
[Sumber gambar: https://cakapmedia.com/]
Penulis: Waida Nurhasanah
Pondok pesantren merupakan salah satu lembaga pendidikan Islam tertua di Indonesia yang memiliki peran penting dalam pembentukan karakter, penguatan spiritualitas, dan transmisi keilmuan Islam. Sejak awal perkembangannya, pesantren dikenal sebagai pusat pengkajian kitab-kitab klasik Islam yang lazim disebut kitab kuning. Kitab kuning tidak hanya berfungsi sebagai sumber rujukan keilmuan, tetapi juga menjadi simbol kesinambungan tradisi intelektual Islam yang diwariskan secara turun-temurun dari para ulama kepada santri melalui metode pembelajaran khas pesantren. Oleh sebab itu, kitab kuning menjadi identitas yang tidak terpisahkan dari dunia pesantren.
Di tengah arus modernisasi dan pesatnya perkembangan teknologi, pesantren dihadapkan pada tantangan untuk tetap relevan dengan kebutuhan zaman tanpa kehilangan jati dirinya. Modernisasi pendidikan membawa berbagai perubahan, seperti penerapan kurikulum formal, sistem pembelajaran yang lebih terstruktur, serta pemanfaatan teknologi dalam proses belajar mengajar. Kondisi ini menuntut pesantren untuk beradaptasi secara bijak sekaligus menjaga nilai-nilai tradisional yang telah lama menjadi ciri khasnya. Salah satu tantangan terbesar pesantren modern adalah mempertahankan tradisi pembelajaran kitab kuning agar tidak terpinggirkan oleh tuntutan pendidikan formal dan sistem pendidikan modern.
Pelestarian kitab kuning menjadi sangat penting karena kitab-kitab tersebut memuat khazanah keilmuan Islam klasik yang mencakup berbagai disiplin ilmu, seperti fikih, tafsir, hadis, akidah, akhlak, dan tasawuf. Melalui pembelajaran kitab kuning, santri tidak hanya memperoleh pemahaman keagamaan yang mendalam, tetapi juga dilatih untuk berpikir kritis, sistematis, dan metodologis. Dengan demikian, keberlanjutan tradisi kitab kuning menjadi indikator penting dalam menjaga kesinambungan keilmuan Islam di lingkungan pesantren.
Pondok Pesantren Modern Al-Jumhuriyah Subang merupakan salah satu pesantren yang berupaya menjawab tantangan tersebut. Meskipun mengusung konsep pendidikan modern, Al-Jumhuriyah tetap menjadikan pembelajaran kitab kuning sebagai bagian integral dari sistem pendidikannya. Pesantren ini memadukan pendidikan formal dengan tradisi keilmuan pesantren salaf, sehingga mampu menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman tanpa meninggalkan akar tradisinya. Dalam konteks ini, Al-Jumhuriyah menjadi contoh menarik tentang bagaimana pesantren modern dapat mempertahankan identitasnya melalui pelestarian kitab kuning.
Pelestarian tradisi kitab kuning di Pondok Pesantren Modern Al-Jumhuriyah Subang diwujudkan melalui penerapan metode Amtsilati. Metode ini dirancang sebagai cara yang cepat dan sistematis untuk membaca serta memahami kitab kuning dengan merujuk pada kitab-kitab klasik, seperti Alfiyah Ibnu Malik, Jurumiyah, Imriti, dan kitab-kitab nahwu lainnya. Pemilihan metode Amtsilati didasarkan pada pertimbangan efektivitas dan kemudahan bagi santri, tanpa menghilangkan esensi keilmuan kitab klasik. Dengan penjelasan yang ringkas, bahasa yang mudah dipahami, serta struktur pembelajaran yang teratur, metode ini membantu santri memahami kitab kuning secara lebih praktis dan kontekstual.
Selain metode Amtsilati, Pondok Pesantren Modern Al-Jumhuriyah juga menerapkan program tafaqquh fiddin sebagai bentuk pendalaman ilmu agama secara intensif. Program ini memfokuskan seluruh aktivitas santri pada pengkajian kitab kuning tanpa dikombinasikan dengan pendidikan formal. Melalui pendekatan ini, santri diarahkan untuk memahami ajaran Islam secara mendalam dan komprehensif, sehingga tradisi pengkajian kitab kuning tetap terjaga sebagai inti pendidikan pesantren.
Strategi integrasi antara sistem pendidikan modern dan pembelajaran kitab kuning di Al-Jumhuriyah dilakukan dengan memasukkan kajian kitab kuning ke dalam jadwal kegiatan belajar mengajar (KBM) pesantren. Pembelajaran kitab kuning dilaksanakan melalui kegiatan ma’hadiyah yang dijadwalkan pada waktu subuh, jam pertama KBM, sore, dan malam hari. Pengaturan waktu ini menunjukkan adanya keseimbangan antara pendidikan formal dan pendidikan kepesantrenan, sehingga keduanya dapat berjalan secara beriringan tanpa saling meniadakan.
Meski demikian, Pondok Pesantren Modern Al-Jumhuriyah Subang tetap menghadapi berbagai tantangan dalam mempertahankan tradisi kitab kuning, salah satunya adalah menurunnya minat dan semangat sebagian santri dalam mendalami kajian kitab kuning. Perubahan pola belajar serta pengaruh budaya modern menjadi faktor yang memengaruhi kondisi tersebut. Untuk mengatasi tantangan ini, pesantren melakukan berbagai upaya inovatif, seperti penggunaan kitab yang telah dilengkapi harakat agar lebih mudah dibaca, pengenalan istilah-istilah penting dan kata kunci dalam kitab, serta pemberian tugas kreatif seperti pembuatan majalah dinding dan mind mapping. Selain itu, pembelajaran kitab kuning juga diperkuat dengan praktik langsung, seperti praktik wudu, tayamum, dan pengurusan jenazah, yang kemudian dijadikan bagian dari evaluasi pembelajaran.
Berbagai upaya tersebut terbukti mampu meningkatkan keterlibatan aktif santri dalam proses pembelajaran dan menumbuhkan kembali minat mereka terhadap kajian kitab kuning. Dengan pendekatan yang adaptif dan inovatif, Pondok Pesantren Modern Al-Jumhuriyah Subang menunjukkan bahwa tradisi kitab kuning dapat tetap lestari di tengah arus modernisasi pendidikan. Pesantren ini tidak hanya berperan sebagai lembaga pendidikan Islam, tetapi juga sebagai penjaga warisan keilmuan Islam klasik yang tetap relevan dengan kebutuhan zaman. Melalui integrasi yang seimbang antara sistem modern dan tradisi pesantren, Al-Jumhuriyah mampu mempertahankan identitas kepesantrenan sekaligus menyiapkan santri yang berilmu, berakhlak, dan siap menghadapi tantangan masa depan.












Tinggalkan Balasan