
[Sumber gambar: https://stekom.ac.id/]
Penulis: Nency Diva Maharani
Perkembangan teknologi informasi telah mengubah banyak hal, termasuk cara mahasiswa belajar di perguruan tinggi. Jika dulu ruang kelas menjadi pusat segala aktivitas akademik, kini layar gawai dan laptop pun ikut mengambil peran. Pembelajaran online yang awalnya hadir sebagai solusi darurat kini perlahan menjadi bagian dari sistem pendidikan. Namun, pertanyaannya tetap sama: apakah belajar daring benar-benar efektif?
Bagi mahasiswi Fakultas Dakwah angkatan 2025 Universitas Islam Bandung, pengalaman belajar secara online dan offline meninggalkan kesan yang beragam. Di satu sisi, pembelajaran daring menawarkan fleksibilitas waktu dan tempat. Di sisi lain, pembelajaran tatap muka dinilai lebih “hidup” karena memungkinkan interaksi langsung dengan dosen. Perbedaan karakter kedua model pembelajaran ini memunculkan persepsi yang menarik untuk dikaji.
Artikel ini mencoba menghadirkan suara mahasiswi Fakultas Dakwah angkatan 2025 tentang pengalaman mereka mengikuti pembelajaran online dan offline, sekaligus mengungkap kendala yang dihadapi selama proses belajar berlangsung.
Bagaimana Penelitian Ini Dilakukan?
Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kuantitatif dengan melibatkan mahasiswi aktif Fakultas Dakwah Universitas Islam Bandung angkatan 2025 sebagai responden. Data dikumpulkan melalui kuesioner yang berisi pertanyaan tertutup dan terbuka. Hasilnya kemudian dianalisis secara deskriptif untuk menggambarkan persepsi mahasiswi terhadap dua model pembelajaran tersebut.
Belajar Online: Fleksibel, Tapi Tidak Selalu Efektif
Hasil kuesioner menunjukkan bahwa pembelajaran online belum sepenuhnya dirasakan efektif dalam membantu pemahaman materi. Sebanyak 45,5 persen responden memilih sikap netral terhadap pernyataan bahwa pembelajaran online memudahkan pemahaman materi. Sementara itu, 27,3 persen tidak setuju, 18,2 persen setuju, dan 9,1 persen sangat tidak setuju.
Soal fleksibilitas waktu dan tempat, yang sering dianggap sebagai keunggulan utama pembelajaran daring, ternyata juga belum sepenuhnya dirasakan. Sebanyak 63,6 persen responden memilih jawaban netral, sedangkan masing-masing 18,2 persen menyatakan setuju dan tidak setuju. Temuan ini menunjukkan bahwa fleksibilitas pembelajaran online tidak otomatis dirasakan oleh semua mahasiswa.
Melalui jawaban terbuka, mahasiswi menegaskan bahwa pembelajaran online baru terasa efektif jika disertai kehadiran penuh dosen, metode pembelajaran yang interaktif, serta komunikasi dua arah. Tanpa hal tersebut, pembelajaran daring cenderung membuat mahasiswa pasif, mudah terdistraksi, dan kurang fokus.
Tatap Muka Masih Jadi Favorit
Berbeda dengan pembelajaran online, pembelajaran offline atau tatap muka mendapat penilaian yang jauh lebih positif. Sebanyak 54,5 persen responden sangat setuju dan 18,2 persen setuju bahwa pembelajaran tatap muka lebih membantu pemahaman materi.
Dari segi interaksi, hasilnya bahkan lebih tegas. Sebanyak 72,7 persen responden sangat setuju bahwa interaksi dengan dosen lebih efektif melalui pembelajaran offline, disusul 18,2 persen setuju, dan hanya 9,1 persen yang bersikap netral. Pembelajaran tatap muka dinilai membuat mahasiswa lebih fokus, lebih leluasa bertanya, serta mendapatkan penjelasan langsung yang lebih mudah dipahami.
Apa yang Sebenarnya Dibutuhkan Mahasiswa?
Analisis jawaban terbuka menunjukkan beberapa poin penting. Pertama, kehadiran dan fokus penuh mahasiswa sangat memengaruhi efektivitas pembelajaran, baik online maupun offline. Kedua, mahasiswa membutuhkan interaksi dua arah melalui diskusi dan tanya jawab agar materi lebih mudah dipahami. Ketiga, metode pembelajaran yang interaktif serta pemanfaatan teknologi yang tepat dapat meningkatkan kualitas pembelajaran. Keempat, peran dosen dalam menjelaskan materi secara langsung tetap dianggap sangat krusial.
Penutup: Menggabungkan yang Terbaik dari Dua Dunia
Berdasarkan hasil penelitian, mahasiswi Fakultas Dakwah angkatan 2025 menilai pembelajaran offline lebih efektif dibandingkan pembelajaran online, terutama dalam hal pemahaman materi dan interaksi dengan dosen. Meski demikian, pembelajaran online tetap memiliki potensi besar jika dirancang dengan metode yang menarik, komunikasi dua arah yang baik, serta kedisiplinan mahasiswa.
Ke depan, pembelajaran tatap muka perlu terus dioptimalkan sebagai ruang interaksi akademik yang bermakna. Sementara itu, pembelajaran online sebaiknya tidak sekadar menjadi pelengkap, melainkan dirancang secara kreatif dengan dukungan peran dosen yang jelas dan fasilitas pendukung yang memadai, terutama jaringan internet yang stabil. Dengan begitu, proses pembelajaran dapat berjalan lebih efektif dan relevan dengan kebutuhan mahasiswa masa kini.













Tinggalkan Balasan