Literatura Nusantara

Membumikan Sastra Melangitkan Kata

Menjadi Guru Madrasah yang Amanah

[Sumber gambar: Dokumentasi penulis]

Penulis: Suhendi, S.Pd.

Nama saya Suhendi, S.Pd., guru di MI Hidayatul Islam, Dusun Keboncau. Setiap pagi hingga menjelang siang hari, dengan penuh semangat dan keikhlasan, saya menyusuri jalan kecil di dusun ini, jalan yang saat musim hujan berubah licin, dan ketika kemarau diselimuti debu. Dari jalan sederhana itulah hari-hari saya sebagai guru selalu bermula.

Sejak awal 1990-an, saya mengabdi sebagai guru di MI Hidayatul Islam, sebuah madrasah ibtidaiyah yang berdiri di Kampung Keboncau, RT 03/RW 02, Dusun Keboncau, Desa Ciasem Baru, Kecamatan Ciasem, Kabupaten Subang, Jawa Barat. Sekolah ini berdiri sejak sekitar tahun 1974 dan sampai hari ini tetap menampung anak-anak dari dusun kami, jumlahnya sekitar 168 siswa yang belajar dengan penuh semangat meski gedungnya telah berpuluh tahun tanpa bantuan perbaikan serius.

MI Hidayatul Islam bukan hanya tempat belajar membaca huruf dan berhitung. Bagi saya dan warga di Keboncau, ia adalah rumah kedua, yakni ruang tempat anak-anak mengenal doa, adab, dan dunia di luar pekarangan rumah. Tapi kondisi bangunannya, yang sudah termakan usia, sering menjadi tantangan tersendiri. Atap yang masih bergelantung pada kayu tua, lantai dan pavingblok halaman yang retak, membuat kami sebagai guru khawatir akan keselamatan dan kenyamanan anak-anak saat belajar.

Menjadi guru di dusun bukan perkara gagah. Tidak ada tepuk tangan, tidak ada panggung kehormatan. Yang ada hanya papan tulis, bangku kayu, dan anak-anak dengan wajah setengah mengantuk karena kecapaian membantu orang tua mereka di sawah. Tapi justru di situlah letak maknanya.

Sukanya menjadi guru di dusun adalah ketika melihat anak-anak datang ke sekolah dengan langkah polos. Mereka tidak membawa ambisi besar, tapi membawa kejujuran. Jika mereka tidak mengerjakan PR, mereka akan bilang apa adanya: “Tadi sore bantu bapak di sawah, Pak.” Tidak ada drama, tidak ada alasan yang dibuat-buat.

Saya bahagia saat melihat mereka bisa membaca lancar, menulis namanya sendiri, atau berani maju ke depan kelas meski suaranya gemetar. Kebahagiaan guru dusun sering kali kecil, tapi hangat. Tidak meledak-ledak, tapi menetap lama di dada.

Namun, dukanya juga tidak sedikit. Ada hari-hari ketika murid tidak masuk sekolah karena harus ikut orang tua panen. Ada yang berhenti sekolah karena ekonomi keluarga tidak sanggup. Ada juga murid yang saya tahu cerdas, tapi hidup memaksanya memilih jalan lain lebih cepat. Sebagai guru, saya belajar menerima kenyataan bahwa tidak semua anak bisa saya antar sampai jauh.

Gaji? Jangan tanya. Ada masa-masa ketika mengajar lebih terasa sebagai ibadah daripada pekerjaan. Tapi saya bertahan bukan karena angka, melainkan karena keyakinan “Kalau bukan kami yang menjaga sekolah kecil ini, siapa lagi?”

Di MI Hidayatul Islam, tempat saya mengabdi, pendidikan selalu berdampingan dengan nilai pesantren. Anak-anak belajar membaca kitab, mengaji, dan menghormati guru. Saya percaya, ilmu tanpa adab hanya akan melahirkan kepandaian yang sombong. Di dusun, adab justru sering lebih dulu tumbuh sebelum ilmu.

Bahasa di kelas pun tidak pernah satu. Sunda bercampur Jawa Cirebon. Kadang satu anak berbicara dengan logat berbeda dari temannya. Saya tidak pernah meluruskannya secara kaku. Bagi saya, bahasa mereka adalah cermin kehidupan cair, bertemu, saling memengaruhi. Dusun mengajarkan bahwa perbedaan bukan untuk diseragamkan, tapi dipahami.

Salah satu kebahagiaan terbesar saya sebagai guru adalah ketika mendengar kabar tentang murid-murid lama. Ada yang jadi petani yang jujur, ada yang jadi pedagang, ada pula yang melanjutkan sekolah tinggi. Saya selalu percaya bahwa menjadi orang baik jauh lebih penting daripada sekadar menjadi orang hebat.

Dari sekian banyak murid yang pernah duduk di bangku MI Hidayatul Islam, ada satu nama yang hingga kini sering membuat saya tersenyum diam-diam, dia adalah Heri Isnaini. Waktu itu, ia anak biasa saja, seperti yang lain. Duduk rapi, mendengarkan, tapi matanya selalu menyimpan rasa ingin tahu. Ia gemar membaca dan sering bertanya, kadang pertanyaannya terasa terlalu jauh untuk ukuran anak madrasah ibtidaiyah di desa.

Saya tidak pernah menyangka sejauh apa langkah hidupnya akan berjalan. Sebagai guru desa, tugas saya hanya satu, yaitu mengantar sejauh yang saya mampu. Selebihnya, waktu dan kehidupan yang mengambil alih.

Bertahun-tahun kemudian, saya mendengar kabar bahwa murid saya, Heri Isnaini kini bergelar Doktor Sastra, dikenal sebagai ahli sastra, dan mengajar sebagai dosen di IKIP Siliwangi. Saat kabar itu sampai ke telinga saya, perasaan yang muncul bukan bangga berlebihan, melainkan haru yang tenang. Seperti melihat benih yang dulu jatuh di tanah Keboncau, tumbuh, lalu berbunga jauh dari tempat ia ditanam. Tapi bagi saya, ia tetap murid kecil yang dulu duduk rapi, membaca dengan serius, dan bertanya dengan mata menyala. Dari situ saya belajar satu hal, “Guru tidak pernah tahu sejauh apa pelajaran kecilnya akan berjalan di hidup seseorang.”

Kini, usia saya bertambah. Rambut memutih. Tapi setiap kali masuk kelas, saya merasa muda kembali. Anak-anak selalu membawa harapan baru. Dan saya selalu ingin percaya bahwa apa yang saya lakukan, meski sederhana, akan menjadi bagian kecil dari masa depan mereka.

Menjadi guru di dusun berarti berdamai dengan keterbatasan. Tapi juga berarti hidup dengan keyakinan bahwa dari tempat yang sunyi, dari sekolah kecil yang sangat sederhana, kehidupan besar bisa tumbuh diam-diam.

Dan selama saya masih sanggup berdiri di depan kelas, saya akan terus mengajar. Bukan untuk dikenang, tapi karena saya percaya, di dusun kecil seperti Keboncau, pendidikan adalah cara paling jujur untuk mencintai kehidupan.


Eksplorasi konten lain dari Literatura Nusantara

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Categories:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *