Literatura Nusantara

Membumikan Sastra Melangitkan Kata

Nyai Dasima: Mitos Tragis di Batavia

[Sumber gambar: AI]

Penulis: Heri Isnaini

Di kota yang dahulu bernama Batavia, cerita sering lahir dari lorong-lorong sunyi, dari rumah-rumah besar yang dindingnya menyimpan bisik masa lalu. Salah satu cerita itu adalah kisah Nyai Dasima, perempuan yang namanya seperti gema yang tidak pernah benar-benar hilang dari ingatan kota.

Kita mengenalnya dari sebuah cerita lama berjudul Tjerita Njai Dasima, yang ditulis oleh G. Francis pada akhir abad ke-19. Tetapi cerita ini sebenarnya lebih tua daripada teksnya. Ia seperti legenda yang beredar secara tradisional dari mulut ke mulut (oral traditions), dari warung kopi ke halaman rumah, dari bisikan tetangga ke gosip kota.

Di sana, Nyai Dasima tidak hanya hadir sebagai tokoh cerita. Ia perlahan berubah menjadi mitos tragis dari sebuah zaman.

Nyai Dasima adalah perempuan bumiputra yang hidup di persimpangan dunia. Ia berada di antara kemakmuran dan keterasingan, antara kasih dan kepemilikan. Dalam struktur kolonial, perempuan seperti dirinya disebut nyai, yaitu pasangan tidak resmi laki-laki Eropa yang hidup di rumah besar tetapi tanpa nama yang sah dalam hukum maupun sejarah.

Maka kehidupan Nyai Dasima sesungguhnya adalah kehidupan yang berdiri di atas tanah rapuh. Ia diberi rumah, pakaian, dan kemewahan, tetapi semua itu seperti bayang-bayang yang dapat hilang sewaktu-waktu. Ia hidup di dalam rumah kolonial, tetapi tidak pernah benar-benar menjadi bagian dari dunia yang menaunginya.

Di titik inilah tragedi itu mulai terasa seperti takdir. Cerita tentang Nyai Dasima sering dibaca sebagai kisah moral, yaitu tentang perempuan yang tergoda bujukan, tentang kesalahan yang membawa petaka. Tetapi jika kita menatapnya lebih lama, cerita itu berubah menjadi sesuatu yang lain, sebuah potret sunyi tentang bagaimana sistem kolonial membentuk kehidupan manusia.

Nyai Dasima bukan sekadar tokoh yang jatuh karena kesalahan pribadi. Ia adalah perempuan yang hidup dalam jaringan kuasa yang lebih besar daripada dirinya, yakni kuasa ekonomi, kuasa rasial, kuasa moral, dan kuasa patriarki. Dalam dunia seperti itu, pilihan-pilihan hidup sering kali tidak benar-benar menjadi pilihan.

Barangkali karena itulah cerita ini terus bertahan. Ia tidak hanya berbicara tentang satu perempuan di masa lampau, tetapi tentang luka sosial yang pernah menjadi bagian dari sejarah kota.

Kota sendiri pun seperti mengingatnya. Di jalan-jalan tua Batavia, di rumah-rumah kolonial yang kini berubah fungsi, bayangan Nyai Dasima seolah masih berjalan perlahan. Ia menjadi simbol dari banyak perempuan yang hidup di sela-sela sejarah, terlihat tetapi tidak tercatat, hadir tetapi tidak diakui.

Tragedinya bukan hanya tragedi pribadi, melainkan juga tragedi sebuah zaman. Mungkin itulah sebabnya cerita Nyai Dasima terus diceritakan kembali baik dalam buku, teater, film, maupun dalam cerita rakyat kota. Setiap zaman menemukan cara baru untuk membacanya. Namun, di balik semua tafsir itu Nyai Dasima telah berubah dari tokoh cerita menjadi mitos Batavia.

Mitos yang mengingatkan kita bahwa di balik kemegahan kota kolonial, selalu ada kisah-kisah sunyi yang menunggu untuk didengar kembali.

Bandung, 15 Maret 2026


Eksplorasi konten lain dari Literatura Nusantara

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Categories:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *