
[Sumber gambar: Dokumentasi penulis]
Penulis: Alya Fadilah
Judul Buku : Gurunya Manusia: Menjadikan Semua
Anak Istimewa dan Semua Anak Juara
Penulis : Munif Chatib
Penerbit : Kaifa Learning
Kota Terbit : Bandung
Tahun Terbit : 2011
Jumlah halaman : xx + 253 halaman
Ukuran Buku : 19 × 24 cm
Pendahuluan
Buku ini merupakan solusi terhadap praktik mengajar tanpa melupakan sisi kemanusiaannya. Munif Chatib menyatakan bahwasannya bagian terpenting membangun “Sekolahnya Manusia” terletak pada sosok guru. Munif Chatib menekankan bahwa setiap anak itu istimewa dan juara, yang memiliki kecerdasan dan potensi yang berbeda-beda. Buku ini membahas mengenai praktik pendidik untuk bisa mengembangkan kecerdasan dan potensi anak yang beragam melalui strategi Multiple Intelligences (MI). Maka dari itu, dipilihnya buku ini karena gagasan dari Munif Chatib sangat relevan dengan tantangan pendidikan saat ini yang lebih berfokuskan pada nilai akhir, bukan pada proses.
Tentang Buku Ini
Buku ini merupakan hasil tulisan Munif Chatib karya keduanya setelah buku Sekolahnya Manusia. Munif Chatib menyelesaikan studi Distance Learning di Supercamp Oceanside California yang dipimpin oleh Bobbi DePorter, dengan tesisnya yang cukup menggemparkan berjudul “Islamic Quantum Learning”. Kemudian Munif Chatib menjalankan kuliah pasca-sarjana di kampus “The ring man on the right place” jurusan Pendidikan Anak Usia Dini, Universitas Negeri Jakarta. Ia merupakan seorang konsultan pendidikan. Hasil karyanya ini berisi gagasan-gagasan terhadap praktik pendidikan saat ini, di mana pendidik tidak berfokuskan pada proses belajar anak melainkan pada hasil akhirnya saja, yang dinilai tidak humanis.
Buku ini terdiri dari 5 bab yang perlu pembaca pahami dan refleksikan dengan baik sebagai panduan dalam mengajar.
Pada Bab 1, Munif Chatib membahas kualitas pendidikan di Indonesia pada tahun 2004 yang menduduki peringkat ke-102 dari 106 negara. Begitupun beberapa bidang seperti Matematika, Sains, Membaca, dan Problem Solving Indonesia menduduki peringkat paling rendah. Hal itu menjadi tantangan yang cukup serius bagi guru. Ia mengatakan bahwa tidak ada guru yang tidak mampu mengajar, selama dia selalu belajar dan mengikuti pelatihan-pelatihan untuk bisa mengembangkan kompetensi pedagogi, kepribadian, profesional, dan sosialnya.
Pada Bab 2, membahas mengenai syarat menjadi gurunya manusia. Langkah yang pertama yaitu, guru mengubah mindset bahwasannya setiap anak itu juara. Jauhkan pikiran dari berbagai labelling negatif terhadap murid, karena sebenarnya sejak anak terlahir ke dunia pun ia sudah menjadi juara. Maka dari itu, sebenarnya mengajar itu bukan serta merta karena tuntutan perkerjaan namun sebuah panggilan dari hati, sehingga guru mampu memahami kemampuan murid dari segi kognitif, psikomotorik, dan apektif. Serta seorang guru berani untuk terus menjelajah kemampuan murid.
Pada Bab 3, mengenai apersepsi yaitu membangun kesiapan anak sebelum pembelajaran inti dimulai dengan menghubungkan materi sebelumnya. Salah satunya mempersiapkan otak anak untukmasuki gelombang alfa-nya, yaitu salah satu gelombang otak di mana pada gelombang alfa ini anak berada pada kondisi yang sudah siap untuk menerima dan mengirim informasi (belajar). Beberapa cara untuk masuk ke dalam zona alfa yaitu dengan ice breaking, fun story, musik, ataupun brain gym.
Pada Bab 4, Menurut Howard Gardner (penemu teori multiple intelligences) kecerdasan tidak hanya kognitif saja, namun kecerdasan itu banyak dan beragam. Menurutnya ada 8 jenis kecerdasan, diantaranya kecerdasan linguistik, interpersonal, matematis-logis, naturalis, spasial-visual, intrapersonal, kinestetis, dan musikal. Setiap anak memiliki kecerdasan yang tidak bisa disama ratakan karena setiap individu memiliki kecerdasan dan potensi yang berbeda antar satu sama lainnya. Di sinilah Munif Chatib memberikan saran dan solusi bagaimana cara mengembangkan semua potensi anak yang beragam melalui strategi Multiple Intelligences (MI), yang terdiri dari berbagai macam strategi mengajar di dalamnya dengan setiap strateginya yang mendukung beberapa kecerdasan dalam pengembangan potensi anak yang beragam. Contohnya belajar melalui diskusi (mengembangkan kecerdasan linguistik dan interpersonal), klasifikasi (mengembangkan kecerdasan matematis-logis dan naturalis), ataupun sosiodrama (mengembangkan kecerdasan kinestetis, lingustik, dan interpersonal). Oleh karena itu, pendidik harus menentukan berbagai strategi mengajar yang sesuai dengan gaya belajar masing-masing anak sesuai dengan kecerdasan yang mereka miliki.
Pada Bab 5, Munif Chatib memberikan contoh membuat lesson plan atau Rancangan Persiapan Pembelajaran (RPP) yang kreatif. Munif Chatib selalu menuliskan special moment di setiap ia menemukan moment berharga pada saat pembelajaran. Contohnya anak yang semula selalu tidak mau menulis, tetapi disaat itu dia bersedia untuk menulis dengan sendirinya tanpa keterpaksaan. Special moment itu dapat terjadi pada setiap anak, oleh karena itu guru menjadi pendamping murid di sekolah untuk sama-sama menemukan special moment-nya anak.
Kelebihan dan Kekurangan
Buku ini memiliki banyak kelebihan dengan menjelaskan konsep pendidikan di Indonesia pada saat itu dengan memberikan solusi atas tantangan pendidikan yang masih relevan sampai saat ini. Buku ini memberikan pengetahuan mengenai ilmu mengajar disertai dengan contoh-contoh yang sangat aplikatif mengenai strategi yang dapat dilakukan guru dalam mengajar dengan beragam karakter dan potensi murid. Sehingga buku ini terasa menyentuh hati karena banyaknya menceritakan bagaimana Munif Chatib mengajar, yang menghadirkan interaksi antara guru dengan murid.
Secara umum, sebenarnya buku ini hampir tidak memiliki kekurangan. Hanya saja ada beberapa kata atau istilah pendidikan yang tidak dijelaskan secara rinci sehingga bagi calon pendidik akan terasa sulit untuk dipahami. Kekurangan terakhir terletak pada penyajian sub-judul. Batasan membaca terkadang membingungkan, membuat sulit untuk memahami apakah sub-judul ini merupakan bagian dari judul utama atau berdiri sendiri sebagai topik baru.
Manfaat dan Sasaran Pembaca Buku ini bermanfaat untuk menuntun pembaca memahami konsep pendidikan di Indonesia dan di negara lain, seperti pendidikan di Finlandia yang bisa kita adopsi untuk diaplikasikan saat kegiatan belajar-mengajar. Buku ini yang memuat tentang Multiple Intelligences mengajak guru untuk lebih kreatif dalam merancang strategi pembelajaran yang sesuai dengan gaya belajar anak dengan berbagai ragam kecerdasan yang perlu dikembangkan. Dengan berbagai manfaatnya, buku ini sangat cocok dibaca oleh kepala sekolah, guru, calon guru, orang tua, bahkan masyarakat lainnya yang tertarik mengenai pendidikan.












Tinggalkan Balasan