Literatura Nusantara

Membumikan Sastra Melangitkan Kata

Ketika Berat Sama Dipikul Ringan Sama Dijinjing

[Sumber gambr: https://www.ayosemarang.com]

Penulis: Aldi Suria Laksana

Muezza adalah siswa kelas 6 SD Merah Putih, menjelang kelulusan. Ia dikenal bukan karena kepintarannya yang luar biasa, melainkan karena kebiasaannya yang disiplin: buku-bukunya selalu tertata rapi, ia tak pernah membuang sampah sembarangan, dan helm sepeda Muezza selalu terkunci. Bagi Muezza, rutinitas kecil yang bertanggung jawab adalah cara ia menghargai lingkungan—sebuah bentuk sederhana dari bela negara.

Setiap Agustus tiba, suasana sekolahnya berubah meriah. Papan mading dihiasi bendera merah putih, dan lapangan diubah menjadi arena perlombaan. Lomba bakiak adalah yang paling ditunggu. Lomba ini menuntut kekompakan tim, di mana tiga pasang kaki harus melangkah serempak dengan sebilah papan kayu.

Tahun ini, tim unggulan adalah tim Bintang, yang diketuai oleh Dika, anak paling populer di sekolah. Mereka punya sepatu yang lebih bagus, seragam paling keren, dan pendukung paling riuh. Muezza, yang mewakili kelas 6-B, berharap bisa menyelesaikan balapan tanpa jatuh.

Tibalah giliran final. Tim Bintang dan tim 6-B berhadapan sengit. Namun, di tengah balapan, mata Muezza yang tajam menangkap sesuatu. Ketika Dika dan timnya mencapai tikungan terakhir, salah satu tali bakiak mereka terlepas. Alih-alih berhenti, Dika dengan cepat menginjakkan kaki pada tumit temannya untuk menahan papan, melanggar aturan jelas bahwa kaki tidak boleh lepas dari tali. Kecurangan itu berlangsung sepersekian detik, tersembunyi oleh debu dan teriakan penonton. Mereka melaju dan menang.

Sorak sorai membahana. Tim Bintang merayakan kemenangan itu dengan gembira, mengangkat piala mini dengan bangga. Sementara itu, tim Muezza hanya bisa pasrah, walau mereka tahu ada yang tidak beres. Muezza merasakan gejolak aneh di perutnya—perasaan yang sama saat ia melihat teman-temannya menyontek saat ujian. Kemenangan yang didapat dengan kecurangan bukanlah kebanggaan, melainkan pengkhianatan kecil terhadap nilai-nilai bangsa.

Di rumah, setelah upacara pembagian hadiah yang terasa hampa, Muezza duduk merenung di teras. Ia harus memilih: “Diam demi menghindari masalah, atau berbicara demi menegakkan keadilan.”

Ayahnya, Pak Harun, yang kebetulan sedang menyiram tanaman, mendekat. “Kenapa murung, Nak? Bukankah seharusnya kamu bangga sudah berusaha maksimal?”

Muezza menceritakan apa yang dilihatnya. “Tapi Ayah, mereka curang. Mereka memenangkan piala itu dengan melanggar aturan. Apa gunanya bela negara jika kita tidak bisa jujur pada diri sendiri?”

Pak Harun meletakkan selang airnya. “Itu pertanyaan yang sangat bagus, Muezza. Kamu ingat peribahasa kesukaan Ayah? ‘Berat sama dipikul, ringan sama dijinjing’?”

“Tentu, Ayah. Artinya kita harus gotong royong, berbagi beban.”

“Tepat. Tapi maknanya jauh lebih dalam dari sekadar angkat-mengangkat. Ketika seseorang curang, ia tidak merugikan tim lawan, tapi ia menimpakan beban moral yang berat itu pada semua orang yang melihat, termasuk kamu. Ia merusak semangat persatuan dan sportivitas yang seharusnya kita junjung saat merayakan Kemerdekaan. Itu bukan bela negara. Bela negara adalah ketika kita memilih memikul beban kebenaran, seberat apa pun rasa tidak nyaman yang ditimbulkannya, dan berbagi beban tanggung jawab itu dengan sesama.”

Muezza mengangguk. Ia sadar, membiarkan kecurangan berlalu tanpa teguran sama dengan ikut memikul beban ketidakjujuran itu. Tindakan kecil yang ia ambil di bangku SD adalah bagian dari membangun karakter bangsa.

Keesokan harinya, dengan hati berdebar, Muezza menceritakan kecurangan itu kepada Bu Tika, guru pendamping perlombaan. Muezza berbicara dengan tenang, didukung oleh fakta-fakta yang ia ingat. Bu Tika terkejut dan kemudian melakukan penyelidikan diam-diam. Setelah membandingkan kesaksian beberapa penonton, Dika akhirnya dipanggil. Dika dan timnya mengakui kecurangan itu, piala ditarik, dan mereka dihukum membersihkan seluruh lapangan.

Muezza mendapat cemoohan dari beberapa teman Dika. Ia dijauhi saat jam istirahat. Namun, bagi timnya dan beberapa murid lain yang menjunjung kejujuran, Muezza telah menjadi pahlawan kecil. Ia telah menorehkan jejak langkah si kecil yang berani: menegakkan keadilan. Kejadian itu memaksa seluruh murid SD Merah Putih untuk berpikir ulang tentang makna sejati kemenangan dan kejujuran.

Dampak kejujuran Muezza tidak berhenti di gerbang sekolah. Seminggu kemudian, di lingkungan masyarakat, musim hujan tiba. Saluran air di gang perumahan mereka tersumbat parah oleh tumpukan sampah plastik dan daun kering. Tetangga-tetangga Muezza mengeluh dan menunggu petugas kebersihan.

Muezza melihat genangan air yang mulai meninggi dan tumpukan sampah yang mengotori. Ia teringat lagi ucapan Ayah: beban harus dipikul bersama. Banjir kecil di gang adalah masalah seluruh warga.

Ia mengambil sarung tangan, sekop kecil, dan mulai mengumpulkan sampah di depan rumahnya. Ia bekerja pelan-pelan. Ibu-ibu yang sedang bergosip di teras terdiam melihatnya.

Tak lama, jejak langkah si kecil itu kembali memicu perubahan. Ibu Sinta, tetangga yang paling rajin mengeluh, merasa malu melihat Muezza berjuang sendiri. Ia keluar membawa cangkul, diikuti oleh dua remaja putra di ujung gang.

“Nak, sini, biar Om bantu!” kata Pak Bimo, tetangga yang biasa sibuk dengan ponselnya.

Dalam waktu dua jam, seluruh got di gang itu bersih. Lumpur dan sampah dibersihkan, air mengalir lancar. Mereka bekerja bahu-membahu. Inilah manifestasi nyata dari ‘Berat Sama Dipikul, Ringan Sama Dijinjing’ di tingkat masyarakat—memikul beban kebersihan, menjinjing tanggung jawab lingkungan. Mereka telah mengamalkan bela negara dalam bentuk kesiapsiagaan lingkungan.

Di rumah, adik Muezza, Dimas, yang tadinya selalu mengeluh setiap kali disuruh mencuci piring, kini berubah. Melihat kakaknya yang berani menghadapi masalah besar di sekolah dan memulai gotong royong di lingkungan, Dimas mulai mengambil inisiatif. Ia menyadari bahwa tugas kecil di rumah (ringan) juga harus ia pikul (berat). Kekuatan kolektif rumah tangga mereka meningkat.

Saat upacara penurunan bendera di akhir bulan Agustus, Muezza berdiri tegak di barisan siswa. Ia melihat tiang bendera dan teringat kecurangan bakiak, teringat got yang tersumbat, dan teringat piring-piring kotor.

Muezza menyadari, Rantai besi bangsa itu tidak terbuat dari baja pabrikan, tetapi dari jutaan tindakan integritas dan tanggung jawab yang dilakukan setiap hari. Setiap kali ia memilih kejujuran di sekolah, setiap kali ia memelopori gotong royong di lingkungan, ia telah menambah satu tautan besi yang kuat pada rantai itu.

Bela negara bukan lagi teori yang rumit. Itu adalah janji harian. Ia adalah jejak langkah si kecil yang menolak menipu, yang menolak menunggu, dan yang selalu memilih memikul beban kebenaran dan tanggung jawab bersama. Dan dari langkah-langkah kecil siswa kelas 6 itulah, fondasi kokoh Indonesia terus diperkuat.

Kalimat Mutiara

Pesan moral ini diperkuat oleh kebijaksanaan yang telah bertahan melintasi waktu, sejalan dengan prinsip aksi dan tanggung jawab Muezza.

Seperti kata filsuf kuno:

“Bergerak belum tentu berhasil, tetapi diam sudah pasti gagal.”

Kisah Muezza adalah bukti nyata dari kalimat mutiara ini. Ketika ia dihadapkan pada ketidakadilan, Muezza saja memilih diam dan menganggap kegagalan sportivitas itu sebagai urusan orang lain, yang berarti kegagalan integritas sudah pasti terjadi. Namun, ia memilih untuk bergerak—mengambil langkah berisiko untuk membela kebenaran—dan keberaniannya itu berhasil memulihkan keadilan dan memicu gotong royong di lingkungannya.

Pesan ini mendesak kita semua: untuk membela negara, jangan pernah takut untuk memulai langkah pertama, sekecil apa pun dampaknya terlihat.


Eksplorasi konten lain dari Literatura Nusantara

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Categories:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *