Literatura Nusantara

Membumikan Sastra Melangitkan Kata

Media Sosial Remaja dan Cermin Diri Menakar Perubahan Perilaku Sosial di Era Digital

[Sumber gambar: https://semartara.news/]

Penulis: Ragil Lesmaya

Media sosial telah menjelma menjadi ruang hidup baru bagi remaja. Ia bukan sekadar alat komunikasi, melainkan tempat berbagi cerita, menampilkan identitas, mencari pengakuan, hingga membangun relasi sosial. Bagi generasi remaja yang sedang berada pada fase pencarian jati diri, media sosial sering kali berfungsi layaknya cermin: memantulkan bagaimana mereka ingin dilihat sekaligus bagaimana mereka merasa dinilai oleh orang lain. Di balik kemudahan dan daya tariknya, media sosial membawa pengaruh yang kompleks terhadap perilaku sosial dan citra diri remaja Dalam kehidupan sehari-hari, media sosial hampir tak pernah lepas dari genggaman remaja.

Waktu penggunaan yang mencapai berjam-jam setiap hari menunjukkan betapa besar peran platform digital dalam membentuk pola aktivitas, cara berpikir, dan gaya berinteraksi mereka. Remaja menggunakan media sosial untuk beragam tujuan, mulai dari berkomunikasi dengan teman, mengikuti perkembangan informasi, mencari hiburan, hingga mengekspresikan diri melalui unggahan foto, video, maupun tulisan. Intensitas penggunaan yang tinggi ini menjadikan media sosial sebagai salah satu faktor lingkungan yang paling berpengaruh dalam perkembangan psikososial remaja. Perilaku sosial remaja mengalami pergeseran seiring dengan meningkatnya penggunaan media sosial. Interaksi yang dahulu lebih banyak terjadi secara langsung kini sering digantikan oleh komunikasi daring. Pesan singkat, emoji, dan unggahan status menjadi medium utama dalam menyampaikan perasaan maupun pendapat.

Di satu sisi, media sosial mempermudah remaja untuk tetap terhubung tanpa terhalang jarak dan waktu. Diskusi kelompok, koordinasi kegiatan sekolah, hingga menjalin pertemanan baru dapat dilakukan dengan cepat dan efisien. Namun, di sisi lain, pola interaksi ini juga menyimpan potensi masalah, seperti miskomunikasi, berkurangnya kepekaan sosial, serta menurunnya kualitas interaksi tatap muka. Remaja sering kali merasa lebih nyaman berkomunikasi melalui layar dibandingkan berbicara secara langsung. Kondisi ini dapat memicu kecenderungan individualistik, di mana remaja lebih fokus pada dunia digitalnya sendiri daripada lingkungan sosial di sekitarnya. Kebiasaan scrolling tanpa henti dapat mengurangi waktu kebersamaan dengan keluarga maupun teman.

Dalam jangka panjang, hal ini berpotensi melemahkan keterampilan sosial dasar, seperti empati, kemampuan mendengarkan, dan kepekaan terhadap emosi orang lain. Meski demikian, pengaruh media sosial terhadap perilaku sosial remaja tidak selalu bersifat negatif. Media sosial juga dapat mendorong remaja menjadi lebih aktif secara sosial. Informasi tentang kegiatan sekolah, komunitas, atau acara tertentu dapat diakses dengan mudah, sehingga meningkatkan partisipasi remaja dalam berbagai aktivitas. Media sosial bahkan dapat menjadi ruang aman bagi remaja yang pemalu atau kurang percaya diri untuk mengekspresikan pendapat dan membangun relasi secara bertahap. Dengan kata lain, media sosial memiliki sifat ambivalen: ia dapat memperkuat sekaligus melemahkan perilaku sosial, tergantung pada cara dan intensitas penggunaannya Selain memengaruhi perilaku sosial, media sosial juga memainkan peran besar dalam pembentukan citra diri remaja.

Pada fase perkembangan ini, remaja sangat peka terhadap penilaian sosial. Mereka mulai membangun gambaran tentang siapa diri mereka, bagaimana mereka ingin dikenal, dan seberapa berharga mereka di mata orang lain. Media sosial menyediakan panggung yang luas untuk menampilkan versi diri yang diinginkan. Unggahan foto yang dipilih dengan cermat, penggunaan filter, serta penyusunan caption tertentu menjadi bagian dari strategi membangun citra diri di dunia maya. Respons yang diterima dari orang lain, seperti jumlah “like”, komentar, dan perhatian, sering kali dijadikan tolok ukur penerimaan sosial. Ketika unggahan mendapat banyak respons positif, remaja dapat merasakan peningkatan rasa percaya diri dan kepuasan diri. Sebaliknya, minimnya respons atau komentar negatif dapat memicu perasaan tidak berharga, kecewa, bahkan overthinking. Fenomena ini sejalan dengan konsep looking glass self, yang menjelaskan bahwa citra diri individu terbentuk dari bagaimana mereka merasa dipersepsikan oleh orang lain.

Perbandingan sosial menjadi salah satu dampak paling nyata dari penggunaan media sosial. Remaja dengan mudah membandingkan dirinya dengan figur lain yang dianggap lebih menarik, lebih populer, atau lebih sukses. Padahal, apa yang ditampilkan di media sosial sering kali hanya sisi terbaik dari kehidupan seseorang. Ketika remaja tidak memiliki kesadaran kritis terhadap hal ini, perbandingan sosial dapat berkembang menjadi rasa insecure, rendah diri, dan tekanan untuk tampil sempurna. Dalam kondisi tertentu, tekanan ini bahkan dapat berdampak pada kesehatan mental remaja. Menariknya, tidak semua remaja terjebak sepenuhnya dalam tekanan media sosial. Sebagian remaja menunjukkan kemampuan untuk bersikap lebih reflektif dan selektif.

Mereka menyadari bahwa media sosial bukan representasi utuh dari kehidupan nyata. Kesadaran ini membantu remaja untuk tidak terlalu larut dalam standar semu yang dibangun di dunia maya. Remaja yang mampu membatasi diri, menyaring konten, dan mengelola waktu penggunaan media sosial cenderung memiliki citra diri yang lebih stabil dan perilaku sosial yang lebih seimbang. Upaya pengelolaan penggunaan media sosial menjadi kunci penting dalam meminimalkan dampak negatifnya. Beberapa remaja mulai menerapkan strategi sederhana, seperti membatasi waktu penggunaan gawai, mematikan notifikasi saat belajar, atau memprioritaskan aktivitas offline. Ada pula yang memilih untuk memute atau berhenti mengikuti akun-akun yang memicu perasaan tidak nyaman. Langkah-langkah ini menunjukkan bahwa remaja sebenarnya memiliki potensi untuk mengontrol penggunaan media sosial, asalkan didukung oleh kesadaran diri dan lingkungan yang mendukung.

Peran keluarga dan sekolah menjadi sangat penting dalam membantu remaja menghadapi tantangan media sosial. Orang tua tidak hanya berperan sebagai pengawas, tetapi juga sebagai pendamping yang memberikan pemahaman tentang penggunaan media sosial yang sehat. Komunikasi terbuka antara orang tua dan remaja dapat membantu remaja mengekspresikan perasaan serta pengalaman mereka di dunia digital. Sementara itu, sekolah memiliki peran strategis dalam memberikan literasi digital, termasuk edukasi tentang etika berkomunikasi, dampak psikologis media sosial, serta pentingnya keseimbangan antara dunia online dan offline. Media sosial pada dasarnya bukanlah musuh bagi remaja. Ia merupakan produk perkembangan teknologi yang tidak dapat dihindari. Permasalahan muncul ketika penggunaan media sosial tidak diimbangi dengan kontrol diri, kesadaran kritis, dan dukungan lingkungan sosial yang memadai. Ketika digunakan secara bijak, media sosial dapat menjadi sarana yang mendukung perkembangan sosial, memperluas wawasan, serta memperkuat relasi.

Sebaliknya, tanpa pengelolaan yang tepat, media sosial berpotensi mengganggu keseimbangan emosi, perilaku sosial, dan pembentukan citra diri remaja. Pada akhirnya, pengaruh media sosial terhadap perilaku sosial dan citra diri remaja bersifat kompleks dan multidimensional. Media sosial mampu menjadi ruang belajar sosial yang baru, namun juga dapat menjadi sumber tekanan psikologis. Tantangan terbesar bagi remaja di era digital adalah menemukan keseimbangan: memanfaatkan media sosial sebagai alat, bukan menjadikannya sebagai penentu nilai diri. Dengan kesadaran individu, dukungan keluarga, peran sekolah, serta literasi digital yang baik, media sosial dapat diarahkan menjadi sarana yang memperkaya, bukan merusak, perkembangan remaja.


Eksplorasi konten lain dari Literatura Nusantara

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Categories:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *