Literatura Nusantara

Membumikan Sastra Melangitkan Kata

Lebaran sebagai Konstruksi Kultural: Dari Idulfitri Arab ke Ritual Pulang Nusantara

[Sumber gambar: AI]

Penulis: Heri Isnaini

Ada yang selalu bergerak setiap akhir Ramadan di negeri ini bukan hanya kendaraan di jalanan, tetapi juga kenangan di dalam dada. Orang-orang berbondong pulang, menempuh jarak yang tidak selalu dekat, seolah ada sesuatu yang memanggil lebih kuat dari sekadar kewajiban sosial. Kita menyebutnya Lebaran. Tapi barangkali, yang sedang kita jalani bukan sekadar perayaan, melainkan sebuah perjalanan pulang.

Di dalam ajaran Islam, yang dirayakan adalah Idulfitri, yakni hari kembali pada fitrah, hari ketika manusia selesai menahan diri dan kembali menjadi jernih. Ia bersifat universal. Dirayakan di banyak tempat, dengan inti yang sama, yaitu salat, syukur, dan silaturahmi. Di negeri-negeri Arab, Idulfitri berlangsung dalam kesederhanaan yang tetap khidmat. Keluarga berkumpul, doa dilantunkan, dan hari itu ditutup dengan kehangatan yang cukup.

Namun di Indonesia, sesuatu yang lain tumbuh. Idulfitri tidak hanya menjadi peristiwa religius, tetapi juga mengalami perluasan makna. Ia menyerap ingatan kolektif, menyatu dengan struktur sosial, dan menjelma menjadi apa yang kita kenal sebagai “Lebaran.” Sebuah istilah yang tidak sekadar menunjuk hari raya, tetapi seluruh pengalaman yang mengitarinya, seperti perjalanan, perjumpaan, bahkan kerinduan yang lama ditahan.

Secara etimologi, kata “Lebaran” bukan berasal dari bahasa Arab, melainkan dari bahasa Jawa dan tafsir kultural masyarakat Nusantara. Sejumlah sumber leksikografis dan kajian budaya menyebutkan bahwa “Lebaran” kemungkinan berakar dari kata lebar (selesai atau usai), yang merujuk pada berakhirnya puasa Ramadan. Ada pula penafsiran lain yang mengaitkannya dengan lebur (melebur atau menghapus dosa), luber (melimpah, terutama dalam konteks rezeki dan kebahagiaan), serta laburan (memutihkan, sebagai simbol kembali suci). Dengan demikian, “Lebaran” bukan sekadar istilah penanda hari raya, tetapi sebuah konstruksi makna berlapis yang tumbuh dari pertemuan antara bahasa, pengalaman religius, dan imajinasi kultural masyarakat.

Di sinilah kita mulai melihat bahwa Lebaran bukanlah sesuatu yang “jatuh dari langit,” melainkan hasil dari proses panjang, yakni pertemuan antara ajaran agama dan kebudayaan lokal. Sejak masa penyebaran Islam di Nusantara, terutama melalui pendekatan kultural yang lentur, nilai-nilai spiritual tidak datang untuk menggantikan tradisi lama, tetapi berdialog dengannya. Hasilnya bukan penolakan, melainkan pengolahan.

Tradisi seperti sungkem, misalnya, tidak dikenal dalam praktik Arab, tetapi menjadi inti emosional Lebaran di Indonesia. Ia bukan sekadar gestur hormat, melainkan cara tubuh mengingat bahwa ada orang tua yang harus ditemui, ada maaf yang harus diminta dengan kerendahan yang utuh. Begitu pula dengan ketupat, yang bukan sekadar makanan, tetapi simbol tentang kerumitan hidup yang pada akhirnya harus dibuka, diurai, dan dimaknai.

Secara etimologis kultural, kata “ketupat” diyakini berasal dari bahasa Jawa kupat, yang sering ditafsirkan sebagai akronim dari ngaku lepat [mengakui kesalahan.] Tafsir ini memang tidak bersifat etimologi linguistik ketat, melainkan etimologi rakyat yang hidup dalam kesadaran budaya. Namun justru di situlah kekuatannya, ketupat tidak hanya dimakan, tetapi “dibaca.” Anyaman janurnya yang rumit seolah merepresentasikan kusutnya laku manusia, sementara isi putih di dalamnya menjadi isyarat tentang kemungkinan kembali jernih setelah berani membuka dan mengakui yang tersembunyi

Selain itu semua, ada tradisi yang paling mencolok, yaitu mudik. Mudik bukan hanya mobilitas geografis. Ia adalah gerak batin. Jutaan orang meninggalkan kota, kembali ke desa, ke rumah masa kecil, ke ruang-ruang yang mungkin sudah berubah, tetapi tetap menyimpan sesuatu yang tidak bisa digantikan. Dalam konteks ini, Lebaran di Indonesia menjadi unik. Ia bukan hanya tentang merayakan hari kemenangan, melainkan juga tentang menemukan kembali arah pulang.

Berbeda dengan banyak negara di Timur Tengah, struktur keluarga dan tempat tinggal relatif berdekatan sehingga tradisi mudik hampir tidak berkembang. Sementara itu, masyarakat Indonesia mengalami dinamika migrasi yang kuat. Kota dan desa tidak hanya terpisah secara geografis, tetapi juga secara emosional. Kota menjadi ruang untuk bertahan, sementara desa menjelma sebagai tempat kembali. Maka ketika Lebaran tiba, yang berlangsung bukan sekadar perayaan, melainkan sebuah rekonsolidasi, yakni perjumpaan antara diri yang kini dijalani dengan diri yang pernah ditinggalkan.

Di titik ini, Lebaran melampaui Idulfitri. Ia menjadi ruang untuk manusia tidak hanya kembali kepada Tuhan, tetapi juga kepada asal-usulnya. Ada semacam kesadaran yang pelan-pelan muncul bahwa sejauh apa pun kita berjalan, selalu ada sesuatu yang menunggu kita untuk pulang. Dan anehnya, yang kita cari di perjalanan itu bukan selalu tempat, tetapi perasaan—perasaan utuh yang mungkin sudah lama hilang.

Barangkali, inilah yang tidak sepenuhnya bisa ditemukan dalam bentuk perayaan lain. Karena di Indonesia, Lebaran tidak hanya dirayakan, tetapi ia dialami. Ia hadir dalam kemacetan panjang yang melelahkan, dalam pelukan yang canggung tapi hangat, dalam percakapan sederhana yang tidak pernah benar-benar selesai. Ia hidup di antara hal-hal kecil yang sering luput dari perhatian, tetapi justru di situlah maknanya bersembunyi.

Jika Idulfitri adalah tentang kembali pada fitrah, maka Lebaran di Nusantara adalah tentang memahami apa arti “kembali” itu sendiri. Bukan sekadar kembali ke nol, melainkan kembali ke asal: ke orang tua, ke rumah, dan ke dalam diri sendiri.

Mungkin, tanpa kita sadari, seluruh perjalanan itu adalah metafora yang lebih dalam bahwa hidup, pada akhirnya, bukan tentang seberapa jauh kita pergi, melainkan tentang apakah kita masih tahu jalan pulang.

Bandung, 24 Maret 2026


Eksplorasi konten lain dari Literatura Nusantara

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Categories:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *