
[Sumber gambar: https://www.kompasiana.com/image/nabilaammarullah2202]
Penulis: Ersha Febrianty Choerunnisa
Di tengah arus deras informasi di era digital, konsep bela negara kerap disalahpahami. Banyak orang masih menganggap bahwa bela negara identik dengan seragam dan senjata, seolah hanya menjadi tugas TNI atau POLRI. Padahal, maknanya jauh lebih luas. Sebagai pendidik, kita memikul tanggung jawab untuk menanamkan pemahaman bahwa bela negara adalah kewajiban setiap individu, terutama dalam membimbing generasi muda.
Tantangan terbesar yang kita hadapi saat ini bukan lagi sekadar ancaman fisik, melainkan serangan digital. Hoaks, ujaran kebencian, dan informasi menyesatkan begitu mudah tersebar. Misalnya, saat pandemi Covid-19, banyak beredar informasi palsu mengenai obat dan vaksin yang menimbulkan keresahan masyarakat. Di sinilah peran guru menjadi sangat penting. Guru tidak hanya mengajarkan pengetahuan, tetapi juga membentuk kemampuan siswa untuk berpikir kritis, memilah kebenaran, dan menolak informasi palsu. Sekolah pun bukan lagi sekadar tempat belajar, melainkan benteng terakhir dalam membangun karakter bangsa yang kuat dan cerdas.
Lalu, bagaimana cara menanamkan nilai bela negara di era digital? Pertama, kita perlu memperbarui cara pandang masyarakat. Bela negara bukan hanya sekadar materi hafalan, melainkan nilai-nilai yang harus diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Alih-alih sekadar menceritakan kisah pahlawan, guru bisa mengajak siswa berkarya lewat proyek kreatif. Misalnya, siswa kelas XI SMA diminta membuat video dokumenter tentang potensi produk lokal di daerah mereka, seperti kopi Garut atau batik Cirebon, lalu mengunggahnya di media sosial. Dengan begitu, mereka tidak hanya belajar sejarah dan ekonomi lokal, tetapi juga berkontribusi mempromosikan kearifan lokal sebagai bagian dari cinta tanah air.
Kedua, guru harus menjadi teladan. Sikap toleransi, penghargaan terhadap perbedaan, serta kebijaksanaan dalam menggunakan media sosial adalah contoh nyata nilai kebangsaan yang bisa ditularkan. Contohnya, seorang guru yang membiasakan diskusi kelas dengan menghargai pendapat berbeda, atau guru yang mengingatkan siswa untuk tidak asal membagikan berita di WhatsApp grup sekolah. Setiap ucapan dan tindakan guru adalah pembelajaran berharga bagi siswa.
Mengajarkan bela negara di era digital memang penuh tantangan. Namun, di balik tantangan itu tersimpan peluang besar untuk berinovasi. Dengan membekali siswa kemampuan berpikir kritis sekaligus membentuk karakter yang tangguh, kita tidak hanya menyiapkan mereka menghadapi masa depan, tetapi juga memastikan semangat bela negara tetap hidup dalam diri setiap anak bangsa.












Tinggalkan Balasan