Literatura Nusantara

Membumikan Sastra Melangitkan Kata

Nasihat Bu Dina

[Sumber gambar: AI]

Penulis: Silvani Dwi Ardini

Sore hari, suasana sekolah mulai sunyi. Langit mulai berwarna jingga perlahan, dan tak lama kemudian adzan Asar berkumandang merentang di udara. Rena duduk sendiri di bangku depan SD-nya, wajahnya sedikit lesu karena sudah terlalu lama menunggu ayahnya. Dia melihat ke kiri dan kanan semua anak sudah pulang, tak ada yang tersisa lagi. Tiba-tiba, matanya menyala ketika melihat seorang tukang balon keliling berdiri di seberang jalan. Dia segera beranjak, tapi langkahnya terhenti ketika ada yang menepuk bahunya dengan lembut.

‘Puk!’

“Loh Rena, mau kemana nih?” suara Bu Dina terdengar dari belakang. Guru itu sebenarnya sudah memperhatikan Rena dari kejauhan mulai dari wajah yang ceria sampai yang makin lesu. Setiap hari, Rena selalu menunggu di depan sekolah untuk dijemput ayah atau kakaknya. Jadi, ketika melihat Rena mau berjalan sendirian padahal ayah belum datang, Bu Dina langsung mendekatinya.

“Eh Bu Dina! Bikin kaget Rena aja,” ujar Rena sambil membalik badan, wajahnya sedikit malu.

“Itu bu,” ucap Rena sambil menunjuk ke arah tukang balon di seberang jalan

“Oh, maaf ya nak. Jadi kaget, kok mau beli balon sih?” tanya Bu Dina, melihat pandangan Rena yang masih tertuju ke seberang jalan.

“Iya Bu, Rena mau beli balon. Uangnya ada loh!” Rena memperlihatkan uang 2 ribu yang ia genggam erat di tangan kecilnya.

Bu Dina mengelus kepala Rena yang tertutup hijab putih dengan penuh kasih. Pagi tadi, dia  melihat anak-anak di kelas 2 (kelas Rena) sedang bercerita dengan nada sombong khas anak-anak yang dimana balon itu didapat dari toko ayam geprek yang baru buka. “Rena, ibu tanya ya, apakah Rena sangat ingin beli balon itu, atau cuma karena Sherlly dan teman-temannya selalu pamer jadi Rena juga mau?”

Rena terdiam sejenak, suaranya terputus-putus. “Heem… i-itu…”

“Jangan ragu ngomong, nak. Tidak apa-apa kalau Rena sungguh menginginkannya,” kata Bu Dina sambil menurunkan badannya agar tinggi dirinya sejajar dengan Rena.

Akhirnya, Rena mengaku dengan suara pelan. “Aslinya Rena tidak terlalu ingin, tapi Sherlly dan teman-teman selalu tunjukin balon besar di rumah. Jadi Rena juga mau beli, biar tidak ketinggalan dan bisa pamer juga.”

 “Hey nak, menurut Rena, perilaku Sherlly dan kawan-kawannya itu baik untuk diikuti?” tanya Bu Dina. Rena hanya menatapnya dengan pandangan bingung. Bu Dina pun merasa gemas melihat wajah si kecil itu.

Kemudian, Bu Dina membawa Rena kembali duduk di bangku tadi, dan menjelaskan dengan pelan agar mudah dipahami. “Rena, dengar ya. Sifat pamer yang Sherlly tunjukkan itu tidak bagus untuk di contoh. Di Islam, pamer dengan niat sombong atau ingin dipuji itu haram loh. Bisa menghapus pahala dan mendatangkan murka Allah.”

Bu Dina menatap Rena dengan tatapan hangat. “Rena mau Allah murka sama Rena?” Tanya Bu Dina kepada Rena

“Gakkk mauuu Bu!” jawab Rena cepat sambil menggelengkan kepala kencang.

“Nah, baguss. Tapi kalau Rena ingin beli balon tanpa niat pamer, cuma buat senang sendiri karena sudah berjuang dapet nilai A itu tidak apa-apa, asal selalu syukur ke Allah. Mengerti?”

“Ngertii Buu!” Rena menjawab dengan mata yang cerah.

“Kalau begitu, gimana kalau Rena tabung aja uang itu? Nanti kalau ada keadaan darurat, bisa dipake loh.”usul bu dina kepada rena

Rena mengerutkan alisnya. “Tapi Bu, 2 ribu bisa buat apa saat darurat?”

“Bisa banget! Contohnya, kalau Rena jatuh atau tergores, bisa beli plester. Atau kalau Rena selalu tabung setiap ada sisa uang, nanti celengannya akan menggunung. Bisa untuk kebutuhan Rena nanti, dan uangnya akan banyak!” Bu Dina mencolek hidung Rena dengan gemas, membuat Rena tertawa.

“Ouhh begituu buuu! Okey deh, nanti Rena tabung biar banyakk uang hahaha!” Rena tertawa bahagia, dan Bu Dina pun ikut tertawa bareng Rena.

Perbincangan mereka begitu menyenangkan sampai seseorang mendekati dari belakang. “Rena!”

Suaranya tak asing bagi Rena. Dia langsung membalik badan dan berteriak, “Papahhhh!” sambil melompat-lompat dan memeluk ayahnya erat. Bu Dina berdiri dan menyapa ayah Rena dengan sopan.

Kemudian, Rena pulang dengan papahnya, bercerita dengan riang tentang nasihat Bu Dina dan keputusannya untuk menabung, semua itu terlihat oleh Bu Dina yang tersenyum puas melihat muridnya yang sudah memahami arti kebaikan.

Dari cerpen di atas dapat kita pelajari bahwa sifat pamer dan riya adalah perilaku yang tidak baik sesuai ajaran islam. Niat menjadi kunci dalam setiap perbuatan yang dia pilih, kebiasaan hemat dan menabung berharga bagi masa depan dan membentuk tanggung jawab keuangan, serta guru memiliki peran krusial sebagai pembimbing akhlak selain mengajar akademik.


Eksplorasi konten lain dari Literatura Nusantara

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Categories:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *