Literatura Nusantara

Membumikan Sastra Melangitkan Kata

Menanam Bahasa, Menyemai Masa Depan: Sinergi PPM dan Sosialisasi PMB 2026–2027 PBSI IKIP Siliwangi

[Sumber gambar: Dokumentasi Tim PPM]

Penulis: Heri Isnaini

Kami selalu meyakini bahwa bahasa bukan sekadar alat komunikasi. Bahasa adalah cara berpikir yang terdengar, sikap yang tampak, sekaligus cermin dari kualitas diri seseorang. Ketika bahasa disampaikan dengan tertata, sejatinya yang sedang dibangun adalah ketertiban nalar dan kematangan karakter.

Pada Jumat, 13 Februari 2026, kami melaksanakan kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PPM) di SMK PGRI 1 Cimahi. Kegiatan ini merupakan bagian dari komitmen Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia IKIP Siliwangi dalam menjalankan Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya pada aspek pengabdian. Tema yang kami angkat adalah Berkomunikasi Efektif melalui Bahasa yang Baik dan Benar dalam Tataran Lisan dan Tulis.

Kegiatan ini melibatkan tim dosen yang memiliki perhatian kuat terhadap penguatan literasi dan keterampilan komunikasi, yakni Latifah, M.Pd.; Restu Bias.Primandhika., M.Pd.; Dr. Mimin Sahmini., M.Pd.; Woro Wuryani., M.Pd.; Sary Sukawati., M.Pd.; Riana Dwi Lestari., M.Pd.; Aurelia Sakti Yani., M.Pd.; dan saya sendiri, Dr. Heri Isnaini, M.Hum. Kehadiran kami bukan sekadar menyampaikan materi, melainkan berbagi pengalaman akademik sekaligus praktik kebahasaan yang relevan dengan kebutuhan siswa SMK.

Mengapa tema ini kami anggap penting?

Karena realitas hari ini menunjukkan bahwa komunikasi berlangsung sangat cepat, tetapi tidak selalu efektif. Pesan beredar tanpa kejelasan. Kalimat disusun tanpa ketelitian. Bahasa digunakan tanpa mempertimbangkan konteks dan etika. Padahal, dalam dunia pendidikan maupun dunia kerja, kemampuan berkomunikasi secara tepat menjadi penentu profesionalitas.

Dalam sesi pemaparan, kami menekankan bahwa komunikasi efektif tidak hanya berarti lancar berbicara. Efektivitas terletak pada ketepatan diksi, kejelasan struktur kalimat, runtutan gagasan, serta kesadaran terhadap situasi komunikasi.

Bahasa yang baik adalah bahasa yang sesuai dengan konteks, situasi, dan mitra tutur. Bahasa yang benar adalah bahasa yang mengikuti kaidah baik dalam ejaan, tata kalimat, maupun kepaduan paragraf. Keduanya tidak dapat dipisahkan. Ketika seseorang mampu menggunakan bahasa dengan baik dan benar, ia sedang menunjukkan kedewasaan literasinya.

Diskusi berlangsung interaktif. Siswa mengangkat pertanyaan mengenai bahasa media sosial, ragam gaul, serta tantangan berbicara di depan umum. Kami mengajak mereka memahami bahwa kemampuan berpindah ragam bahasa, dari informal ke formal, adalah tanda kematangan komunikasi. Kreativitas berbahasa tetap diperlukan, tetapi kesadaran terhadap norma dan konteks harus menjadi landasan.

Pada sesi praktik, kami bersama siswa menyunting beberapa contoh kalimat dalam surat lamaran kerja dan laporan sederhana. Dari kegiatan tersebut terlihat bahwa persoalan utama bukan pada kurangnya kemampuan, melainkan kurangnya perhatian terhadap detail kebahasaan. Padahal, detail kecil sering kali menentukan kesan profesional.

Kegiatan ini merupakan bagian dari Program Pengabdian kepada Masyarakat yang secara berkelanjutan dilakukan oleh IKIP Siliwangi sebagai bentuk kontribusi nyata kepada sekolah-sekolah mitra. Kami percaya bahwa perguruan tinggi tidak boleh berjarak dari masyarakat. Ilmu harus hadir, menyentuh, dan memberi dampak.

Pada kesempatan tersebut, kami juga menyampaikan informasi bahwa IKIP Siliwangi telah membuka Penerimaan Mahasiswa Baru Tahun Ajaran 2026–2027. Kami mengajak para siswa untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang perguruan tinggi dan terus mengembangkan potensi akademik mereka, khususnya dalam bidang pendidikan bahasa dan sastra Indonesia. Pendidikan tinggi bukan sekadar gelar, tetapi proses pembentukan cara berpikir dan integritas diri.

Kami pulang dari SMK PGRI 1 Cimahi dengan optimisme yang tenang. Di ruang diskusi itu, kami tidak hanya berbicara tentang tata bahasa, kami sedang menanam benih kesadaran.

Sebab bahasa bukan hanya rangkaian huruf yang dirangkai menjadi kalimat. Ia adalah jembatan antara pikiran dan masa depan. Ia adalah jejak yang akan ditinggalkan seseorang dalam setiap percakapan, dalam setiap tulisan, dalam setiap keputusan hidupnya.

Jika suatu hari para siswa itu berdiri di ruang rapat, di ruang presentasi, atau di ruang-ruang penting lainnya, kami berharap mereka akan mengingat bahwa kejelasan berbicara adalah bentuk tanggung jawab, dan ketepatan menulis adalah bentuk integritas.

Karena pada akhirnya, masa depan sering kali tidak ditentukan oleh seberapa keras suara kita, tetapi oleh seberapa jernih bahasa yang kita gunakan. Dan, dari bahasa yang jernih itulah, masa depan menemukan arahnya.

Cimahi, 13 Februari 2026


Eksplorasi konten lain dari Literatura Nusantara

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Categories:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *