
[Sumber gambar: Dokumentasi penulis]
Penulis: Mutiara Fatonah
Judul: Larung
Penulis: Ayu Utami
Penerbit: Keperpustakaan Populer Gramedia (KPG)
Tahun terbit: 2023
Jumlah halaman: 295
Isbn: 978-602-424-286-287-9
Novel “Larung” ini adalah lanjutan novel “saman”. Dipenghujung masa Orde Barau. Awal dalam novel ini dimulai pada tahun 1989 dengan menceritakan Larung Lanang, seorang pria datang berkunjung yang ingin ‘’membunuh’’ neneknya, ia ingin membebaskannya dari penderitaan hidup yang tidak wajar. Tubuh neneknya dipenuhi susuk, hati nya berisi japa- japa yang membuatnya sulit mati meskipun fisiknya sudah sangat renta. Sang nenek adalah sosok yang sangat kuat dan ditakuti, namun kata-katanya sangat menyakiti, dan itulah alasan larung juga yang ingin segera neneknya mati. Larung kemudian mencari rahasia masa lalu neneknya, lalu didapatinya album dan bundle kertas dalam sebuah boks kardus yang telah dilakban seperti sesuatu yang hendak dilupakan. Dilihatnya potret potret kuno dengan tepi putih yang bergerigi, dari salah satu album neneknya, Larung menemukan foto neneknya bersama temannya pada halaman terakhir album tersebut. Temannya bernama Suprihatin. Setelah itu larung mencari dan menemui teman neneknya, ternyata dia adalah seorang dukun sakti bernama di Gunung Watuangkara. Setelah mendapatkan petunjuk dan enam buah benda gaib (cupu), meski tidak cukup dengan cupu tersebut akhirnya Larung berhasil mengakhiri hidup neneknya.
Latar cerita berpindah ke tahun 1996 di New York, di mana empat sahabat yaitu Cok, Yasmin, Laila, dan Shakuntala berkumpul kembali. Shakuntala menetap di sana sebagai penari, sementara Yasmin (seorang pengacara sekaligus aktivis), cok (pengusaha), dan Laila (fotografer) datang dengan urusan masing-masing. Di New York, Yasmin menjalin hubungan rahasia dengan Saman, mantan pendeta dan yang kini menjadi aktivis politik dan buronan pemerintah Indonesia. Sementara itu, Laila berjuang dengan perasaan cintanya kepada Sihar, seorang pria yang sudah berkeluarga.
Di tengah hiruk-pikuk kehidupan pribadi mereka, situasi politik di Indonesia memanas akibat peristiwa penyerbuan kantor PDI pada 27 Juli 1996. Pemerintah mulai memburu aktivis yang dianggap subversif. Yasmin dan teman-temannya memutuskan untuk membantu menyembunyikan tiga aktivis dari organisasi Solidarlit, yaitu Wayan Togog, Bilung, dan Koba. Mereka merencanakan misi berbahaya untuk melarikan ketiga orang tersebut keluar dari Indonesia agar tidak ditangkap oleh militer.
Larung Lanang, yang kini terlibat dalam gerakan aktivisme, menjadi sosok kunci yang mengatur perjalanan pelarian di dalam negeri. Ia menjalin komunikasi dengan Saman melalui surat elektronik (email). Saman kemudian berangkat menuju perairan Selat Phillip dan Pulau Mapur untuk menjemput para aktivis tersebut. Dalam misi ini, mereka dibantu oleh Anson, seorang mantan narapidana yang memiliki keahlian sebagai bajak laut dan mengenal medan perairan dengan sangat baik.
Misi penyelamatan tersebut berakhir dengan penuh ketegangan dan tragedi. Saat berusaha melarikan diri, kapal mereka tertangkap oleh pihak keamanan. Ketiga aktivis tersebut terpisah dari Larung dan Saman. Larung yang tertangkap terus diinterogasi namun tetap memilih bungkam demi melindungi rekan-rekan perjuangannya. Akhirnya, kisah ini ditutup dengan tragis yaitu ketika Larung dan Saman yang ditembak oleh petugas, menandakan pengorbanan mereka di tengah represi politik masa itu.
Kelebihan novel ini terletak pada keberanian penulis yaitu Ayu Utami dalam mendobrak tabu melalui gaya bahasa yang lugas namun artistik untuk mengangkat isu sensitif yang jarang disentuh penulis perempuan pada masanya, dan ia memadukan pengalaman pribadi, isu sosial-politik era Orde Baru, eksplorasi seksualitas, serta kritik terhadap agama dan budaya melalui karakter-karakter kompleks seperti Larung yang lincah, realistis, dan penuh misteri. Novel ini juga tidak hanya menyajikan alur cerita yang menegangkan tentang pelarian aktivis, tetapi juga menawarkan kedalaman filosofis mengenai tubuh, seksualitas, dan peristiwa Indonesia pada masa Orde Baru. Dengan struktur narasi yang kompleks namun aeshtetic, Larung berhasil membangun atmosfer yang gelap dan puitis, menjadikannya karya sastra yang penting karena memberikan perspektif kritis terhadap kekuasaan dan tradisi di tengah perubahan zaman.
Namu, dari kelebihan tersebut pasti ada beberapa kekurangannya yaitu terletak Penggunaan alur maju-mundur dan perpindahan sudut pandang yang mendadak memerlukan konsentrasi tinggi dari pembaca. Jika tidak teliti, pembaca bisa kehilangan jejak narasi. Deskripsi mengenai seksualitas dan adegan kekerasan (seperti saat Larung membedah mayat neneknya) sangat eksplisit, sehingga mungkin membuat sebagian pembaca merasa kurang nyaman. Dan juga Pembaca yang tidak memahami sejarah politik Indonesia tahun 1990-an mungkin akan sedikit kesulitan mencerna urgensi dan bahaya yang dihadapi para tokoh di akhir cerita.
Meskipun demikian, kekurangan novel ini tentu bergantung pada sudut pandang masing-masing pembaca. Terlepas dari keterbatasannya, kekuatan atau kelebiah tetap membuat novel ini layak untuk dibaca dan dinikmati oleh siapa saja yang menyukai novel atau karya satra dengan pesan mendalam.
Larung karya Ayu Utami ini adalah novel yang berani dan mendalam karena berhasil menyatukan kisah misteri keluarga yang kelam dengan ketegangan politik nyata di Indonesia tahun 1996. Meski memiliki alur yang cukup rumit dan beberapa adegan yang banyak orang bilang ‘erotis’, novel ini memberikan gambaran jujur tentang perjuangan melawan penindasan. Karya Ayu Utami ini bukan sekadar cerita fiksi biasa, melainkan sebuah refleksi tentang pengorbanan dan keberanian dalam mencari kebebasan di masa sulit.












Tinggalkan Balasan