
[Sumber gambar: AI]
Penulis: Heri Isnaini
Refleksi Idulfitri yang Sunyi: Memaknai Kata Pulang ke Diri di Hari Lebaran
Barangkali tidak semua orang merayakan Idulfitri dengan pulang. Ada yang justru memilih duduk di tepi danau, membiarkan waktu lewat tanpa perlu diberi nama. Di sana, jauh dari suara takbir dan riuh pertemuan, Lebaran berubah menjadi sesuatu yang lebih pelan dan hampir seperti bisikan yang tidak benar-benar ingin didengar.
Seorang anak duduk menghadap air. Di tangannya, sebuah buku terbuka, tetapi tidak jelas apakah ia sedang menulis atau sekadar menatap halaman kosong. Barangkali ia sedang belajar bahwa tidak semua hal bisa dituliskan, sebagaimana tidak semua perasaan perlu diungkapkan.
Danau itu tenang, terlalu tenang. Permukaannya memantulkan langit yang mulai kehilangan warna, seolah-olah dunia sedang perlahan menghapus dirinya sendiri. Di kejauhan, sebuah perahu bergerak tanpa suara, membawa seseorang yang tidak tampak ingin sampai ke mana pun. Perjalanan itu terasa lebih seperti penundaan daripada tujuan.
Dalam kesunyian seperti itu, saya teringat pada kisah burung-burung dalam Mantiq al-Tayr karya Farid ud-Din Attar. Mereka terbang jauh mencari raja mereka, Simurgh, menempuh lembah demi lembah yang penuh kehilangan, keraguan, dan kehampaan. Tetapi ketika sampai, yang mereka temukan bukan sosok lain, melainkan diri mereka sendiri, yang telah berubah oleh perjalanan itu.
Barangkali anak di tepi danau itu sedang menempuh perjalanan yang sama, hanya saja tanpa bergerak ke mana-mana. Sebab tidak semua perjalanan membutuhkan langkah. Ada yang justru menuntut kita untuk diam.
Dalam tradisi kita, kisah Dewa Ruci menyimpan gema yang serupa. Bima, yang mencari air kehidupan, justru harus masuk ke dalam tubuh Dewa Ruci yang kecil, sempit, dan nyaris mustahil secara nalar. Namun, di sanalah ia menemukan samudra yang luas, yang tidak terlihat dari luar.
Dunia yang besar ternyata tersembunyi di dalam yang kecil.
Perjalanan yang jauh ternyata berakhir di dalam diri.
Anak itu, dengan tubuh yang diam di tepi danau, mungkin sedang memasuki “ruang kecil” itu, ruang yang tidak bisa dilihat oleh siapa pun, tetapi di sanalah segala sesuatu menjadi lebih jernih.
Di titik itu, ungkapan lama yang sering kita dengar terasa menemukan maknanya: “Man ‘arafa nafsahu faqad ‘arafa rabbahu.” Barang siapa mengenal dirinya, maka ia akan mengenal Tuhannya. Sebuah kalimat yang tidak menawarkan jalan keluar, tetapi justru mengajak kita masuk lebih dalam, ke wilayah yang tidak selalu nyaman, tetapi selalu jujur.
Dalam kesunyian, ingatan bekerja dengan cara yang ganjil. Ia tidak datang sebagai cerita yang utuh, melainkan potongan-potongan yang sulit disusun. Wajah, suara, dan peristiwa muncul sebentar, lalu tenggelam lagi, seperti riak kecil yang segera dilupakan air.
Saya juga teringat pada perjalanan Siddhartha dalam novel Siddhartha karya Hermann Hesse. Ia meninggalkan segala ajaran, segala guru, dan akhirnya belajar dari sungai dari aliran yang tidak pernah berhenti, tetapi juga tidak pernah tergesa-gesa. Di sana, ia memahami bahwa hidup tidak perlu disimpulkan, cukup dijalani dalam keheningan yang penuh.
Danau di hadapan anak itu mungkin adalah sungai yang diam yang tidak mengalir, tetapi tetap menyimpan kedalaman yang sama. Mungkin di situlah letak Lebaran yang paling jujur bukan pada pertemuan, melainkan pada jarak yang akhirnya kita sadari. Kita baru mengerti arti pulang ketika kita tahu bahwa ada sesuatu yang tidak lagi bisa kita temui.
Bulan sabit menggantung di atas danau, tipis dan nyaris ragu. Cahayanya tidak cukup terang untuk menerangi jalan, tetapi cukup untuk membuat kita melihat bayangan sendiri. Dalam cahaya yang seperti itu, saya kembali teringat pada lirisisme puisi-puisi Sapardi Djoko Damono, yang tidak pernah memaksa kesimpulan, tetapi justru membiarkan kita tinggal di dalam pertanyaan. Barangkali anak itu juga sedang melakukan hal yang sama, ia tidak mencari jawaban, hanya menjaga agar pertanyaan itu tetap hidup.
Di dekatnya, lampu kecil menyala. Tidak terang, tetapi cukup untuk menandai bahwa ia masih ada di sana. Dalam dunia yang luas dan sunyi, kadang yang kita butuhkan bukan cahaya besar, melainkan tanda kecil bahwa kita belum sepenuhnya hilang.
Dan mungkin, itulah bentuk pulang yang paling sunyi. Seperti burung-burung Attar yang akhirnya menemukan diri mereka sendiri, seperti Bima yang menemukan samudra di dalam tubuh kecil Dewa Ruci, dan kita pun, pada akhirnya, tidak benar-benar pergi. Kita hanya berputar, perlahan, dan kembali ke dalam diri yang selama ini kita tinggalkan.
Bandung, 21 Maret 2026












Tinggalkan Balasan