Literatura Nusantara

Membumikan Sastra Melangitkan Kata

Ketulusan Cinta di Tengah Perbedaan dalam “Hujan Bulan Juni”

[Sumber gambar: Dokumentasi Penulis]

Penulis: Yulia Rachman

Identitas Buku

Judul Novel              : Hujan Bulan Juni

Penulis                      : Sapardi Djoko Damono

Penerbit                    : Gramedia Pustaka Utama

Tahun Terbit             : Juni 2015

Jumlah Halaman      : 133 halaman

Genre                       : Romansa

ISBN                        : 9786020318431 (Edisi 2025)

  • Sinopsis

Novel Hujan Bulan Juni karya Sapardi Djoko Damono, menceritakan hubungan asmara antara Sarwono dan Pingkan. Awal mula cerita novel ini, dikisahkan seorang pemuda yang bernama Sarwono, ia merupakan keturunan asli Jawa di Solo. Sarwono adalah seorang dosen muda di Universitas Indonesia yang mengajar di Program Studi Antropologi. Sarwono pandai menulis puisi, bagi Sarwono puisi merupakan dukun yang dapat menghilangkan rasa capek. Menulis puisi, sudah menjadi hobi Sarwono. Dalam cerita novel ini, Sarwono digambarkan sebagai sosok pemuda yang cerdas, mandiri, lembut dan romantis. Dikisahkan dalam novel ini, bahwa Sarwono pertama kali mengenal Pingkan karena dia adalah adik dari temannya yang bernama Toar. Pingkan merupakan keturunan Jawa-Manado, ayah Pingkan orang Manado sedangkan ibu Pingkan orang Jawa. Pingkan adalah seorang dosen muda di Universitas Indonesia yang mengajar di Program Studi Sastra Jepang. Pingkan digambarkan sebagai sosok pemuda yang cerdas, mandiri, dan ceria.

Hubungan antara Sarwono dan Pingkan sangat rumit, karena sering mengalami masalah. Keluarga Pingkan selalu mempermasalahkan perbedaan yang ada di antara Sarwono dan Pingkan, misalnya perbedaan suku, budaya maupun agama. Berbeda dengan Sarwono dan Pingkan, mereka tidak terlalu memikirkan perbedaan tersebut. Permasalahan tidak hanya datang dari keluarga, kabar mengenai Pingkan yang harus pergi ke Jepang karena telah mendapatkan beasiswa di Universitas Kyoto untuk melanjutkan studinya. Kabar tersebut membuat Sarwono khawatir terhadap Pingkan, karena di Jepang nanti Pingkan akan selalu bersama dengan Katsuo yang merupakan teman Pingkan. Katsuo adalah seorang dosen Jepang yang pernah menempuh kuliah di Universitas Indonesia.

Sebelum hari keberangkatan Pingkan ke Jepang, Sarwono diperintahkan untuk presentasi kerja sama di Universitas Sam Ratulangi di Manado. Sarwono meminta Pingkan untuk menemaninya. Di Universitas Sam Ratulangi, Sarwono dan Pingkan bertemu dengan Pak Tumbelaka, ia terlihat menyukai Pingkan. Hubungan Sarwono dan Pingkan menjadi semakin rumit sejak Sarwono dan Pingkan berkunjung ke rumah keluarga Pingkan, yaitu tantenya Pingkan. Keluarga Pingkan tidak menyambut baik Sarwono yang merupakan keturunan Jawa dan memiliki perbedaan termasuk suku, budaya dan agama. Dalam permasalahan ini, menjadi semakin rumit karena keluarga Pingkan menjodohkan Pingkan dengan Pak Tumbelaka. Pingkan sama sekali tidak menerima perjodohan itu.

Saat Pingkan sudah memulai studinya di Jepang, Sarwono sangat merasa khawatir karena Katsuo menaruh hati pada Pingkan. Namun, Sarwono tetap berpikir dengan tenang dan positif karena ia yakin dengan kesetiaan Pingkan kepada dirinya. Walaupun 2 tahun lamanya Pingkan di Jepang, Sarwono yakin bahwa Pingkan akan tetap setia terhadap dirinya.

Tak hanya perjuangan soal asmara saja, dalam novel tersebut menceritakan perjuangan Sarwono untuk melawan penyakit yang dideritanya, yaitu paru-paru basah atau flek hitam yang ada di paru-parunya. Sampai pada akhir novel, Sarwono mengalami kritis dan harus berbaring lemas di rumah sakit. Sebelum itu Sarwono sempat menuliskan puisi karyanya di koran atau surat kabar swara keyakinan. Awalnya Pingkan ingin memberikan kejutan kepada Sarwono karena pulang ke Indonesia, namun setelah Pingkan sampai di Jakarta dan mendapat kabar bahwa Sarwono sedang kritis, Pingkan langsung bergegas pergi dari Jakarta ke Solo untuk menjenguk Sarwono. Setiba di rumah sakit, keluarga Sarwono termasuk Bu Hadi memberikan koran yang sudah sedikit lecek. Isi koran itu berisikan tiga buah sajak pendek karya Sarwono, seolah itu adalah surat takdir yang membuat Pingkan merasa sangat sedih.

  • Kelebihan

Novel Hujan Bulan Juni karya Sapardi Djoko Damono, berisi konflik yang sederhana. Gaya penulisan novel ini memiliki keunikan yang dapat menjadi daya tarik tersendiri. Narasi dalam novel ini ditulis dengan gaya bercerita seperti sedang berpuisi, karena memiliki gaya bahasa yang puitis dan lembut. Sapardi Djoko Damono banyak memberikan pesan tersirat melalui novel ini, termasuk toleransi agama dalam sebuah hubungan, serta ketulusan dan kesetiaan cinta walaupun banyak cobaan yang harus dihadapi. Secara keseluruhan pembaca dapat menikmati novel ini, seperti menikmati karakter para tokoh serta narasi yang membuat pembaca senyum-senyum sendiri ketika membacanya.

  • Kekurangan

Novel Hujan Bulan Juni karya Sapardi Djoko Damono, memiliki alur maju-mundur yang melompat-lompat. Terkadang alur ceritanya terjadi dilatar waktu saat ini, kemudian tiba-tiba terdapat alur flashback, dan setelah itu melompat ke peristiwa lain yang terjadi di masa depan. Maka jika kita tidak mencermati kalimat demi kalimatnya, bisa jadi kita akan kebingungan dengan alurnya.

  • Simpulan

Novel Hujan Bulan Juni karya Sapardi Djoko Damono adalah sebuah karya sastra yang menggambarkan hubungan asmara antara Sarwono dan Pingkan. Meskipun konfliknya cukup sederhana, namun mengandung makna yang mendalam. Melalui gaya bahasa yang puitis dan lembut, novel ini menggambarkan perjuangan cinta yang diuji oleh perbedaan latar belakang, jarak, serta kondisi kesehatan. Meskipun alur ceritanya terkadang maju-mundur serta melompat-lompat sehingga membutuhkan ketelitian dalam membaca, novel ini tetap memberikan kesan mendalam bagi pembaca. Secara keseluruhan, novel Hujan Bulan Juni mengajarkan nilai kesetiaan, ketulusan, dan toleransi dalam menjalani hubungan, sehingga layak untuk dibaca dan diapresiasi sebagai sebuah karya sastra romantis yang penuh pesan kehidupan.


Eksplorasi konten lain dari Literatura Nusantara

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Categories:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *