Literatura Nusantara

Membumikan Sastra Melangitkan Kata

Makanan dan Jajanan Anak 90-an

[Sumber gambar: https://radarbanyumas.disway.id/]

Penulis: Heri Isnaini

Tahun 1990-an, dunia terasa lebih kecil, tetapi juga lebih hangat. Kami tidak mengenal food court, delivery app, atau istilah comfort food. Namun anehnya, hampir semua makanan di masa itu justru terasa sangat “menghibur”. Barangkali karena ia tidak hanya masuk ke perut, tetapi juga ke ingatan.

Saya tumbuh bersama jajanan yang dibeli bukan dengan kartu, melainkan dengan koin seratusan atau lembaran lusuh yang diselipkan ibu sebelum berangkat sekolah. Di depan gerbang SD, dunia kuliner kecil itu sudah menunggu cilok yang mengepul, cireng yang digoreng dadakan, es mambo yang warnanya terlalu cerah untuk disebut alami, dan permen kaki yang dibeli bukan untuk dimakan, melainkan untuk dikoleksi gambarnya.

Makanan tidak pernah netral. Ia selalu membawa suasana. Saya masih ingat aroma gorengan yang bercampur debu jalanan dan suara pedagang yang memanggil dengan nada khas. Ada ritme yang kini hilang, yaitu antre kecil, tawar-menawar ringan, dan obrolan singkat yang tidak efisien tetapi manusiawi. Waktu itu, makan bukan sekadar mengisi energi, melainkan jeda kecil dari dunia yang masih sederhana.

Ada pula jajanan yang lebih eksperimental bahkan sedikit berbahaya jika dibaca dengan kacamata sekarang. Telur gulung yang digoreng dengan minyak entah sudah berapa kali dipakai. Es lilin yang dipotong pakai pisau yang sama untuk semua anak. Atau permen karet rokok yang membuat kami merasa dewasa sebelum waktunya. Tetapi justru di sanalah letak kenakalannya masa kecil tidak steril, dan kami menerimanya dengan tawa.

Di rumah, makanan juga punya cerita sendiri. Mi instan dimasak sederhana, kadang hanya dengan diseduh air panas saja atau dimakan mentah-mentah, tetapi rasanya terasa “lengkap”. Jajanan pasar seperti kue cubit, kue rangi, atau nagasari hadir bukan sebagai tren, melainkan sebagai rutinitas. Tidak ada istilah nostalgia food karena saat itu kami sedang hidup di dalamnya.

Yang menarik, jajanan tahun 90-an tidak berusaha menjadi cantik. Bungkusnya sederhana, kadang norak, kadang salah eja, tetapi jujur. Ia tidak menjanjikan experience, hanya rasa. Tidak ada branding story, yang ada hanya kepercayaan kalau beli di situ, ya enak, dan itu cukup.

Kini, ketika makanan menjadi konten dan jajanan menjadi identitas kelas, saya sering bertanya “Ke mana perginya rasa-rasa yang dulu membesarkan kita?” Bukan soal murah atau mahal, tetapi soal kedekatan. Dulu, makanan adalah bagian dari ekosistem sosial penjual mengenal pembeli, pembeli mengenal tempat. Hari ini, semuanya serba cepat, bersih, dan rapi, tetapi terasa jauh.

Barangkali itulah sebabnya, setiap kali mencium aroma cilok atau melihat es mambo di sudut gang, ada sesuatu yang bergerak pelan di dada. Bukan lapar, melainkan ingatan. Ingatan bahwa kita pernah menjadi anak-anak yang bahagia dengan rasa sederhana, tanpa perlu tahu kandungan gizi, tanpa perlu memotret sebelum makan.

Makanan dan jajanan tahun 90-an mengajarkan satu hal penting bahwa kebahagiaan tidak selalu lahir dari hal besar. Kadang, ia datang dari plastik kecil berisi es manis, dari gorengan hangat di tangan, atau dari uang saku yang habis tetapi hati terasa penuh.

Dan mungkin, sampai hari ini, sebagian dari diri kita masih anak kecil itu yang percaya bahwa rasa bisa menyimpan kenangan, dan kenangan bisa membuat hidup terasa lebih manusiawi.

Bandung, 1 Februari 2026


Eksplorasi konten lain dari Literatura Nusantara

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Categories:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *