Literatura Nusantara

Membumikan Sastra Melangitkan Kata

Lebaran yang Tidak Pernah Selesai

[Sumber gambar: AI]

Penulis: Heri Isnaini

Idulfitri datang bukan hanya sebagai penanda waktu, melainkan sebagai panggilan yang samar, “Pulang.” Namun, semakin saya mencoba memahami kata itu, semakin ia terasa menjauh. Pulang tidak lagi sekadar kembali ke rumah atau bertemu keluarga, tetapi menjadi semacam perjumpaan yang ganjil, antara diri yang sekarang dengan diri yang pernah kita tinggalkan. Di situlah Lebaran mulai terasa sebagai sesuatu yang tidak sepenuhnya sederhana, bahkan sejak ia baru saja tiba.

Saya sering merasa, Lebaran bukan peristiwa yang terjadi di kalender, melainkan sesuatu yang berlangsung di dalam tubuh. Sejenis getaran yang muncul ketika ingatan bertemu dengan kehilangan. Kita pulang, tetapi yang kita temui bukan lagi rumah yang dulu kita tinggalkan. Dindingnya masih berdiri, kursinya masih di tempat yang sama, tetapi suara yang dulu mengisinya telah berubah menjadi gema.

Barangkali karena itu, setiap Lebaran selalu menyimpan sisi yang tidak sepenuhnya terang. Seperti sepotong larik yang pernah ditulis Sitor Situmorang dalam “Malam Lebaran”: bulan di atas kuburan. Sebuah citraan yang ganjil. Lebaran yang biasanya kita bayangkan penuh cahaya justru dipantulkan oleh kesunyian kematian. Di sana, pulang tidak lagi sekadar bertemu, melainkan juga berhadapan dengan yang telah tiada.

Di meja makan, ada ketupat, opor, dan percakapan yang berusaha terdengar utuh. Namun, selalu ada yang hilang dari susunan itu. Seseorang yang dulu duduk di sana, yang kini hanya hadir sebagai jeda dalam kalimat. Kita menyebutnya “kenangan,” seolah-olah dengan memberi nama, kita bisa mengendalikannya. Padahal, kenangan justru bekerja sebaliknya, ia mengendalikan cara kita merasa pulang.

Dalam diam itu, saya teringat pada lirisisme Sapardi Djoko Damono yang kerap memperlakukan kehilangan sebagai sesuatu yang tidak perlu dijelaskan, cukup dirasakan. Seperti hujan yang jatuh tanpa alasan yang harus kita pahami. Lebaran pun kadang hadir sebagai peristiwa batin yang tidak bisa kita tuntaskan dengan kata-kata.

Tradisi saling memaafkan menjadi ritual yang paling khusyuk sekaligus paling rapuh. Kita berjabat tangan, mengucapkan kalimat yang sudah kita hafal sejak kecil, “Mohon maaf lahir dan batin.” Tetapi, dalam hati, kita tahu bahwa tidak semua luka selesai hanya karena telah disebutkan. Ada kesalahan yang terlalu dalam untuk diringkas dalam satu kalimat, ada penyesalan yang tidak cukup hanya dengan saling menatap.

Apa yang kita sebut maaf, mungkin hanyalah upaya untuk menenangkan sesuatu yang tetap bergolak. Seperti yang pernah diisyaratkan dalam nada-nada reflektif Kuntowijoyo, manusia tidak selalu hidup dalam kepastian makna; sering kali ia hanya bergerak di antara tafsir dan kemungkinan. Maka, memaafkan pun bukanlah titik akhir, melainkan proses yang diam-diam terus berlangsung.

Di situlah saya mulai curiga, jangan-jangan Lebaran bukan tentang selesai, melainkan tentang berani mengakui bahwa tidak semua bisa diselesaikan.

Barangkali itulah sebabnya kita selalu menunggu Lebaran, seolah-olah ia adalah pintu yang bisa membawa kita kembali ke keadaan semula. Padahal, tidak ada yang benar-benar kembali. Waktu tidak mengenal jalan pulang. Ia hanya bergerak maju, sambil diam-diam meninggalkan jejak yang kita sebut rindu.

Dan mungkin, di sanalah makna “fitri” menjadi lebih jujur bukan kembali menjadi suci dalam arti tanpa cela, melainkan berani melihat diri sendiri tanpa topeng, dengan segala kegagalan, kehilangan, dan kerinduan yang tidak selesai.

Lebaran tidak pernah benar-benar selesai. Ia tinggal, diam-diam, di dalam cara kita memandang orang lain, dalam cara kita mengingat yang telah pergi, dan dalam cara kita memaafkan diri sendiri.

Seperti bulan yang tetap menggantung, bahkan di atas kuburan, cahaya itu tidak pernah benar-benar hilang. Ia hanya berubah pada cara kita melihatnya.

Karena pada akhirnya, pulang bukan tentang sampai. Pulang adalah tentang menerima bahwa kita tidak lagi sama.

Bandung, 21 Maret 2026


Eksplorasi konten lain dari Literatura Nusantara

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Categories:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *