Literatura Nusantara

Membumikan Sastra Melangitkan Kata

Membaca Hayy ibn Yaqzan, Robinson Crusoe, dan Tarzan of the Apes

[Sumber gambar: AI]

Penulis: Heri Isnaini

Ada satu jenis cerita yang selalu kembali dalam sejarah sastra, yaitu kisah tentang manusia yang tiba-tiba terpisah dari peradaban. Ia hidup di pulau sunyi, di hutan liar, atau di ruang yang jauh dari masyarakat. Dalam kesunyian itu, manusia dipaksa belajar kembali menjadi manusia. Seolah-olah dunia ingin menguji satu pertanyaan yang sangat tua “Apakah manusia masih bisa mengenali dirinya ketika ia tidak lagi dikelilingi oleh kebiasaan, aturan, dan suara orang lain?”

Pertanyaan semacam itu telah lama muncul dalam karya Hayy ibn Yaqzan yang ditulis oleh filsuf Andalusia, Ibn Tufail. Dalam kisah ini, seorang anak bernama Hayy tumbuh sendirian di sebuah pulau. Tidak ada manusia lain. Tidak ada bahasa yang diwariskan. Tidak ada kitab yang menjelaskan dunia. Ia hanya memiliki alam, laut, pepohonan, langit, dan seekor rusa yang merawatnya seperti ibu. Dari situlah Hayy belajar tentang kehidupan. Ia mengamati hewan, memahami tubuh, memperhatikan gerak bintang, hingga perlahan-lahan menyadari bahwa di balik segala sesuatu ada satu sumber keberadaan yang lebih tinggi. Dalam cerita ini, kesunyian tidak menjadi kutukan, ia justru menjadi jalan pengetahuan.

Beberapa abad kemudian, kisah tentang manusia yang terpisah dari dunia kembali hadir dalam novel Robinson Crusoe karya Daniel Defoe. Robinson Crusoe tidak lahir di pulau sunyi seperti Hayy. Ia adalah manusia kota yang tiba-tiba kehilangan dunianya ketika kapal yang ditumpanginya karam. Di pulau terpencil itu, ia harus memulai hidup dari awal. Ia membuat tempat tinggal, menanam makanan, menjinakkan alam yang semula tampak liar. Jika Hayy menemukan Tuhan melalui kontemplasi alam, Crusoe justru membangun kembali peradaban kecilnya sendiri di tengah kesendirian. Pulau itu menjadi semacam laboratorium kehidupan, tempat manusia menguji kecerdikan, ketekunan, dan keyakinannya.

Lalu di awal abad ke-20, dunia mengenal tokoh lain yang lahir dari imajinasi populer, yaitu Tarzan, tokoh ciptaan Edgar Rice Burroughs dalam novel Tarzan of the Apes. Tarzan adalah manusia yang tumbuh di hutan dan dibesarkan oleh kera. Ia tidak mempelajari peradaban melalui buku, tetapi melalui insting dan pengalaman. Hutan menjadi sekolahnya, hewan-hewan menjadi sahabat sekaligus gurunya. Berbeda dengan Hayy yang kontemplatif dan Crusoe yang rasional, Tarzan memperlihatkan sisi lain manusia bahwa dalam diri manusia ada sesuatu yang tetap liar, sesuatu yang tidak sepenuhnya dapat dijinakkan oleh peradaban.

Ketiga kisah ini, jika dipandang sekilas, tampak berbeda. Namun sebenarnya mereka berbagi satu pola yang sama, yakni manusia yang dipisahkan dari masyarakat untuk menemukan dirinya sendiri. Dalam kesendirian, manusia dipaksa berhadapan dengan alam, dengan tubuhnya, dan dengan pikirannya sendiri. Tidak ada lagi norma sosial yang menjadi penuntun. Yang tersisa hanya pertanyaan yang paling mendasar, “Bagaimana menjadi manusia?”

Mungkin karena itulah cerita semacam ini selalu terasa menarik. Ia seperti cermin yang memantulkan kemungkinan lain dari diri kita. Kita hidup dalam kota yang penuh aturan dan kebiasaan, tetapi cerita-cerita ini diam-diam mengingatkan bahwa di dalam diri manusia selalu ada dua dunia: dunia peradaban yang kita bangun bersama, dan dunia sunyi yang tersembunyi di dalam batin kita. Di antara keduanya, manusia terus berjalan kadang seperti Hayy yang mencari makna, kadang seperti Crusoe yang membangun kehidupan, dan kadang seperti Tarzan yang berlari bebas di antara pepohonan.

Bandung, 12 Maret 2026


Eksplorasi konten lain dari Literatura Nusantara

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Categories:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *