahwa dengan harap.
Melihat sorot mata anaknya yang begitu tulus, Ayah mengizinkannya pergi “Oke boleh nak, tapi ingat hati-hati ya, ajak juga Pak Hamzah dan istrinya untuk mengungsi sementara di rumah kita”
“Alhamdulillah, terimakasih Ayah. Mahwa janji akan jaga diri” ucap Mahwa sambil mengenakan jas hujan dan sepatu botnya, tak lupa ia juga membawa dua keresek besar.
Mahwa pergi berjalan pelan sambil berpegangan pada pagar rumahnya, lalu beralih ke pagar rumah tetangganya menuju gang. Air di luar sudah sampai betis, airnya keruh dan banyak sampah berserakan dimana-mana. Arus air di gang cukup deras, mendorong tubuh mungilnya. Pelan-pelan Mahwa berjalan, tubuhnya agak dimiringkan dan kakinya pasang kuda-kuda agar tak jatuh terpelset. Dalam hati ia selalu berdo’a agar dimudahkan membantu tetangganya yang mengalami kesulitan. “Bismillahirrohmanirrohim” ucapnya pelan.
Setelah sampai di depan rumah Pak hamzah, Mahwa melihat pintu kayu itu terbuka sedikit. “Assalamu’alaikum Pak Hamzah” seru Mahwa. Suara kecilnya kalah dengan deru hujan. Tak putus asa, Mahwa kembali mengucapkan salam. “Assalamu’alaikum, Mahwa izin masuk ya” karena tak ada jawaban, ia pun membuka pintu.
Pemandangan di dalam rumah Pak Hamzah begitu memilukan. Perabotan kayu sudah mengambang karena air hampir sepinggangnya. Buku-buku berserakan, kasur sudah setengahnya terendam banjir. Ia melihat Pak Hamzah sedang mengambil amplop surat di lemari atas, wajahnya pucat dan tubuhnya lemas. Bu Imas sedang meringkuk di kursim pojok, tubuhnya menggigil kedinginan karena selimutnya sudah hampir basah semua.
“Ya Alloh Mahwa, kenapa kamu kesini nak, berbahaya !” seru Pak Hamzah dengan sisa tenaganya.
“Aku datang untuk membantu, Bapak jangan banyak bergerak takut jatuh, biar Mahwa saja” ucap Mahwa sambil membawa amplop dari Pak Hamzah kemudian dimasukan ke satu keresek.
“Bapak duduk saja jagain Bu Imas. Kotak kayu tempat simpanan tabungan bapak ada dimana?” ucap Mahwa
“Ada di bawah dipan kasur nak” ucap Pak Hamzah.
Tak berfikir lama, Mahwa langsung mengambil kotak kayu itu. Cukup sulit bagi Mahwa untuk mengambilnya karena sudah terendam banjir. Ia meraba-raba dengan tongkat kayu yang biasa digunakan Pak Hamzah untuk berjalan. Setelah beberapa kali mencoba, tongkatnya menyentuh sebuah benda keras. Letaknya cukup dekat dan ia yakin itu adalah sebuah kotak kayu.
‘Ini pak, mudah-mudahan uangnya tidak ikut basah” ucap Mahwa sambil menyerahkannya kepada Pak Hamzah.
“Alhamdulillah terimakasih nak, bapak sudah memasukan uang ini ke dalam keresek yang cukup tebal kok” ucap Pak Hamzah dengan wajah berkaca-kaca. Ia tidak menyangka bahwa anak kecil yang sering jajan gorengan kepadanya bisa setulus ini membantu tanpa menghiraukan keselamatannya. Disaat orang lain sibuk menyelamatkan diri sendiri, anak sekecil ini malah datang bak pahlawan yang membawa secercah harapan saat dirinya putus asa. Ia bersyukur orang tua Mahwa mengizinkan anakanya untuk menolong.
Pak hamzah tersenyum lega, kemudian ia meletakkan kotak kayu itu di atas meja yang tempatnya paling tinggi dan kering.
“Terimaksih banyak nak, sekali lagi bapa mengucapkan terimaksih. Semoga kelak kamu menjadi anak yang berbakti dan semoga cita-citamu tercapai” ucap Pak Hamzah.
Tak berselang lama, orang tua Mahwa datang bersama tetangga lainnya. Bu Imas digendong oleh ayah Mahwa, kemudian Mahwa membantu memakaikan selimut kering ke tubuh Bu Imas agar tidak kedinginan. Yang lainnya membantu membawa barang berharga Pak Hamzah, untuk sementara mereka mengungsi di rumah Mahwa.
Setelah sampai, Pak Hamzah dan Bu Imas istirahat di lantai kamar atas. Bu Imas dibaringkan di kasur dan diberikan selimut yang lebih tebal. Mahwa membuatkan teh hangat dan kue roma sebagai pengganjal lapar. Setelah memastikan Pak Hamzah dan Bu Imas aman, Mahwa langsung terbaring di atas sofa, kelelahan.
Pak Hamzah menghampiri Mahwa sambil memeluknya “Kamu benar-benar pahlawan kecil, kamu sudah menyelamatkan kami berdua dan tabungan kami harapan satu-satunya. Terimaksih yang tak terhingga, nak”
Mahwa tersenyum tipis, dingin di telapak tangannya tak sebanding dengan kehangatan di hatinya. “Sama-sama pak” ucap Mahwa.
Melihat pemandangan ini, Ibu Mahwa bangga melihat anak sulungnya begitu peduli terhadap sesama. Walaupun Mahwa tidak pintar secara akademik, namun ia memiliki hati yang mulia untuk menolong tetangganya yang sedang kesusahan. Inilah yang lebih dibanggakan oleh orang tua, yaitu memiliki anak yang berkarakter berlandaskan Pancasila.
Bela negara itu bukan hanya angkat senjata menjaga Tanah Air dari ancaman musuh, tetapi juga bisa membantu tetangga kita yang sedang kesulitan. Hari ini kita belajar bahwa keberanian dan kepedulian yang tinggi terhadap sesama dalam bentuk bantuan sekecil apapun adalah bentuk cinta terhadap Tanah Air. Kita bisa bermanfaat bagi orang lain merupakan aksi nyata saling tolong menolong antar sesama.












Tinggalkan Balasan