Literatura Nusantara

Membumikan Sastra Melangitkan Kata

Mahasiswa, Algoritma, dan Hal-Hal yang Tak Pernah Masuk RPS

[Sumber gambar: AI]

Penulis: Heri Isnaini

Pagi itu, kelas belum benar-benar dimulai, tetapi kehidupan di dalamnya sudah berjalan. Beberapa mahasiswa duduk dengan tubuh condong ke depan, bukan karena antusias pada pelajaran, melainkan karena layar kecil di genggaman mereka. Jari-jari bergerak cepat, menggulir sesuatu yang tak pernah benar-benar selesai. Di sudut lain, ada yang membuka laptop, seolah sibuk, meski sesekali matanya melompat ke notifikasi yang muncul diam-diam. Saya berdiri di depan, memandangi mereka bukan sebagai sekumpulan nama dalam daftar hadir, melainkan sebagai generasi yang sedang tumbuh di antara dua dunia, dunia pengetahuan yang saya bawa dan dunia algoritma yang mereka hidupi. Dan di antara keduanya, ada jarak yang tidak selalu mudah dijembatani.

Dunia memang telah berubah. Pengetahuan tidak lagi tinggal di buku-buku tebal yang berdebu di perpustakaan. Ia berpindah, menjadi ringan, bergerak cepat, dan [sayangnya] seringkali dangkal. Sebagai dosen, saya tidak lagi bisa sekadar mengajar materi. Saya berhadapan dengan generasi yang dibesarkan oleh algoritma. Generasi yang lebih dulu percaya pada apa yang muncul di beranda daripada apa yang disusun dalam kurikulum.

Mahasiswa hari ini bukan tidak cerdas. Justru sebaliknya, mereka cepat, adaptif, dan tangkas membaca situasi. Namun, kecepatan itu sering kali tidak diimbangi dengan kedalaman. Mereka tahu banyak hal, tetapi tidak selalu sempat memahami apalagi merealisasikannya.

Dalam diskusi kelas, saya sering melempar pertanyaan sederhana, “Mengapa kita harus mempelajari sastra?” Jawaban yang muncul kadang teknis, kadang normatif, dan sering kali [jujur saja] terasa seperti kutipan dari internet yang belum sempat diendapkan.

Saya tidak menyalahkan mereka. Sistem kita memang lebih sering menghargai jawaban yang benar daripada proses berpikir yang jujur. Kita sering kali membiasakan mahasiswa untuk mencari “apa yang diinginkan dosen,” bukan “apa yang benar-benar mereka pikirkan.”

Padahal, pendidikan seharusnya tidak berhenti pada transfer ilmu. Ia harus menjadi ruang pertemuan antara teks dan konteks, antara pengetahuan dan pengalaman, antara dunia luar dan dunia batin.

Di luar kelas, saya tahu mereka hidup dalam tekanan yang tidak sederhana. Mereka harus kuliah dengan baik, aktif di organisasi, membangun personal branding, dan [pada saat yang sama] tidak tertinggal dari tren yang bergerak nyaris tanpa jeda. Mereka belajar tidak hanya untuk lulus, tetapi juga untuk “terlihat layak” di mata dunia yang terus mengamati mereka.

Di titik ini, saya mulai bertanya pada diri sendiri, Apakah kita [para dosen] masih benar-benar hadir sebagai pendidik? ataukah kita hanya menjadi bagian dari sistem yang sama, yakni menilai, memberi angka, lalu selesai?

Saya percaya, ada hal-hal yang tidak pernah masuk silabus dan RPS, tetapi justru paling penting untuk dipelajari. Hal tentang kegagalan, keraguan, dan ketidakpercayaan. Hal-hal itu tidak pernah tertulis dalam RPS, tetapi hampir semua mahasiswa mengalaminya.

Sayangnya, ruang untuk membicarakan itu sering tidak tersedia. Kita terlalu sibuk mengejar capaian pembelajaran, sampai lupa bahwa manusia tidak bisa direduksi menjadi capaian-capaian semata. Ada yang lebih dalam dari sekadar nilai dan capaian, yaitu makna.

Sebagai dosen sastra, saya selalu percaya bahwa kata-kata tidak hanya untuk dipahami, tetapi juga untuk dirasakan. Bahwa membaca bukan sekadar aktivitas akademik, melainkan cara untuk mengenali diri sendiri.

Namun, di tengah dunia yang serba cepat, proses “merasa” ini menjadi barang langka. Mahasiswa lebih terbiasa merespons daripada merenung. Mereka cepat berkomentar, tetapi jarang diberi waktu untuk diam. Padahal, dari diam itulah pemahaman sering kali lahir.

Mungkin, yang perlu kita lakukan bukanlah menambah beban tugas, melainkan menghadirkan ruang jeda, ruang yang memberi kesempatan untuk berpikir tanpa takut salah dan untuk jujur tanpa bayang-bayang penilaian. Di zaman yang dipenuhi kepastian semu ini, keberanian untuk jujur jauh lebih berharga daripada sekadar kemampuan untuk menjawab dengan benar.

Saya tidak ingin mahasiswa saya menjadi sekadar “lulusan.” Saya ingin mereka menjadi manusia yang utuh, yang tidak hanya cakap menjawab soal, tetapi juga berani mempertanyakan hidup dan kehidupannya sendiri. Sebab pada akhirnya, dunia tidak hanya membutuhkan orang pintar. Ia membutuhkan orang-orang yang mengerti dan orang yang bersedia terus belajar untuk mengerti.

Bandung, 18 Maret 2026


Eksplorasi konten lain dari Literatura Nusantara

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Categories:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *