Literatura Nusantara

Membumikan Sastra Melangitkan Kata

Nisa Fitria

Nisa Fitria lahir pada suatu November, bulan ketika hujan sering turun pelan dan waktu terasa lebih lambat. Barangkali dari sanalah kecintaannya pada sunyi bermula—sunyi yang ia temukan dalam halaman-halaman buku, dalam kata-kata yang ditulis dengan sabar, dan dalam gerak tubuh yang ia jaga melalui olahraga. Membaca, menulis, dan bergerak baginya bukan sekadar hobi, melainkan cara untuk merawat diri, mengendapkan perasaan, dan memahami dunia dengan lebih jujur. Sejak dini, Nisa percaya bahwa kata-kata memiliki ingatan. Karena itu ia menulis— bukan untuk sekadar bercerita, melainkan untuk meninggalkan jejak. Ia bermimpi suatu hari memiliki sebuah perpustakaan; bukan perpustakaan yang megah oleh bangunan, melainkan kaya oleh karya. Di sana, buku-buku karyanya sendiri akan berdiri berdampingan, menjadi saksi bahwa mimpi dapat tumbuh dari kesetiaan pada proses dan cinta pada bahasa.

Saat ini, Nisa menempuh pendidikan di IKIP Siliwangi, Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Di ruang akademik itulah ia belajar melihat sastra bukan hanya sebagai keindahan, tetapi juga sebagai pengetahuan, tanggung jawab, dan cara memahami manusia. Ia percaya bahwa bahasa tidak hanya diajarkan, melainkan dihidupi—dengan rasa, dengan kepekaan, dan dengan keberanian untuk jujur pada diri sendiri.

Bagi Nisa, menulis adalah pulang. Ia adalah tempat di mana kenangan disimpan, kegelisahan diberi nama, dan harapan dibiarkan tumbuh perlahan. Seperti puisi yang tidak selalu selesai dalam sekali baca, perjalanan hidupnya pun masih panjang—namun ia melangkah dengan keyakinan: bahwa selama kata-kata masih setia padanya, ia akan terus menulis, dan terus menemukan dirinya di antara baris-baris yang ia ciptakan.


Eksplorasi konten lain dari Literatura Nusantara

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Categories:

Satu tanggapan untuk “Nisa Fitria”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *