Literatura Nusantara

Membumikan Sastra Melangitkan Kata

Musyawarah Burung, Simurgh, dan Dewa Ruci

[Sumber gambar: https://antimateri.com/]

Penulis: Heri Isnaini

Fariduddin ‘Attar tidak sedang bercerita tentang burung. Ia sedang berbicara tentang kita, tentang manusia yang terlalu sering menyangka bahwa makna hidup berada di tempat yang jauh, tinggi, dan asing. Musyawarah Burung bukan kisah perjalanan menuju puncak, melainkan narasi peluruhan, tentang bagaimana segala yang kita banggakan harus runtuh sebelum sesuatu yang lain, yang lebih sunyi, mungkin menyala.

Sejak awal, ‘Attar sudah menanamkan kegelisahan mendasar. Burung-burung berkumpul karena mereka merasa kehilangan arah, kehilangan pemimpin, kehilangan pusat. Mereka ingin seorang raja. Mereka ingin Simurgh. Dalam satu bagian dikatakan:

“Kita semua memiliki raja, tetapi kita tidak mengenalnya.”

Kalimat ini sederhana, tetapi diam-diam memukul. Bukankah manusia modern hidup dalam kegelisahan yang sama? Kita merasa ada sesuatu yang seharusnya memimpin hidup, tetapi kita tak pernah benar-benar tahu di mana ia berdiam. Kita hidup sambil mencari, tetapi tidak pernah sungguh-sungguh memahami apa yang kita cari.

Hudhud, sang pemimpin rombongan, tidak hadir sebagai penghibur. Ia berbicara dengan nada mengguncang. Jalan menuju Simurgh, katanya, adalah jalan yang akan menghabiskan diri. Tidak ada janji keselamatan instan. Tidak ada spiritualitas yang ramah. Tentang jalan itu, ‘Attar menulis:

“Jalan ini penuh bahaya. Banyak kepala akan tertinggal, banyak sayap akan patah.”

Dalam sufisme ‘Attar, kehilangan bukan efek samping. Ia adalah syarat utama.

Tujuh Lembah dan Keruntuhan Kepastian

Perjalanan melewati tujuh lembah bukanlah kurikulum spiritual yang rapi. Ia lebih menyerupai proses pembongkaran identitas. Di Lembah Cinta, misalnya, cinta tidak hadir sebagai kehangatan, melainkan sebagai api:

“Cinta datang seperti api, membakar akal dan kehati-hatian.”

Akal, yang sering kita banggakan sebagai penopang hidup, justru menjadi beban. Semakin seseorang bergantung pada kepastian rasional, semakin sulit ia melangkah. Lalu datang Lembah Kebingungan, bagian paling manusiawi sekaligus paling menakutkan:

“Di lembah ini, engkau tak tahu siapa dirimu, dari mana datangmu, dan ke mana pergimu.”

Bukankah ini gambaran paling jujur tentang kondisi eksistensial manusia? Saat semua konsep runtuh, semua identitas retak, dan kita dipaksa berdiri di hadapan kehampaan tanpa pegangan apa pun.

Simurgh: Sosok yang Tidak Pernah Datang

Jika Musyawarah Burung hanya dibaca sebagai kisah perjalanan spiritual, Simurgh akan tampak sebagai tujuan akhir, yakni raja agung, pusat kosmos, simbol Tuhan. Namun ‘Attar terlalu cerdas dan terlalu kejam untuk sekadar menghadirkan sosok ilahi yang siap menyelamatkan.

Simurgh tidak pernah digambarkan secara fisik. Ia bersemayam di Gunung Qaf, tempat yang tak terjangkau oleh pikiran:

“Simurgh bersemayam jauh di puncak Qaf, dan jalan ke sana tak terjangkau oleh pikiran.”

Simurgh bukan objek pengetahuan. Ia adalah pemicu kegelisahan. Ia membuat burung-burung bergerak bukan karena kepastian akan menemukannya, melainkan karena ketiadaannya terasa tak tertahankan.

Dalam pembacaan yang lebih dalam, Simurgh bukan “Tuhan” dalam pengertian teologis yang mapan. Ia adalah hasrat metafisik manusia, yaitu keinginan menemukan pusat, legitimasi, dan makna. Karena itu Hudhud mengingatkan:

“Barang siapa datang membawa keakuannya, ia takkan sampai.”

Simurgh bukan tujuan. Ia adalah alat penyaring.

Simurgh dan Dewa Ruci: Cermin yang Sama

Jika Musyawarah Burung dibaca dari jarak budaya Persia, Simurgh tampak metafisik dan asing. Namun ketika dibaca dari lanskap kebudayaan Nusantara, melalui kisah Bima Suci atau Dewa Ruci, Simurgh terasa akrab, seperti gema lama yang pernah kita dengar.

Bima diperintahkan mencari tirta pawitra, air kehidupan. Perintah itu mulia, tetapi tidak pernah dijelaskan sepenuhnya. Ia menempuh hutan, gunung, dan samudra, seperti burung-burung ‘Attar yang bergerak tanpa kepastian.

Di tengah lautan, Bima bertemu Dewa Ruci: sosok kecil, sunyi, nyaris mengecewakan secara visual. Puncaknya terjadi ketika Bima diperintahkan masuk ke dalam tubuh Dewa Ruci sendiri.

Di sinilah intertekstualitas bekerja.

Simurgh tidak tampil megah. Dewa Ruci tidak hadir sebagai dewa besar. Keduanya mengkhianati ekspektasi pencari. Yang dicari dengan perjalanan jauh justru hadir sebagai pembalikan total arah pencarian.

Burung-burung mengira akan menemukan Simurgh sebagai entitas lain. Bima mengira air kehidupan adalah benda. Keduanya salah. Yang mereka temukan adalah diri yang telah luluh.

Fana dan Manunggaling: Masuk ke Diri

Apa yang disebut ‘Attar sebagai fanā’, dalam tradisi Jawa dikenal sebagai manunggaling kawula lan Gusti. Ego tidak dihancurkan secara kasar, melainkan dilarutkan.

Bima tidak menjadi Tuhan. Burung-burung tidak menjadi Simurgh dalam pengertian kuasa. Yang terjadi adalah penghilangan jarak antara pencari dan yang dicari. Simurgh dan Dewa Ruci berfungsi sebagai cermin terakhir bukan untuk memantulkan kebesaran, tetapi untuk meniadakan keakuan.

Mereka bukan lagi tokoh. Mereka adalah ambang. Ada horor sunyi dalam kedua kisah ini. Masuk ke tubuh Dewa Ruci berarti kehilangan tubuh, orientasi, dan identitas. Berdiri di hadapan Simurgh berarti menyadari bahwa tidak ada apa-apa selain diri yang telah hancur.

Tidak ada sorak kemenangan. Tidak ada pengakuan. Yang ada hanyalah kesadaran sunyi bahwa segala yang dikejar tidak bisa dimiliki.

‘Attar membisikkan:

“Engkau mencari-Nya, padahal engkau adalah pencarian itu sendiri.”

Pencarian yang Tidak Pernah Usai

Simurgh adalah sosok yang sangat modern. Kita mencarinya dalam karier, ideologi, pengakuan, bahkan spiritualitas. Namun seperti burung-burung ‘Attar dan Bima dalam samudra batinnya, kita sering lupa bahwa yang paling berat bukanlah perjalanan jauh, melainkan keberanian menatap diri yang telah kosong.

Simurgh tidak pernah datang.
Dewa Ruci tidak pernah menjauh.

Keduanya hanya memastikan satu hal bahwa manusia harus berjalan cukup jauh, hingga akhirnya berani masuk ke dalam dirinya sendiri dan kehilangan semua yang selama ini ia sebut sebagai “aku”.

Dan mungkin, di situlah sastra sufistik bekerja paling dalam, bukan sebagai jawaban, melainkan sebagai cermin
yang memaksa kita bertanya ulang, dengan suara yang lebih jujur, siapa sebenarnya yang selama ini kita cari.

Bandung, 7 Februari 2026


Eksplorasi konten lain dari Literatura Nusantara

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Categories:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *