Literatura Nusantara

Membumikan Sastra Melangitkan Kata

Kwee Tek Hoay: Dari Toko Dagang ke Dunia Sastra

[Sumber gambar: Ilustrasi Gun Gun Gunadi]

Penulis: Heri Isnaini

Nama Kwee Tek Hoay menempati posisi penting dalam sejarah sastra Indonesia awal, terutama dalam tradisi sastra Tionghoa peranakan. Ia dilahirkan di Bogor pada 31 Juli 1886 dan meninggal pada 4 Juli 1952 di Cicurug, Bogor, Jawa Barat. Kwee dikenal sebagai sastrawan yang banyak menuliskan dinamika kehidupan masyarakat Tionghoa di Hindia Belanda, terutama pergulatan identitas, moralitas, dan persoalan pembauran budaya. Salah satu novelnya yang paling dikenal hingga kini adalah Boenga Roos dari Tjikembang.

Kwee Tek Hoay merupakan anak bungsu dari pasangan Kwee Tjdiam Hong dan Tan An Nio. Kedua orang tuanya adalah imigran dari desa Lam An, Provinsi Fujian, Tiongkok. Seperti banyak keluarga perantau Tionghoa pada masa itu, mereka datang ke Hindia Belanda untuk berdagang dan kemudian menetap di Bogor. Ayah Kwee dikenal sebagai pedagang obat-obatan yang didatangkan dari Tiongkok. Selain berdagang, ia juga membuka praktik pengobatan tradisional Tionghoa atau sinshe bersama beberapa rekannya.

Masa kecil Kwee tidak sepenuhnya berjalan mulus dalam hal pendidikan. Pada tahun 1894 ia sempat bersekolah di sekolah Tionghoa tradisional yang menggunakan bahasa Hokkian sebagai bahasa pengantar. Namun, karena tidak terbiasa dengan bahasa tersebut, ia mengalami kesulitan mengikuti pelajaran. Akibatnya, ia sering meninggalkan sekolah dan lebih banyak membantu ayahnya berdagang. Dalam masa-masa itu, Kwee kerap ikut menjajakan barang dagangan, terutama tekstil dari rumah ke rumah. Dunia perdagangan dengan demikian menjadi bagian dari pengalaman hidupnya sejak usia muda.

Meskipun tidak menempuh pendidikan formal yang tinggi, Kwee memiliki semangat belajar yang kuat. Ia mempelajari bahasa Belanda dari seorang perempuan Belanda, dan bahasa Inggris dari seorang perempuan India. Penguasaan dua bahasa asing ini kemudian sangat membantu dalam memperluas wawasannya, terutama dalam membaca berbagai bahan bacaan yang kelak menjadi sumber gagasan dalam tulisannya. Sebenarnya ia pernah bercita-cita untuk bersekolah di sekolah Belanda, tetapi aturan pemerintah kolonial Hindia Belanda saat itu tidak memungkinkan dirinya memenuhi syarat yang ditetapkan.

Memasuki masa remaja dan dewasa, Kwee semakin aktif dalam dunia perdagangan. Di kalangan masyarakat Tionghoa di Bogor, ia dikenal sebagai pedagang yang ulet. Ia memiliki sebuah toko serba ada yang cukup berkembang. Namun demikian, kesibukan dalam usaha dagang tidak membuatnya terlepas dari perhatian terhadap persoalan sosial di sekitarnya. Ia mulai memikirkan berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat Tionghoa peranakan, terutama yang berkaitan dengan identitas, pendidikan, dan hubungan dengan masyarakat luas.

Pada usia dua puluh tahun, Kwee Tek Hoay menikah dengan seorang perempuan peranakan Tionghoa bernama Oei Hiang Nio. Dalam kehidupan rumah tangganya, ia tidak hanya membangun keluarga yang harmonis, tetapi juga menjadikan istrinya sebagai mitra dalam mengelola usaha. Ia juga tetap menjaga hubungan yang erat dengan saudara-saudaranya, Kwee Tek Soen, Kwee Wan Nio, dan Kwee Sui Nio, yang bersama-sama mengelola usaha keluarga secara gotong royong.

Keterlibatan Kwee dalam dunia tulis-menulis dimulai sekitar tahun 1905. Sejak awal, perhatian utamanya tertuju pada persoalan kemasyarakatan. Tulisannya dimuat di berbagai surat kabar dan majalah pada masa itu, seperti Li Po, Bintang Betawi, dan Ho Po. Ia juga pernah menjadi anggota dewan redaksi beberapa majalah tersebut. Dalam perkembangan berikutnya, pada tahun 1926 ia mendirikan majalah Panorama. Namun majalah ini kemudian dijual pada tahun 1931, dan setelah itu ia menerbitkan majalah Moestika Romans dan Moestika Dharma.

Melalui kedua majalah tersebut, perhatian intelektual Kwee semakin meluas. Ia tidak lagi hanya membahas persoalan sosial, tetapi juga mulai menaruh minat besar pada filsafat, agama, kebatinan, dan sejarah. Ia aktif memperkenalkan ajaran tiga agama yang dikenal dengan istilah Sam Kauw (Konfusianisme, Taoisme, dan Buddhisme) serta mendirikan perkumpulan yang berkaitan dengan ajaran tersebut. Salah satu kegiatan penting yang pernah ia selenggarakan adalah dialog tentang agama Buddha antara Josiast Van Dienst dan Bhikshu Lin Feng Fei, kepala Klenteng Kwan Im Tong, yang berlangsung di kawasan Prinsenlaan (kini Jalan Mangga Besar). Dialog tersebut menegaskan bahwa klenteng bukan sekadar tempat pemujaan, tetapi juga ruang belajar bagi umat Buddha.

Dalam bidang sastra, Kwee Tek Hoay mulai menulis karya kreatif sejak awal abad ke-20. Novel pertamanya berjudul Yashuko Ochida atawa Pembalesannja Satoe Prampoean Japan yang diterbitkan secara bersambung dalam majalah Ho Po. Pada tahun 1919 ia menulis drama enam babak berjudul Allah jang Palsoe. Drama ini diterbitkan dengan biaya Tjiong Koen Bie sebanyak seribu eksemplar dan memperoleh sambutan luas dari masyarakat. Banyak kelompok sandiwara pada masa itu yang kemudian mementaskannya. Melalui drama ini, Kwee menyampaikan kritik moral terhadap keserakahan manusia yang menempatkan harta di atas nilai-nilai spiritual.

Secara umum, karya-karya Kwee Tek Hoay banyak merefleksikan kehidupan masyarakat Tionghoa peranakan pada zamannya. Ia sering menulis tentang persoalan pembauran budaya, konflik identitas, dan kritik moral terhadap masyarakat. Meski demikian, karya-karyanya tidak terbatas pada kehidupan komunitas Tionghoa saja. Ia juga menyentuh realitas masyarakat pribumi dan kehidupan sosial yang lebih luas di Hindia Belanda.

Salah satu gagasan penting yang sering muncul dalam karyanya adalah tentang pembauran budaya. Hal ini tampak jelas dalam novelnya Boenga Roos dari Tjikembang. Dalam konteks gagasan ini, Kwee pernah terlibat polemik dengan kelompok Sin Po yang memandang orang Tionghoa sebagai orang asing di Hindia Belanda dan mendorong penggunaan bahasa Hokkian sebagai bahasa utama. Kwee memiliki pandangan yang lebih moderat. Menurutnya, masyarakat Tionghoa peranakan adalah bagian dari masyarakat Hindia Belanda sehingga wajar menggunakan bahasa Melayu atau bahasa Barat sebagai bahasa pertama, tanpa harus meninggalkan tradisi Tionghoa.

Secara tematis, karya-karya Kwee Tek Hoay sering memuat tiga kecenderungan utama gagasan tentang asimilasi budaya, kritik moral terhadap masyarakat, serta kecenderungan mistik dan spiritual. Selain Boenga Roos dari Tjikembang (1927), ia juga menulis berbagai karya lain seperti Djadi Korbannja Perempoean (1924), Drama dari Krakatau (1928), Pendekar dari Chapei (1932), Pengalaman Satoe Boenga Anjelier (1938), dan Asep Hio dan Kajoe Garoe (1940). Dalam bidang drama, ia menghasilkan karya seperti Allah jang Palsoe (1919), Korbannja Kong Ek (1926), Plesiran di Hari Minggoe (1927), Drama dari Krakatau (1929), hingga Mahabhiniskramana (1937).

Selain menulis karya sastra, Kwee juga aktif menerjemahkan berbagai teks sastra dan keagamaan. Ia menerjemahkan Rubaiyat karya Umar Khayyam serta menulis berbagai buku yang berkaitan dengan agama dan filsafat, seperti Hikayat Kong Hoe Coe, Agama Boedha di Jawa pada Zaman Koeno, Bhagawad Gita, dan Keterangan Ringkas tentang Agama Islam. Karya-karya tersebut menunjukkan keluasan minat intelektualnya sekaligus memperlihatkan upayanya menjembatani berbagai tradisi pemikiran.

Melalui karya-karyanya, Kwee Tek Hoay bukan hanya menghadirkan cerita, tetapi juga mencatat denyut kehidupan zamannya, sebuah masa ketika identitas, tradisi, dan modernitas saling bernegosiasi di tengah masyarakat Hindia Belanda yang terus berubah.

Bandung, 8 Maret 2026


Eksplorasi konten lain dari Literatura Nusantara

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Categories:

2 tanggapan untuk “Kwee Tek Hoay: Dari Toko Dagang ke Dunia Sastra”

  1. Avatar Muhammad ziyyan el-faqih
    Muhammad ziyyan el-faqih

    sungguh luar biasa dari yang asalnya seorang pedagang menjadi seorang sastrawan, dari kisah beliau saya mengambil sebuah hikmah, dari manapun asal kita berawal jangan pernah berhenti untuk bermimpi, tidak ada yang salah dengan mimpi yang besar dan tinggi, asal kita memiliki tekad yang kuat dan usaha yang tinggi

  2. Avatar Nada Nabilah

    Setelah saya membaca artikel ini, menurut saya artikel ini cukup menarik karena membahas perjalanan hidup Kwee Tek Hoay yang awalnya berasal dari dunia perdagangan hingga akhirnya dikenal sebagai tokoh dalam dunia sastra dan jurnalistik. Karena kwee tek hoay juga mempunyai semangat belajar yang kuat, kwee tek hoay mempelajari bahasa Belanda dari seorang perempuan Belanda, dan bahasa Inggris dari seorang perempuan India. Penguasaan dua bahasa asing ini kemudian sangat membantu dalam memperluas wawasannya, terutama dalam membaca berbagai bahan bacaan yang kelak menjadi sumber gagasan dalam tulisannya.
    Dari penjelasan tersebut terlihat bahwa minat dan ketekunan dapat membuat seseorang berkembang di bidang yang berbeda dari latar belakang awalnya. Artikel ini juga memberikan gambaran mengenai peran kwee tek hoay dalam perkembangan sastra pada masanya.
    Namun, menurut pendapat saya pembahasan dalam artikel ini masih bisa diperdalam, terutama mengenai karya-karya penting yang pernah ditulis oleh kwee tek hoay serta pengaruhnya terhadap perkembangan sastra di Indonesia. Dengan adanya contoh karya atau penjelasan singkat mengenai isi karyanya, pembaca akan lebih mudah memahami kontribusi dan pemikiran kwee tek hoay dalam dunia sastra.
    Secara keseluruhan artikel ini cukup informatif dan menambah wawasan pembaca tentang tokoh sastra yang memiliki peran dalam perkembangan sastra Indonesia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *