Literatura Nusantara

Membumikan Sastra Melangitkan Kata

Kopi dan Hujan

[Sumber gambar: https://www.kompasiana.com/]

Penulis: Rizky Alfajri Syabany

Hujan turun perlahan pada sore yang sunyi di kota kecil tempat Rara menetap. Dari balik jendela kamarnya, ia memandang jalan yang basah, melihat orang-orang berjalan tergesa, menutupi kepala dengan apa saja yang sempat diraih. Aroma tanah basah menguar lembut, menyusup melalui celah jendela yang dibiarkan terbuka—aroma yang selalu berhasil meredakan gelisah di dadanya.

Rara menyalakan kompor kecil di sudut kamar. Ia menuangkan air panas ke dalam cangkir berisi kopi hitam favoritnya. Asap tipis mengepul, bertemu hawa dingin yang dibawa hujan, menciptakan kehangatan sederhana yang akrab. Dari radio tua di meja, sebuah lagu lama mengalun pelan—lagu yang dulu sering ia dengarkan bersama Dimas, sebelum waktu mengajari mereka cara berjarak tanpa kata.

Rara tersenyum samar. Kenangan itu tak lagi menyakitkan, hanya hadir seperti hujan sore ini: tenang, jujur, dan tak memaksa untuk dilawan. Ia membiarkannya singgah sejenak, lalu mengalir pergi dengan sendirinya.

Saat hujan mulai mereda, Rara melangkah mendekat dan menutup jendela. Langit di luar berubah jingga, seolah menyimpan sisa cahaya untuk mereka yang masih ingin berharap. Ia menatap cangkir kopinya yang hampir habis, lalu berbisik lirih,

“Terima kasih, hujan… sudah menemaniku hari ini.”

Dan entah mengapa, di antara sisa kopi dan udara senja, hatinya terasa sedikit lebih hangat.

Rara duduk di tepi ranjang, membiarkan detik berjalan tanpa ia kejar. Di luar, suara hujan telah berganti dengan bunyi sisa air yang menetes dari atap dan daun. Kota kecil itu selalu tahu cara menenangkan, seolah tak pernah memaksa siapa pun untuk segera sembuh.

Ia mengangkat ponselnya, menatap layar yang sunyi. Tak ada pesan baru, tak ada nama yang muncul. Rara menghela napas pelan, lalu meletakkan kembali benda itu, seakan ingin menegaskan pada dirinya sendiri bahwa tidak semua hal perlu ditunggu.

Di sudut kamar, ada kotak kecil berwarna cokelat. Di dalamnya tersimpan potongan hidup yang pernah berarti: tiket bioskop, kartu ucapan ulang tahun, dan secarik kertas berisi tulisan tangan Dimas. Rara tak membukanya hari ini. Ia hanya memastikan kotak itu masih di sana, seperti memastikan kenangan belum menguap seluruhnya.

Radio masih menyala, kini memutar lagu lain yang lebih ceria. Rara tersenyum, merasa aneh karena hatinya tidak lagi seberat dulu. Barangkali waktu memang tak menghapus, tapi mengajarkan cara berdamai.

Ia berdiri dan berjalan ke dapur kecil, mencuci cangkir kopinya. Air mengalir, membawa sisa ampas ke saluran pembuangan. Ada rasa lega dalam gerakan sederhana itu, seperti melepas beban yang tak perlu dibawa terlalu lama.

Di luar jendela dapur, langit mulai gelap. Lampu-lampu jalan menyala satu per satu, memantul di genangan air di aspal. Rara merasa dunia sedang bernapas perlahan, dan ia ikut mengatur napas bersamanya.

Malam datang tanpa drama. Tak ada tangis, tak ada pertanyaan. Hanya keheningan yang hangat dan jujur, sesuatu yang dulu sering ia hindari.

Rara mengambil buku catatan lusuh dari rak. Sudah lama ia tak menulis, tapi malam ini tangannya terasa ingin bergerak. Ia menuliskan hal-hal kecil: hujan, kopi, senja, dan rasa tenang yang singgah tanpa permisi.

Tulisan itu tak rapi, tak pula indah. Namun jujur. Dan bagi Rara, itu sudah lebih dari cukup.

Ia teringat pada dirinya yang dulu—gadis yang terlalu takut kehilangan hingga lupa menjaga diri sendiri. Kini, rasa takut itu masih ada, tapi tidak lagi menguasai.

Rara mematikan radio, membiarkan malam benar-benar sunyi. Dalam kesunyian itu, ia mendengar pikirannya sendiri, tak lagi gaduh, tak lagi saling bertabrakan.

Di kejauhan, terdengar suara motor melintas, lalu menghilang. Kota kecil itu kembali diam. Rara merasa seperti satu-satunya orang yang terjaga, dan anehnya, ia tidak merasa kesepian.

Ia merebahkan diri, menatap langit-langit kamar. Ada retakan kecil di sana, bentuknya seperti garis yang tak sempurna. Rara tersenyum, menyadari bahwa bahkan ketidaksempurnaan pun bisa menjadi bagian dari keindahan.

Pikirannya kembali pada Dimas, namun kini tanpa getir. Ia berharap lelaki itu baik-baik saja, di mana pun berada. Tidak lebih, tidak kurang.

Malam semakin larut. Rara menarik selimut hingga ke dada, membiarkan tubuhnya rileks. Ada rasa lelah yang manis, jenis lelah yang datang setelah hari dijalani dengan jujur.

Sebelum terlelap, Rara berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak lagi terlalu keras pada masa lalu. Apa yang telah pergi, biarlah menjadi bagian dari cerita, bukan luka yang terus dibuka.

Hujan memang telah berhenti, kopi telah habis, dan senja telah berganti malam. Namun di dalam diri Rara, sesuatu yang baru saja mulai tumbuh—perlahan, hangat, dan penuh harapan.

Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia tertidur dengan perasaan utuh.

Bagi Rara, hujan tak pernah sekadar air yang jatuh dari langit. Ia adalah jeda. Sebuah cara semesta mengajarkan bahwa tidak semua hal harus diselesaikan dengan tergesa. Hujan mengajaknya diam, menunggu, dan mendengarkan.

Seperti hujan, hidupnya pun pernah turun tanpa peringatan. Ada masa-masa ketika kesedihan datang bertubi-tubi, membasahi hari-hari yang semula terang. Namun hujan selalu berhenti, pikir Rara, dan keyakinan itulah yang perlahan menumbuhkan keberanian.

Kopi, di sisi lain, mengajarkannya tentang kejujuran. Pahitnya tak bisa disembunyikan, sama seperti rasa kehilangan yang pernah ia telan. Namun dari kepahitan itulah muncul kehangatan yang menenangkan, sesuatu yang tak bisa digantikan oleh rasa manis semata.

Rara memahami kini bahwa ia pernah menolak pahit, berharap hidup selalu lembut dan mudah. Padahal, seperti kopi, justru dalam pahit itulah ia menemukan rasa yang paling utuh.

Hujan membasuh, kopi menguatkan. Dua hal itu menjadi bahasa yang diam-diam merangkum hidupnya. Saat hujan turun, ia belajar melepaskan. Saat kopi diseruput perlahan, ia belajar menerima.

Ada hari-hari ketika hujan datang tanpa ia undang, seperti kenangan tentang Dimas yang tiba-tiba singgah. Namun kini Rara tak lagi menutup jendela hatinya rapat-rapat. Ia membiarkan kenangan itu hadir, lalu pergi dengan sendirinya.

Kopi mengajarkannya tentang waktu. Terlalu panas, ia melukai lidah. Terlalu dingin, ia kehilangan rasa. Begitu pula perasaan—harus diberi jeda agar bisa dinikmati dengan utuh.

Rara menyadari bahwa ia tak perlu terburu-buru untuk bahagia. Seperti menunggu hujan reda atau kopi cukup hangat, ada proses yang tak bisa dipercepat tanpa kehilangan makna.

Dalam diamnya sore dan panjangnya malam, hujan dan kopi menjadi saksi perubahan kecil dalam dirinya. Ia tak lagi berusaha menjadi kuat setiap saat; ia hanya berusaha jujur.

Hujan pernah membuatnya merasa sendirian, terkurung dalam suara yang tak berkesudahan. Kini, suara yang sama justru menjadi pelukan, menandakan bahwa ia tidak benar-benar sendiri.

Kopi pun dulu ia minum untuk melupakan. Sekarang, ia meminumnya untuk mengingat—bukan tentang siapa yang pergi, melainkan tentang dirinya yang masih bertahan.

Rara mulai memahami bahwa kehilangan tidak selalu berarti kekurangan. Kadang, kehilangan membuka ruang baru agar sesuatu yang lebih jujur bisa tumbuh.

Seperti hujan yang menyuburkan tanah, perpisahan telah menyuburkan hatinya. Dari sana tumbuh keberanian untuk mencintai diri sendiri, tanpa syarat dan tanpa tergesa.

Kopi di tangannya kini tak lagi sekadar kebiasaan, melainkan ritual kecil untuk merawat diri. Setiap tegukan adalah pengakuan bahwa ia layak merasa hangat.

Rara belajar bahwa tidak semua cerita harus berakhir bahagia untuk menjadi bermakna. Ada kisah yang cukup selesai dengan keikhlasan.

Hujan dan kopi, pada akhirnya, mengajarkannya satu hal yang paling penting: hidup tak selalu tentang menghindari luka, melainkan tentang belajar duduk bersama rasa, apa pun bentuknya.

Dan di tengah hujan yang pernah turun dan kopi yang pernah pahit, Rara menemukan dirinya sendiri—lebih tenang, lebih utuh, dan lebih berani melanjutkan hidup.

Pada akhirnya, hidup tak selalu meminta kita untuk menang, hanya untuk bertahan dengan jujur. Seperti Rara, setiap orang memiliki sore hujan dan secangkir kopi yang menemani proses memahami diri sendiri. Bukan untuk melupakan masa lalu, melainkan untuk menerima bahwa ia pernah ada dan pernah berarti.

Hujan mengajarkan bahwa kesedihan bukan musuh yang harus dilawan. Ia adalah bagian dari siklus, datang untuk membersihkan, lalu pergi memberi ruang bagi yang baru. Ketika seseorang berani diam dan mendengarkan, hujan justru menjadi bahasa yang menenangkan, bukan ancaman yang menakutkan.

Kopi mengingatkan bahwa pahit bukanlah kegagalan. Dalam pahit, ada kejujuran rasa dan keteguhan proses. Kehidupan yang utuh bukan tentang menghindari rasa tidak nyaman, tetapi tentang keberanian untuk menyesapnya perlahan hingga hangatnya terasa.

Cerita Rara mengajarkan bahwa waktu tidak menyembuhkan segalanya, tetapi waktu memberi jarak agar luka bisa dipandang dengan lebih jernih. Dalam jarak itu, manusia belajar membedakan mana yang perlu disimpan sebagai kenangan, dan mana yang harus dilepaskan sebagai beban.

Tidak semua kehilangan perlu diganti. Ada kehilangan yang cukup dihormati, lalu dibiarkan menjadi bagian dari perjalanan. Ketika seseorang berhenti memaksa hatinya untuk segera pulih, justru di sanalah pemulihan mulai bekerja.

Cerpen ini juga menasihati bahwa merawat diri bisa sesederhana menutup jendela saat hujan reda, atau menyeduh kopi di senja hari. Hal-hal kecil yang dilakukan dengan penuh kesadaran sering kali lebih menyelamatkan daripada nasihat besar yang terdengar indah.

Akhirnya, seperti Rara, setiap orang berhak menemukan caranya sendiri untuk pulang ke dirinya. Dalam hujan yang pernah turun dan kopi yang pernah pahit, selalu ada kemungkinan untuk hidup dengan lebih tenang, lebih menerima, dan lebih berani melangkah ke hari esok.


Eksplorasi konten lain dari Literatura Nusantara

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Categories:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *