
[Sumber gambar: https://www.indonesiana.id/]
Penulis: Cici Amelia Putri
Di era informasi yang melimpah ruah saat ini, kita sebenarnya tidak sedang kekurangan informasi, melainkan sedang mengalami krisis fokus. Setiap hari, jempol kita terus bergulir di layar ponsel, menyerap potongan-potongan berita, video singkat, dan kutipan acak tanpa benar-benar mencernanya. Inilah tantangan literasi sesungguhnya bagi generasi kita. Membaca bukan lagi soal kemampuan menyelesaikan satu buku tebal, melainkan soal bagaimana kita memilah mana informasi yang jujur dan mana yang sekadar mengejar klik (clickbait).
Sebagai mahasiswa Bimbingan dan Konseling (BK), saya melihat fenomena rendahnya minat baca pada teks panjang bukan sekadar masalah akademis, melainkan masalah kesehatan mental yang serius. Secara psikologis, kebiasaan mengonsumsi konten instan dan cepat memicu otak untuk terus-menerus mencari stimulasi baru. Hal ini mengakibatkan penurunan drastis pada rentang perhatian (attention span) anak muda. Ketika seseorang kehilangan kemampuan untuk fokus pada satu bacaan selama lebih dari lima menit, ia sebenarnya sedang kehilangan ruang untuk melakukan refleksi diri yang mendalam.
Kaitannya dengan dunia konseling sangatlah erat. Salah satu kunci kesehatan mental adalah kemampuan seseorang untuk melakukan mindfulness atau hadir sepenuhnya di momen saat ini. Membaca mendalam (deep reading) pada sebuah esai atau buku sebenarnya adalah salah satu bentuk latihan mindfulness. Saat kita membaca teks yang panjang dan kompleks, kita memaksa otak untuk tenang, mengikuti alur logika penulis, dan berimajinasi. Proses ini berbanding terbalik dengan budaya scrolling yang cenderung membuat pikiran cemas, terburu-buru, dan merasa tertinggal (FOMO – Fear of Missing Out).
Lebih jauh lagi, literasi yang rendah di kalangan anak muda memicu maraknya fenomena self-diagnosis yang keliru. Banyak remaja saat ini merasa mengalami gangguan mental hanya setelah menonton video durasi 15 detik di media sosial tanpa membaca literatur kesehatan mental yang valid dan lengkap. Di sinilah peran literasi menjadi sangat krusial. Seorang individu dengan literasi yang baik akan memiliki ketahanan mental (mental resilience) yang lebih kuat karena ia mampu menganalisis informasi secara kritis sebelum menerimanya sebagai kebenaran.
Budaya “skip” atau melewati teks panjang juga menutup pintu empati. Dalam konseling, empati dibangun melalui pemahaman mendalam terhadap cerita hidup seseorang. Jika kita terbiasa membaca hanya pada permukaan, kita akan tumbuh menjadi pribadi yang menghakimi dan sulit memahami perspektif orang lain yang berbeda. Membaca teks panjang melatih kita untuk sabar mendengarkan “suara” orang lain hingga tuntas, sebuah keterampilan dasar yang wajib dimiliki oleh setiap calon konselor.
Oleh karena itu, menghidupkan kembali minat baca di tengah gempuran konten visual adalah bentuk perjuangan menjaga kesehatan mental. Kita perlu mulai menyediakan waktu khusus untuk “detoks digital” dan menggantinya dengan bacaan yang bergizi. Cobalah untuk tidak terburu-buru menekan tombol scroll. Bacalah satu tulisan hingga titik terakhir. Karena pada akhirnya, di tengah tumpukan informasi digital yang melelahkan ini, membaca dengan sungguh-sungguh adalah satu-satunya cara bagi kita untuk tetap waras, tetap fokus, dan tetap menemukan jati diri yang autentik.













Tinggalkan Balasan