
[Sumber gambar: Sampul buku]
Penulis: Heri Isnaini
Ada kalanya sebuah buku lahir bukan hanya dari keinginan untuk menulis, tetapi dari perjumpaan yang sunyi antara pembaca dan teks. Perjumpaan semacam itu tidak selalu riuh dengan teori atau istilah akademik, tetapi sering kali lebih dekat dengan pengalaman personal: membaca, tertegun, lalu perlahan memahami sesuatu yang sebelumnya terasa jauh. Buku Bagiku: tentang Boenga Roos dari Tjikembang karya Nisa Fitria tampaknya lahir dari pengalaman semacam ituโsebuah pengalaman membaca yang perlahan berubah menjadi refleksi intelektual.
Buku ini berangkat dari sebuah karya klasik sastra Melayu-Tionghoa, yaitu novel Boenga Roos dari Tjikembang karya Kwee Tek Hoay. Novel tersebut telah lama menjadi bagian penting dalam sejarah sastra Indonesia awal abad ke-20. Ia bukan sekadar kisah cinta yang sentimental, melainkan juga potret sosial tentang identitas, budaya, dan perjumpaan berbagai tradisi dalam masyarakat kolonial. Namun, bagi pembaca masa kini, karya-karya semacam ini sering terasa jauhโseperti suara lama yang datang dari ruang waktu yang berbeda.
Di sinilah buku Nisa Fitria menemukan relevansinya. Ia tidak sekadar merangkum atau menjelaskan isi novel klasik itu. Ia mencoba membaca kembali kisah lama tersebut dari sudut pandang seorang pembaca muda yang hidup di zaman berbeda. Pendekatan yang digunakan dalam buku ini terasa personal sekaligus reflektif. Pembaca diajak mengikuti perjalanan intelektual penulis ketika berhadapan dengan teks sastra: mulai dari membaca cerita, mencoba memahami konteks sejarahnya, hingga menafsirkan makna-makna sosial dan psikologis yang tersembunyi di balik narasi.
Ada sesuatu yang menarik dari cara buku ini ditulis. Alih-alih menjadikan analisis sastra sebagai wilayah yang kaku dan penuh istilah teknis, penulis menghadirkan pembacaan yang terasa lebih dekat dengan pengalaman membaca sehari-hari. Ia tidak hanya memandang karya sastra sebagai objek kajian, tetapi juga sebagai ruang dialog antara teks dan pembaca. Dalam dialog itu, cerita lama tidak lagi terasa asing. Ia kembali hidup melalui tafsir baru.
Dari sisi akademik, buku ini menunjukkan upaya seorang mahasiswa untuk menjadikan kegiatan membaca sebagai bagian dari tradisi intelektual. Ini penting. Di tengah arus informasi yang serba cepat, kegiatan membaca karya sastra klasik sering kali dianggap sebagai sesuatu yang tidak praktis. Padahal, di dalam teks-teks lama itu tersimpan jejak sejarah budaya yang membentuk perjalanan sastra Indonesia.
Melalui buku ini, pembaca juga dapat melihat bagaimana sastra Melayu-Tionghoa memiliki posisi penting dalam perkembangan sastra Indonesia. Karya-karya dari tradisi tersebut sering kali menjadi jembatan antara berbagai identitas budaya: Tionghoa, Melayu, dan kolonial. Dalam konteks itu, membaca Boenga Roos dari Tjikembang bukan hanya membaca kisah cinta, tetapi juga membaca sejarah pertemuan budaya.
Satu hal yang patut diapresiasi dari buku ini adalah keberanian penulis untuk menempatkan pengalaman membaca sebagai bagian dari proses berpikir akademik. Ia tidak menyembunyikan proses itu di balik bahasa ilmiah yang kaku. Sebaliknya, ia memperlihatkan bahwa membaca sastra adalah perjalanan yang penuh pertanyaan, keraguan, dan penemuan.
Buku ini memang tidak tebal, sekitar empat puluh lima halaman, tetapi justru di situlah letak kehangatannya. Ia terasa seperti catatan kecil yang lahir dari kesungguhan membaca. Sebuah catatan yang mungkin sederhana, tetapi jujur dalam menyampaikan pengalaman intelektualnya.
Pada akhirnya, Bagiku bukan hanya buku tentang sebuah novel lama. Ia adalah buku tentang bagaimana sebuah karya sastra terus hidup melalui pembacaan baru. Setiap generasi memiliki cara sendiri untuk memahami teks lama, dan dari situlah sastra tetap bergerak.
Membaca buku ini mengingatkan kita bahwa sastra tidak pernah benar-benar usang. Ia hanya menunggu seseorang untuk membuka kembali halamannya, lalu membaca dengan mata yang baru.
Bandung, 11 Maret 2026












Tinggalkan Balasan