Literatura Nusantara

Membumikan Sastra Melangitkan Kata

Lapar sebagai Tanda dan Mitos Spiritualitas Modern dalam Puisi “Percakapan” Karya Remy Sylado

[Sumber Gambar: Pedagogia Humaniora]

Penulis: Heri Isnaini

Artikel ini mengkaji puisi “Percakapan Rahasia” karya Remy Sylado dengan menggunakan pendekatan semiotika Barthesian untuk menelusuri konstruksi makna “lapar” sebagai tanda dan mitos spiritualitas modern. Analisis difokuskan pada relasi penanda–petanda serta pembentukan mitos yang merepresentasikan krisis hasrat, banalitas dosa, dan ambiguitas religius dalam kehidupan manusia modern. Hasil kajian menunjukkan bahwa “lapar” tidak hanya berfungsi sebagai metafora kekurangan biologis, tetapi berkembang menjadi tanda ketidakpuasan eksistensial yang terus direproduksi oleh budaya konsumtif. Melalui ironi religius, terutama pada representasi malaikat dan percakapan rahasia
dengan Tuhan. Puisi ini membangun mitos spiritualitas personal yang tidak tunduk sepenuhnya pada kesalehan normatif. Dalam konteks ini, Remy Sylado menghadirkan kritik budaya modern sekaligus membuka ruang pembacaan sufistik, di mana kejujuran batin dan kesadaran akan keterbatasan diri menjadi titik awal pengalaman spiritual. Temuan ini menegaskan bahwa puisi tersebut berfungsi sebagai wacana kultural yang merefleksikan pergeseran makna spiritualitas dalam masyarakat kontemporer.

Teks lengkap dapat diunduh di sini


Eksplorasi konten lain dari Literatura Nusantara

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Categories:

2 tanggapan untuk “Lapar sebagai Tanda dan Mitos Spiritualitas Modern dalam Puisi “Percakapan” Karya Remy Sylado”

  1. Avatar Melsa Nuraisyah_23210011
    Melsa Nuraisyah_23210011

    Menurut saya, tulisan tersebut menarik karena mampu melihat “lapar” bukan hanya sebagai kondisi fisik, tetapi juga sebagai simbol dan mitos dalam kehidupan spiritual modern. Penjelasannya membuat saya memahami bahwa rasa lapar dalam puisi Remy Sylado merepresentasikan keinginan manusia yang tidak pernah selesai, baik secara materi maupun batin . Selain itu, analisisnya cukup mendalam karena mengaitkan makna tersebut dengan konteks spiritualitas masa kini. Saya juga merasa tulisan ini membuka sudut pandang baru bahwa hal sederhana seperti “lapar” bisa memiliki makna yang kompleks. Secara keseluruhan, artikel ini menambah pemahaman saya tentang cara membaca puisi secara lebih kritis dan reflektif.

  2. Avatar Suci Barkah
    Suci Barkah

    Menurut saya, artikel ini sangat menarik karena mampu mengungkap makna “lapar” secara mendalam sebagai tanda sekaligus mitos dalam puisi karya Remy Sylado. Pendekatan semiotika Barthesian yang digunakan terasa tepat untuk membedah relasi penanda dan petanda secara kritis dan kontekstual. Analisis yang mengaitkan “lapar” dengan krisis eksistensial dan budaya konsumtif menunjukkan kedalaman pemahaman penulis terhadap realitas modern. Selain itu, pembacaan sufistik yang dihadirkan memberikan dimensi spiritual yang reflektif dan memperkaya interpretasi puisi. Secara keseluruhan, artikel ini memberikan kontribusi penting dalam memahami pergeseran makna spiritualitas dalam sastra kontemporer.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *