
[Sumber gambar: https://www.detik.com/]
Penulis: Heri Isnaini
Waktu saya masih sekolah, MTV bukan sekadar saluran televisi. Ia adalah ruang belajar alternatif, yang tanpa kurikulum, tanpa ujian, tetapi diam-diam membentuk selera, bahasa, dan cara memandang dunia. Sepulang sekolah, atau menjelang magrib, televisi sering menyala bukan untuk berita, melainkan untuk menunggu klip musik diputar.
MTV mengajarkan kami satu hal penting: musik bukan hanya bunyi, tetapi gaya hidup. Dari situ kami belajar bahwa lagu punya wajah, warna, busana, dan gestur. Rambut gondrong, jaket kulit, kaos band, hingga cara berdiri di depan kamera semuanya terasa baru dan jauh dari dunia sekolah yang seragam dan disiplin.
Acara-acara seperti MTV Ampuh, MTV Most Wanted, atau MTV Request menjadi ritual harian. Menunggu lagu favorit diputar adalah latihan kesabaran. Tidak ada skip, tidak ada on demand. Ketika akhirnya klip itu muncul, ada rasa puas yang tidak bisa digantikan oleh algoritma hari ini. Kami menonton dengan penuh perhatian, karena kami tahu, jika lengah, momen itu hilang.

Para VJ MTV waktu itu juga memiliki karisma khas. Mereka tidak terasa seperti penyiar televisi, tetapi seperti kakak kelas yang keren, bahasanya santai, kadang campur Inggris, kadang sok cuek, tetapi justru itulah daya tariknya. Dari mereka, kami belajar bahasa populer: istilah, intonasi, bahkan cara bercanda. MTV menjadi kamus budaya urban yang tidak tertulis.
Musik yang hadir pun lintas genre dan lintas batas. Dari grunge, pop, rock alternatif, hingga hip-hop yang semuanya berseliweran tanpa perlu label. Kami mengenal Nirvana, Pearl Jam, Backstreet Boys, Spice Girls, hingga band-band lokal yang mulai naik daun. MTV membuat dunia terasa lebih luas, seolah ada kehidupan lain di luar gang rumah dan ruang kelas.
Yang menarik, MTV juga membentuk kesadaran visual. Klip musik memperkenalkan simbol, metafora, dan narasi singkat yang kadang tidak kami pahami sepenuhnya, tetapi terasa “bermakna”. Belakangan, ketika saya menekuni sastra dan budaya, saya sadar banyak kepekaan membaca teks visual itu tumbuh dari kebiasaan menonton klip MTV.

Kini, ketika musik bisa diakses kapan saja dan di mana saja, pengalaman menonton MTV terasa seperti sesuatu yang hilang. Bukan karena musiknya lebih baik atau lebih buruk, melainkan karena ritual kolektifnya sudah lenyap. Dulu, kami menonton bersama, meski di rumah masing-masing, pada jam yang sama, menunggu lagu yang sama.
MTV di masa sekolah adalah penanda zaman yang hadir di sela tugas sekolah, PR yang belum selesai, dan mimpi-mimpi kecil tentang dunia yang lebih luas. Ia tidak mengajarkan teori, tetapi membentuk rasa. Dan kadang, rasa itulah yang paling lama tinggal.
Mungkin itulah sebabnya, setiap kali mendengar lagu lama atau melihat potongan klip dari era itu, saya tidak hanya mengingat musiknya. Saya mengingat diri saya sendiri, anak sekolah yang sedang belajar mengenali dunia, satu lagu demi satu lagu.
Bandung, 1 Februari 2026











Tinggalkan Balasan