Literatura Nusantara

Membumikan Sastra Melangitkan Kata

Kokonao, Tempatku Pulang

[Sumber gambar: AI]

Penulis: Brigita M. Leisubun

Bulan Desember tahun lalu, saya pulang ke kampung saya di Amar. Tempat pulang yang paling terasa nyaman. Di sana, semuanya berjalan lebih pelan. Tidak ada masalah yang mengejar, tidak ada hal yang dikerjakan, tidak ada jaringan yang membuat orang sibuk dengan ponsel. Rasanya seperti benar-benar diberi waktu untuk bernapas.

Karena tidak ada jaringan, kami jadi lebih banyak menghabiskan waktu bersama. Hampir setiap hari kami pergi ke laut untuk memancing ikan. Kami lebih sering bercerita, tertawa, dan menikmati kebersamaan. Hal-hal sederhana seperti itu justru terasa paling berharga.

Selama di Kokonao, kami juga mengunjungi makam kakek saya. Kami membersihkan makam lalu menyalakan lilin. Disana suasananya sangat tenang. Yang kami dengar hanya suara angin dan suara daun pada pohon kelapa yang bergesekkan ketika ditiup angin. Di saat itu, saya merasa lebih dekat dengan keluarga dan kenangan yang pernah ada.

Setelah dari makam, setiap sore kami biasanya pergi ke pantai. Banyak waktu kami habiskan di sana. Kami membakar ikan hasil pancingan, makan bersama, lalu berbaring di pasir. Lalu ketika berbaring kakak saya berkata “gita putar lagu Three Little Birds”.lalu saya pun memutarnya sambil menikmati matahari terbenam, Angin bertiup kencang, dan laut terlihat luas.

Liburan itu tidak mewah, tapi sangat berarti bagi saya. Kokonao mengajarkan bahwa pulang bukan soal jauhnya perjalanan, melainkan tentang rasa tenang. Di tempat itu, saya belajar menikmati kebersamaan, alam, dan waktu yang berjalan tanpa terburu-buru.

Namun, hari-hari di Kokonao tidak terasa lama. Waktu seolah berjalan diam-diam, tanpa suara, hingga suatu pagi saya menyadari bahwa koper di sudut kamar mulai diisi kembali. Ada perasaan berat setiap kali mengingat bahwa ketenangan ini harus ditinggalkan, digantikan oleh rutinitas yang menunggu di luar sana.

Malam terakhir sebelum pulang, saya duduk di depan rumah, memandangi langit yang dipenuhi bintang. Di kota, bintang hanyalah cerita; di Kokonao, mereka nyata dan terasa dekat. Saya berpikir tentang hidup yang selama ini saya jalani—tentang betapa seringnya saya terburu-buru, mengejar sesuatu yang bahkan belum tentu saya butuhkan.

Pagi harinya, suara laut kembali membangunkan saya. Aroma asin bercampur dengan bau kayu basah, menjadi pertanda bahwa Kokonao akan selalu tinggal dalam ingatan. Keluarga mengantar saya dengan senyum yang sederhana, tanpa banyak kata, seolah memahami bahwa perpisahan tidak perlu dijelaskan.

Dalam perjalanan meninggalkan kampung, saya menoleh sekali lagi. Laut masih sama, angin masih berembus pelan, dan Kokonao tetap berdiri tenang seperti semula. Tidak ada yang berubah, kecuali diri saya. Saya pulang membawa sesuatu yang tak bisa dimasukkan ke dalam tas: ketenangan.

Sejak saat itu, setiap kali dunia terasa terlalu bising, saya mengingat Kokonao. Tentang laut, tawa, dan sore yang sederhana. Tempat pulang itu mungkin jauh secara jarak, tetapi selalu dekat dalam hati—menjadi ruang untuk kembali, meski hanya lewat ingatan.

Dan saya tahu, suatu hari nanti, saya akan pulang lagi. Bukan untuk mencari pelarian, melainkan untuk mengingat siapa diri saya sebenarnya. Kokonao akan selalu menjadi tempat pulang, tempat di mana saya belajar berhenti sejenak, dan merasa cukup.


Eksplorasi konten lain dari Literatura Nusantara

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Categories:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *