
[Sumber gambar: AI]
Penulis: Santi
Literasi merupakan fondasi penting dalam dunia pendidikan, khususnya pada jenjang sekolah dasar. Kemampuan literasi tidak hanya berkaitan dengan keterampilan membaca dan menulis, tetapi juga mencakup kemampuan memahami, mengolah, dan menggunakan informasi secara kritis dalam kehidupan sehari-hari. UNESCO (2006) menyatakan bahwa literasi merupakan kemampuan untuk mengidentifikasi, memahami, menafsirkan, menciptakan, dan mengomunikasikan informasi tertulis dalam berbagai situasi.
Pada usia sekolah dasar minat baca siswa menjadi faktor penentu keberhasilan literasi, karena dari kebiasaan membaca inilah proses belajar yang lebih luas dapat berkembang. Namun, kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa minat baca siswa sekolah dasar masih tergolong rendah. Banyak siswa yang menganggap membaca sebagai aktivitas yang membosankan dan hanya dilakukan ketika ada tugas dari guru. Hal ini disebabkan oleh berbagai faktor, seperti keterbatasan bahan bacaan yang menarik, minimnya budaya membaca di lingkungan sekolah dan keluarga, serta pengaruh teknologi yang lebih sering dimanfaatkan untuk hiburan dibandingkan sebagai sarana belajar. Kondisi ini menjadi tantangan bagi pendidik untuk menghadirkan literasi sebagai kegiatan yang menyenangkan dan bermakna bagi siswa.
Literasi memiliki peran strategis dalam meningkatkan minat baca siswa apabila diterapkan secara tepat. Kemendikbud (2019) menegaskan bahwa kegiatan literasi di sekolah dasar bertujuan untuk menumbuhkan kebiasaan membaca yang menyenangkan dan bermakna bagi peserta didik. Kegiatan literasi yang dikemas secara kreatif dapat membantu siswa merasa dekat dengan buku dan bacaan. Misalnya, melalui kegiatan membaca cerita bergambar, pojok baca kelas, membaca bersama, atau mendongeng, siswa dapat merasakan bahwa membaca bukanlah kewajiban, melainkan kegiatan yang menyenangkan. Ketika siswa mulai menikmati proses membaca, minat baca akan tumbuh secara alami tanpa paksaan.
Peran guru sangat penting dalam menumbuhkan budaya literasi di sekolah. Guru tidak hanya berperan sebagai pengajar, tetapi juga sebagai teladan dalam membaca. Abidin (2017) menyatakan bahwa integrasi literasi ke dalam proses pembelajaran dapat mendorong siswa untuk lebih aktif membaca dan memahami berbagai jenis teks. Guru perlu memilih bahan bacaan yang sesuai dengan tingkat perkembangan siswa serta menggunakan strategi pembelajaran yang variatif agar kegiatan literasi tidak menimbulkan kejenuhan. Ketika guru menunjukkan kebiasaan membaca, merekomendasikan buku yang sesuai dengan usia siswa, serta memberikan ruang bagi siswa untuk menceritakan kembali isi bacaan dengan caranya sendiri, siswa akan merasa dihargai dan termotivasi. Selain itu, guru dapat mengaitkan kegiatan membaca dengan kehidupan sehari-hari siswa sehingga bacaan terasa lebih relevan dan bermakna.
Selain guru, lingkungan sekolah juga berpengaruh besar terhadap keberhasilan literasi. Sekolah yang menyediakan sarana pendukung seperti perpustakaan yang nyaman, koleksi buku yang bervariasi, serta program literasi rutin akan lebih mudah menumbuhkan minat baca siswa. Budaya literasi yang dibangun secara konsisten akan menciptakan suasana belajar yang mendorong siswa untuk membaca tanpa merasa terpaksa.
Tidak kalah penting, dukungan keluarga turut berperan dalam meningkatkan minat baca siswa. Kebiasaan membaca di rumah, seperti orang tua yang membacakan cerita atau menyediakan buku bacaan sederhana, akan memperkuat kebiasaan literasi yang telah ditanamkan di sekolah. Kolaborasi antara sekolah dan keluarga menjadi kunci agar literasi dapat berkembang secara berkelanjutan dalam kehidupan siswa.
Dengan demikian, literasi bukan sekadar program formal di sekolah, melainkan sebuah upaya bersama untuk membentuk kebiasaan membaca sejak dini. Melalui penerapan literasi yang kreatif, dukungan guru, lingkungan sekolah yang kondusif, serta peran keluarga, minat baca siswa sekolah dasar dapat meningkat secara bertahap. Literasi yang kuat akan menjadi bekal penting bagi siswa untuk menghadapi tantangan pendidikan di masa depan dan membentuk generasi yang gemar belajar.













Tinggalkan Balasan