Literatura Nusantara

Membumikan Sastra Melangitkan Kata

Menyusuri Jejak Karier Melalui Pendidikan: Kisah Apt. Hendro Sulistiono dan Diskusi Bersama Kaprodi PBSI IKIP Siliwangi

[Sumber gambar: Dokumentasi PBSI IKIP Siliwangi]

Penulis: Heri Isnaini

Dalam dunia profesional, jalur karier sering kali dipandang sebagai sebuah peta yang linear: sekolah, kuliah, bekerja, lalu meniti tangga jabatan hingga mencapai posisi tertentu. Namun, kisah karier Apt. Hendro Sulistiono, S. Ked., S. Farm., S. Pd., MBA. justru menunjukkan hal sebaliknya. Perjalanan beliau membuktikan bahwa pendidikan bukan hanya sekadar tiket menuju satu profesi tertentu, melainkan fondasi yang membuka berbagai kemungkinan lintasan karier.

Hendro Sulistiono adalah sosok yang unik. Ia mengenyam pendidikan lintas bidang: kedokteran, farmasi, pendidikan, hingga manajemen bisnis. Rentetan gelar akademik yang disandangnya tidak sekadar simbol prestasi, tetapi bukti nyata bahwa kehausan akan ilmu dapat menjadi modal berharga untuk memperluas cakrawala karier. Dengan bekal keilmuan tersebut, Hendro tidak hanya memahami dunia kesehatan dan farmasi, tetapi juga menguasai teori serta praktik pendidikan. Akhirnya, ia memilih jalur pengabdian sebagai guru lulusan IKIP Siliwangi. Pilihan ini seolah menegaskan bahwa karier bukan sekadar soal prestise, melainkan tentang menemukan ruang pengabdian yang paling bermakna.

Dalam Podcast  PBSI IKIP Siliwangi yang dipandu oleh Heri Isnaini, Hendro membagikan refleksinya tentang perjalanan panjang tersebut. “Saya percaya bahwa setiap ilmu yang dipelajari pasti akan berguna pada waktunya,” ujarnya dengan penuh keyakinan. “Mungkin saya memulai dari farmasi dan kedokteran, lalu belok ke pendidikan, tapi ujungnya tetap sama: saya ingin membagikan ilmu kepada orang lain.” Kutipan ini menunjukkan bahwa orientasi karier Hendro tidak hanya ditentukan oleh bidang studi awal, melainkan oleh panggilan untuk mengabdi dan berbagi.

Hal menarik lainnya muncul ketika Kaprodi PBSI IKIP Siliwangi, Diena San Fauziya, M.Pd., turut bergabung dalam diskusi. Ia menegaskan pentingnya sektor pendidikan sebagai jalur karier yang jelas dan berkelanjutan. “Profesi guru adalah profesi yang tidak akan lekang oleh waktu. Dunia boleh berubah, teknologi boleh maju, tapi kebutuhan akan pendidikan dan guru selalu ada,” ungkapnya. Pernyataan ini meneguhkan pandangan bahwa pendidikan adalah fondasi dari segala pembangunan bangsa.

Podcast  ini pun menyajikan refleksi penting bagi mahasiswa dan generasi muda. Bahwa karier tidak melulu harus lurus dan sesuai dengan disiplin ilmu yang pertama kali dipelajari. Sebaliknya, karier adalah hasil dialog antara pengetahuan, pengalaman, dan panggilan hati. Hendro Sulistiono yang memulai dari jalur medis dan farmasi, lalu bertransformasi menjadi pendidik, merupakan contoh nyata bagaimana pendidikan dapat mengantarkan seseorang pada tujuan hidup yang lebih luas: memberi manfaat bagi orang lain.

Dari kisah ini, kita belajar bahwa pendidikan sejatinya bukan akhir, melainkan pintu menuju berbagai jalan. Diskusi dengan Hendro dan Diena San Fauziya memperlihatkan bahwa sektor pendidikan adalah salah satu jalur karier yang paling kokoh, karena ia menyangkut regenerasi pengetahuan, pembentukan karakter, dan pembangunan bangsa. Dengan demikian, perjalanan karier seorang individu, betapapun berliku, selalu memiliki makna jika berorientasi pada kebermanfaatan.

Cimahi, 24 September 2025


Eksplorasi konten lain dari Literatura Nusantara

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Categories:

2 tanggapan untuk “Menyusuri Jejak Karier Melalui Pendidikan: Kisah Apt. Hendro Sulistiono dan Diskusi Bersama Kaprodi PBSI IKIP Siliwangi”

  1. Avatar Nakula Sadewa
    Nakula Sadewa

    Hayu, kuliah di PBSI IKIP Siliwangi

  2. Avatar Nisa Fitria
    Nisa Fitria

    Saya membaca dua hal penuh motivasi yang menggebu-gebu disini, katanya “Saya percaya bahwa setiap ilmu yang dipelajari pasti akan berguna pada waktunya”, dan “Profesi guru adalah profesi yang tidak akan lekang oleh waktu”. Tentu saja pasti kita semua sudah berpikiran bahwa dua hal tersebut saling berkaitan, bahwa ilmu bagai benih yang ditanam dalam tanah waktu, pastilah ia butuh masa untuk tumbuh dan berbuah. Lalu, guru berdiri sebagai benteng pelestari (ilmu) yang tak akan pernah pudar.

    Dari sini kita juga mengerti, lintas bidang bukan saja tentang kelabilan semata, tetapi hal itu bisa saja menjadi sebuah keseriusan yang telah kita pilih dan rencanakan.

    Sekian..
    Salam hangat untuk IKIP Siliwangi, Nisaft<3

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *