
[Sumber gambar: https://jurnalpost.com/]
Penulis: Amanda Shalsabila Gunawan
Di era digital saat ini, sulit membayangkan kehidupan tanpa media sosial. Bagi mahasiswa, platform seperti Instagram, TikTok, dan WhatsApp bukan sekadar aplikasi di ponsel mereka telah menjadi bagian integral dari kehidupan sehari-hari. Dari bangun tidur hingga menjelang tidur, mahasiswa berinteraksi dengan dunia melalui layar smartphone mereka. Namun, di balik kemudahan dan kenyamanan yang ditawarkan, muncul pertanyaan penting bagaimana sebenarnya dampak penggunaan media sosial terhadap kesejahteraan psikologis generasi muda kita?
Fenomena Media Sosial di Kalangan Mahasiswa
Laporan We Are Social pada Januari 2024 mengungkapkan fakta mengejutkan Indonesia merupakan salah satu negara dengan tingkat penggunaan media sosial tertinggi di dunia, terutama di kalangan usia produktif. Mahasiswa, yang berada pada fase pencarian jati diri dan memiliki rasa ingin tahu yang tinggi, menjadi kelompok pengguna paling aktif. Mereka tidak hanya menggunakan media sosial untuk hiburan, tetapi juga untuk keperluan akademik, mencari informasi, membangun jaringan profesional, dan mengekspresikan identitas diri.
Data terbaru dari mahasiswa IKIP Siliwangi menunjukkan pola yang menarik. Instagram dan TikTok mendominasi pilihan platform media sosial,mencerminkan pergeseran preferensi ke arah konten visual yang cepat dan menarik. Instagram, dengan fitur stories, reels, dan pesan langsung, memungkinkan mahasiswa membangun dan memelihara hubungan sosial secara virtual. Sementara TikTok, dengan algoritma personalisinya yang canggih, menyajikan konten video singkat yang adiktif dan mudah dikonsumsi.
WhatsApp menempati posisi berbeda lebih fungsional dan akademis. Platform ini menjadi tulang punggung komunikasi perkuliahan, diskusi kelompok, dan koordinasi tugas. Berbeda dengan Instagram dan TikTok yang lebih bersifat ekspresif dan hiburan, WhatsApp berperan sebagai ruang kerja digital mahasiswa.
Dua Sisi : Manfaat dan Risiko
Media sosial bagaikan pedang bermata dua. Di satu sisi, platform ini membuka pintu peluang yang luar biasa. Mahasiswa dapat dengan mudah mengakses informasi terkini, terhubung dengan komunitas akademik global, berbagi pengetahuan, dan membangun personal branding. Banyak mahasiswa merasakan bahwa media sosial membantu mereka mengekspresikan perasaan dengan lebih mudah sebuah outlet emosional yang penting di tengah tekanan akademik.
Hasil survei terhadap mahasiswa IKIP Siliwangi menunjukkan bahwa 75% responden mengakui media sosial membantu mereka mengekspresikan perasaan dan emosi. Platform ini menjadi ruang aman untuk berbagi pengalaman, mencari dukungan emosional, dan menemukan komunitas dengan minat yang sama. Bagi sebagian mahasiswa, media sosial bahkan menjadi sumber motivasi belajar melalui konten edukatif dan inspiratif.
Namun, sisi gelap media sosial mulai terungkap ketika penggunaan menjadi tidak terkontrol. Penelitian menunjukkan bahwa 50% mahasiswa mengakui media sosial membuat mereka sulit berkonsentrasi, dan 10% merasakan dampak yang sangat kuat terhadap kemampuan fokus mereka. Lebih mengkhawatirkan lagi, 80% mahasiswa mengaku tetap menggunakan media sosial meskipun menyadari dampak negatifnya sebuah indikasi kuat dari perilaku adiktif.
Perbandingan Sosial: Pencuri Kebahagiaan Digital
Salah satu dampak psikologis paling signifikan dari media sosial adalah fenomena perbandingan sosial. Instagram dan TikTok dipenuhi dengan konten yang telah dikurasi dengan sempurna foto liburan eksotis, pencapaian akademik gemilang, gaya hidup glamor, dan momen kebahagiaan yang terlihat sempurna. Yang tidak terlihat adalah filter, editing, dan seleksi ketat di balik setiap unggahan.
Mahasiswa yang terus-menerus terpapar konten semacam ini cenderung membandingkan kehidupan mereka dengan highlight reel orang lain. Mereka lupa bahwa yang mereka lihat hanyalah versi terbaik dari kehidupan orang lain, bukan realitas sepenuhnya. Perbandingan yang tidak sehat ini dapat memicu perasaan tidak percaya diri, kecemasan, dan bahkan depresi.
Fenomena “Instagramxiety” kecemasan yang dipicu oleh Instagram menjadi semakin umum. Mahasiswa merasa tertekan untuk selalu menampilkan versi terbaik dari diri mereka, mengumpulkan likes dan komentar sebagai validasi diri. Ketika unggahan tidak mendapat respons yang diharapkan, harga diri mereka terguncang. Mereka terjebak dalam siklus mencari validasi eksternal yang tidak pernah memuaskan.
Paradoks “Alone Together”
Ironi terbesar media sosial adalah bagaimana platform yang dirancang untuk menghubungkan orang justru dapat menciptakan isolasi. Mahasiswa bisa menghabiskan berjam-jam berinteraksi di media sosial, namun merasa semakin kesepian. Mereka terhubung secara virtual dengan ratusan atau ribuan “teman,” namun kehilangan kedalaman koneksi interpersonal yang sesungguhnya.
Penelitian menunjukkan bahwa interaksi tatap muka memiliki kualitas yang sangat berbeda dengan interaksi digital. Komunikasi langsung melibatkan Bahasa tubuh, nada suara, dan kehadiran fisik yang menciptakan ikatan emosional lebih kuat. Ketika mahasiswa menggantikan interaksi langsung dengan komunikasi digital, mereka kehilangan elemen-elemen penting yang mendukung kesejahteraan psikologis.
Fenomena FOMO (Fear of Missing Out) ketakutan ketinggalan informasi atau Pengalaman memperburuk situasi. Mahasiswa merasa harus selalu online, selalu update, dan selalu terhubung. Mereka tidak bisa melepaskan ponsel, bahkan saat sedang bersama teman atau keluarga. Akibatnya, mereka hadir secara fisik tetapi tidak hadir secara mental sebuah kondisi yang dikenal sebagai “alone together.”
Dampak pada Konsentrasi dan Produktivitas Akademik
Penggunaan media sosial yang intens memiliki konsekuensi nyata terhadap performa akademik. Notifikasi yang terus berdatangan, godaan untuk scroll tanpa henti, dan kebiasaan multitasking menciptakan fragmentasi perhatian. Otak mahasiswa terus-menerus beralih antara tugas akademik dan media sosial, mengakibatkan penurunan kualitas konsentrasi dan pemahaman materi.
Penelitian kognitif menunjukkan bahwa otak manusia tidak dirancang untuk multitasking yang efektif. Setiap kali perhatian beralih, dibutuhkan waktu untuk kembali fokus sepenuhnya pada tugas semula. Mahasiswa yang sering terinterupsi oleh media sosial saat belajar mengalami penurunan efisiensi belajar hingga 40%. Mereka membutuhkan waktu lebih lama untuk menyelesaikan tugas dan cenderung membuat lebih banyak kesalahan.
Lebih dari sekadar gangguan sesaat, penggunaan media sosial yang berlebihan dapat mengubah struktur dan fungsi otak. Paparan konten visual yang cepat dan stimulasi konstan melatih otak untuk mencari gratifikasi instan, mengurangi kemampuan untuk fokus pada tugas yang membutuhkan pemikiran mendalam dan berkelanjutan.
Kesejahteraan Psikologis: Lebih dari Sekadar Kebahagiaan
Kesejahteraan psikologis adalah konsep yang kompleks dan multidimensional. Menurut model yang dikembangkan oleh Carol Ryff, seorang psikolog terkemuka, kesejahteraan psikologis mencakup enam aspek utama: penerimaan diri, hubungan positif dengan orang lain, otonomi, penguasaan lingkungan, tujuan hidup, dan pertumbuhan pribadi.
Media sosial dapat memengaruhi setiap aspek ini, baik secara positif maupun negatif. Pada aspek hubungan sosial, media sosial memungkinkan mahasiswa mempertahankan kontak dengan teman dan keluarga yang berjauhan. Namun, jika tidak diimbangi dengan interaksi tatap muka, kualitas hubungan dapat menurun.
Pada aspek penerimaan diri, paparan konstan terhadap standar kecantikan dan kesuksesan yang tidak realistis di media sosial dapat merusak citra diri mahasiswa. Mereka mulai mengukur nilai diri berdasarkan likes, followers, dan omentar ukuran eksternal yang rapuh dan berubah-ubah. Otonomi kemampuan untuk membuat keputusan independent juga terancam. Mahasiswa yang terlalu bergantung pada opini dan validasi dari media sosialkehilangan kemampuan untuk menentukan nilai dan arah hidup mereka sendiri. Mereka menjadi reaktif terhadap tren dan tekanan sosial, bukan proaktif dalam mengejar tujuan personal.
Kecanduan Digital: Ketika Kontrol Hilang
Data yang paling mengkhawatirkan dari penelitian ini adalah bahwa 80% mahasiswa mengaku tetap menggunakan media sosial meskipun menyadari dampak negatifnya. Ini adalah tanda klasik dari perilaku adiktif ketidakmampuan untuk menghentikan perilaku meskipun mengetahui konsekuensi negatifnya.
Kecanduan media sosial memiliki mekanisme neurologis yang mirip dengan bentuk kecanduan lainnya. Setiap kali mahasiswa mendapat likes, komentar, atau notifikasi, otak melepaskan dopamine neurotransmitter yang terkait dengan kesenangan dan reward. Otak mulai mengasosiasikan media sosial dengan perasaan baik, menciptakan siklus yang sulit diputus.
Algoritma media sosial dirancang dengan sangat canggih untuk memaksimalkan engagement. Platform seperti TikTok dan Instagram menggunakan machine learning untuk mempelajari preferensi pengguna dan menyajikan konten yang paling mungkin membuat mereka terus scrolling. Ini bukan kebetulan ini adalah desain yang disengaja untuk menciptakan “stickiness” dan meningkatkan waktu yang dihabiskan di platform.
Otonomi kemampuan untuk membuat keputusan independent juga terancam. Mahasiswa yang terlalu bergantung pada opini dan validasi dari media sosial kehilangan kemampuan untuk menentukan nilai dan arah hidup mereka sendiri. Mereka menjadi reaktif terhadap tren dan tekanan sosial, bukan proaktif dalam mengejar tujuan personal.
Self-Diagnosis dan Bahaya Informasi Kesehatan Mental
Media sosial telah menjadi sumber informasi kesehatan mental yang populer, dengan banyak konten tentang kecemasan, depresi, dan gangguan psikologis lainnya. Meskipun meningkatkan awareness adalah hal positif, terdapat risiko serius dari self-diagnosis berdasarkan informasi yang tidak terverifikasi.
Mahasiswa yang merasa cemas atau sedih setelah menggunakan media sosial mungkin mencari penjelasan online dan menemukan deskripsi gangguan mental yang tampaknya cocok dengan pengalaman mereka. Tanpa konsultasi dengan profesional kesehatan mental, mereka mungkin salah mengidentifikasi kondisi mereka, mengadopsi label diagnostik yang tidak akurat, dan bahkan menolak mencari bantuan profesional karena merasa sudah “memahami” masalah mereka.
Lebih berbahaya lagi, beberapa konten media sosial meromantisasi gangguan mental atau menyajikan informasi yang menyesatkan tentang pengobatan dan pemulihan. Mahasiswa yang rentan mungkin mengadopsi identitas berdasarkan gangguan mental yang mereka pikir mereka miliki, yang dapat memperburuk kondisi psikologis mereka.
Literasi Digital: Kunci Penggunaan Media Sosial yang Sehat
Solusi untuk dilema media sosial bukan dengan menghindarinya sepenuhnya ini tidak realistis di era digital. Sebaliknya, mahasiswa perlu mengembangkan literasi digital yang kuat, yaitu kemampuan untuk menggunakan media sosial secara kritis, bijak, dan seimbang.
Literasi digital mencakup beberapa komponen penting. Pertama, kesadaran kritis terhadap konten kemampuan untuk memahami bahwa apa yang terlihat di media sosial adalah representasi selektif, bukan realitas lengkap. Mahasiswa perlu menyadari bahwa mereka membandingkan kehidupan nyata mereka dengan versi terbaik dari kehidupan orang lain.
Kedua, manajemen waktu yang efektif. Mahasiswa perlu menetapkan Batasan waktu untuk penggunaan media sosial dan mematuhinya. Beberapa strategi yang terbukti efektif termasuk: mematikan notifikasi non-esensial, menggunakan fitur screen time untuk memantau penggunaan, menetapkan “zona bebas ponsel” seperti saat makan atau sebelum tidur, dan menggunakan aplikasi yang membatasi akses ke platform tertentu.
Ketiga, kurasi konten yang mindful. Mahasiswa perlu aktif memilih siapa yang mereka ikuti dan jenis konten apa yang mereka konsumsi. Unfollowing akun yang memicu perasaan negatif, mengikuti konten edukatif dan inspiratif, dan secara berkala melakukan “digital detox” dapat membantu menciptakan pengalaman media sosial yang lebih positif.
Peran Institusi Pendidikan
Universitas dan institusi pendidikan memiliki tanggung jawab penting dalam mengatasi dampak negatif media sosial terhadap mahasiswa. Mereka tidak bisa hanya fokus pada aspek akademik dan mengabaikan kesejahteraan psikologis mahasiswa.
Pertama, institusi perlu menyediakan layanan konseling yang mudah diakses dan tidak stigmatizing. Mahasiswa harus merasa nyaman mencari bantuan profesional ketika mengalami masalah kesehatan mental terkait penggunaan media sosial atau isu lainnya. Layanan konseling harus proaktif, tidak hanya reaktif melakukan screening rutin, workshop kesehatan mental, dan kampanye awareness.
Kedua, integrasi literasi digital ke dalam kurikulum. Mahasiswa perlu diajarkan tidak hanya bagaimana menggunakan teknologi, tetapi juga bagaimana menggunakannya secara sehat dan produktif. Mata kuliah atau workshop tentang kesehatan digital, critical thinking terhadap media sosial, dan manajemen waktu digital dapat memberikan tools praktis yang dibutuhkan mahasiswa.
Ketiga, menciptakan budaya kampus yang mendukung kesejahteraan holistik. Ini termasuk menyediakan ruang dan aktivitas untuk interaksi sosial offline, mendorong keseimbangan antara kehidupan akademik dan personal, dan modeling perilaku digital yang sehat oleh fakultas dan staf.
Strategi Personal untuk Kesejahteraan Digital
Mahasiswa dapat mengambil langkah konkret untuk melindungi kesejahteraan psikologis mereka sambil tetap menikmati manfaat media sosial:
- Praktik Mindfulness Digital: Sebelum membuka aplikasi media sosial, tanyakan pada diri sendiri: “Mengapa saya ingin membuka ini? Apa yang saya cari?” Kesadaran terhadap motivasi dapat mencegah scrolling tanpa tujuan.
- Batasan Waktu yang Jelas: Gunakan timer atau fitur built-in di smartphone untuk membatasi waktu di setiap platform. Mulai dengan target realistis dan secara bertahap kurangi jika perlu.
- Ritual Offline: Ciptakan rutinitas harian yang tidak melibatkan teknologi olahraga, membaca buku fisik, memasak, atau menghabiskan waktu di alam. Aktivitas ini memberikan keseimbangan dan perspektif.
- Kurasi Lingkungan Digital: Secara berkala evaluasi feed media sosial. Apakah konten yang dikonsumsi membuat merasa lebih baik atau lebih buruk? Jangan ragu untuk unfollow, mute, atau block akun yang memicu perasaan negatif.
- Prioritaskan Koneksi Real: Investasi dalam hubungan tatap muka. Jadwalkan waktu berkualitas dengan teman dan keluarga tanpa gangguan ponsel. Kualitas koneksi lebih penting daripada kuantitas followers.
- Seek Professional Help: Jika merasa penggunaan media sosial memengaruhi kesehatan mental secara signifikan, jangan ragu mencari bantuan profesional. Konselor atau psikolog dapat memberikan strategi personalized dan dukungan yang dibutuhkan.
Melihat ke Depan: Media Sosial yang Lebih Sehat
Tantangan yang dihadapi mahasiswa saat ini adalah bagaimana menavigasi lanskap digital yang terus berkembang tanpa mengorbankan kesejahteraan psikologis. Ini bukan tugas yang mudah, terutama ketika platform media sosial terus berinovasi dengan fitur-fitur baru yang dirancang untuk meningkatkan engagement.
Namun, ada alasan untuk optimis. Kesadaran tentang dampak negatif media sosial terus meningkat, baik di kalangan pengguna maupun pembuat kebijakan. Beberapa platform mulai memperkenalkan fitur kesejahteraan seperti reminder untuk istirahat, tools untuk membatasi waktu penggunaan, dan opsi untuk menyembunyikan like counts.
Generasi mahasiswa saat ini memiliki potensi untuk menjadi pengguna media sosial yang paling sadar dan kritis dalam sejarah. Mereka tumbuh dengan teknologi, memahami kekuatan dan kelemahannya, dan memiliki akses ke informasi tentang penggunaan yang sehat. Dengan pendidikan yang tepat, dukungan institusional, dan komitmen personal, mereka dapat memanfaatkan manfaat media sosial sambil melindungi kesehatan mental mereka.
Kesimpulan: Keseimbangan adalah Kunci
Penelitian terhadap mahasiswa IKIP Siliwangi mengungkapkan realitas kompleks tentang hubungan antara media sosial dan kesejahteraan psikologis. Media sosial bukan musuh yang harus dihindari, tetapi juga bukan solusi untuk kebutuhan sosial dan emosional. Ini adalah alat dan seperti semua alat, dampaknya bergantung pada bagaimana digunakan.
Penggunaan media sosial yang seimbang, mindful, dan terinformasi dapat memperkaya kehidupan mahasiswa memperluas wawasan, memperkuat hubungan, dan menyediakan platform untuk ekspresi diri. Sebaliknya, penggunaan yang berlebihan, tidak terkontrol, dan reaktif dapat merusak kesehatan mental, mengganggu produktivitas akademik, dan mengurangi kualitashidup.
Pesan utama yang perlu diingat adalah bahwa mahasiswa memiliki agency kemampuan untuk membuat pilihan tentang bagaimana mereka berinteraksi dengan media sosial. Mereka tidak pasif terhadap pengaruh teknologi. Dengan kesadaran, pendidikan, dan dukungan yang tepat, mereka dapat mengembangkan hubungan yang sehat dengan media sosial hubungan yang mendukung, bukan merusak, kesejahteraan psikologis mereka.
Di akhir hari, tujuan bukan untuk mengumpulkan likes terbanyak atau memiliki followers terbanyak. Tujuannya adalah menjalani kehidupan yang bermakna, membangun hubungan yang autentik, dan mencapai potensi penuh baik online maupun offline. Media sosial hanyalah salah satu aspek dari kehidupan yang kaya dan multidimensional. Ketika mahasiswa dapat menjaga perspektif ini, mereka dapat menikmati manfaat koneksi digital tanpa mengorbankan kesejahteraan psikologis yang fundamental untuk kehidupan yang memuaskan dan sukses.












Tinggalkan Balasan