
[Sumber gambar: https://stekom.ac.id/]
Penulis: Eneng Zakiyah
Waktu adalah sumber daya yang paling adil sekaligus paling kejam. Setiap orang memiliki jatah yang sama, 24 jam sehari, namun hasil yang dicapai bisa sangat berbeda. Di kalangan mahasiswa baru, keluhan “tidak punya waktu” sering terdengar. Padahal, ada pula mahasiswa yang mampu kuliah, aktif organisasi, beribadah dengan tertib, bahkan masih punya waktu beristirahat. Perbedaannya bukan pada jumlah waktu, melainkan pada cara mengelolanya.
Mahasiswa baru Fakultas Dakwah angkatan 2025 berada pada fase transisi yang tidak mudah. Mereka berpindah dari dunia sekolah yang serba terstruktur menuju dunia perguruan tinggi yang menuntut kemandirian. Perubahan sistem pembelajaran, beban akademik yang meningkat, serta kebebasan mengatur waktu menjadi tantangan tersendiri. Tanpa kemampuan manajemen waktu yang baik, aktivitas perkuliahan justru berpotensi menimbulkan stres dan ketidakseimbangan hidup.
Tantangan tersebut semakin terasa karena mahasiswa Fakultas Dakwah tidak hanya berkutat dengan perkuliahan. Berbagai kegiatan nonakademik seperti ta’aruf fakultas dan universitas, bela negara, latihan dasar kepemimpinan (LDKM), hingga aktivitas organisasi ikut menyita waktu dan energi. Tidak sedikit mahasiswa baru yang akhirnya kewalahan membagi waktu antara kuliah, tugas, ibadah, dan istirahat. Dampaknya, tugas menumpuk, tenggat waktu terkejar-kejar, dan kualitas pembelajaran pun menurun.
Berangkat dari kondisi tersebut, penelitian ini mencoba melihat bagaimana mahasiswa baru Fakultas Dakwah mengelola waktu mereka di tengah padatnya aktivitas. Data dikumpulkan melalui kuesioner yang diisi oleh mahasiswa baru angkatan 2025. Dari 47 mahasiswa, sebanyak 16 responden dilibatkan dalam penelitian ini. Mayoritas responden adalah perempuan, dengan partisipasi terbanyak berasal dari kelas B.
Hasil kuesioner menunjukkan bahwa sebagian besar mahasiswa baru menyadari pentingnya manajemen waktu. Mereka memahami bahwa kemampuan mengatur waktu berkaitan langsung dengan tanggung jawab sebagai mahasiswa. Manajemen waktu dipandang sebagai cara untuk menghindari stres akibat tugas menumpuk, melatih kedisiplinan diri, meningkatkan produktivitas, serta membantu menentukan prioritas.
Namun, kesadaran tersebut belum sepenuhnya diikuti dengan praktik nyata. Sebagian besar mahasiswa mengaku belum terbiasa membuat jadwal harian atau mingguan. Alasannya beragam, mulai dari kesulitan menjaga konsistensi hingga jadwal perkuliahan yang kerap berubah. Meski begitu, ada pula mahasiswa yang telah mencoba menyusun jadwal kegiatan dan merasakan manfaatnya. Mereka biasanya memulai dengan mencatat prioritas utama, seperti jadwal kuliah, tugas, dan ujian, lalu menambahkan kegiatan lain secara realistis agar tidak saling bertabrakan.
Kesulitan paling sering dialami mahasiswa baru adalah menentukan prioritas ketika beberapa tugas dan kegiatan datang bersamaan. Selain itu, distraksi seperti penggunaan ponsel berlebihan, bermain gim, dan kebiasaan nongkrong tanpa tujuan juga menjadi penyebab utama pemborosan waktu. Tanpa kontrol yang baik, aktivitas-aktivitas tersebut perlahan menggerus waktu belajar dan istirahat.
Menariknya, hampir seluruh responden sepakat bahwa pengelolaan waktu sangat memengaruhi keseimbangan antara kuliah, ibadah, dan kehidupan pribadi. Dengan manajemen waktu yang baik, mahasiswa merasa lebih tenang dalam menjalankan ibadah, tidak terburu-buru menyelesaikan tugas, serta memiliki waktu istirahat yang cukup. Mereka pun berharap ke depan dapat lebih disiplin, mampu menentukan prioritas, dan menghindari kebiasaan menunda pekerjaan.
Secara konsep, manajemen waktu bukan sekadar soal menyusun jadwal, melainkan tentang memanfaatkan waktu secara efektif dan efisien untuk mencapai tujuan hidup. Dalam konteks mahasiswa, keterampilan ini menjadi bekal dasar untuk menghadapi tuntutan akademik dan nonakademik. Mahasiswa yang mampu mengatur waktu dengan baik cenderung lebih produktif, memiliki tingkat stres yang lebih rendah, dan menunjukkan performa akademik yang lebih baik.
Lebih dari itu, manajemen waktu berperan penting dalam pembentukan karakter. Kebiasaan mengatur waktu melatih mahasiswa untuk mandiri, bertanggung jawab, dan mampu mengambil keputusan berdasarkan skala prioritas. Nilai-nilai ini tidak hanya berguna selama masa perkuliahan, tetapi juga menjadi bekal penting dalam kehidupan profesional dan sosial di masa depan.
Pada akhirnya, manajemen waktu adalah seni memilih: memilih yang penting daripada yang sekadar menyibukkan diri. Bagi mahasiswa baru Fakultas Dakwah angkatan 2025, kemampuan ini menjadi kunci untuk menjalani perkuliahan secara seimbang antara belajar, beribadah, berorganisasi, dan menjaga kesehatan diri. Sebab, waktu yang berlalu tidak akan pernah kembali, tetapi dapat menjadi investasi berharga jika dikelola dengan bijak.













Tinggalkan Balasan