Literatura Nusantara

Membumikan Sastra Melangitkan Kata

Kehilangan Ayah dan Dampaknya terhadap Kesehatan Mental Siswa

[Sumber gambar: https://melindahospital.com/]

Penulis: Septian Bagus Hari Prastowo

Kehilangan seorang ayah merupakan peristiwa besar dalam kehidupan seorang anak. Bagi siswa, peristiwa ini tidak hanya menyisakan kesedihan yang mendalam, tetapi juga membawa perubahan besar dalam kondisi emosional, proses belajar, serta hubungan sosial di lingkungan sekolah. Ayah sering dipandang sebagai sosok pelindung, pemberi rasa aman, sekaligus teladan dalam kehidupan. Ketika figur ini tiada, anak kerap merasa kehilangan pegangan dan harus menghadapi dunia dengan perasaan yang jauh lebih rapuh.

Berbagai penelitian menunjukkan bahwa siswa yang kehilangan ayah cenderung mengalami kecemasan, kesedihan berkepanjangan, hingga penurunan rasa percaya diri. Perasaan kehilangan ini tidak selalu tampak secara langsung, tetapi dapat muncul dalam bentuk perilaku seperti menjadi lebih pendiam, mudah tersinggung, atau menarik diri dari pergaulan. Kondisi tersebut tentu memengaruhi motivasi belajar dan kemampuan siswa untuk berinteraksi secara sehat dengan teman sebaya.

Dalam konteks pendidikan, kesehatan mental memegang peran penting dalam menunjang keberhasilan belajar. Siswa yang berada dalam kondisi emosional stabil akan lebih mudah berkonsentrasi, memahami pelajaran, serta menghadapi tuntutan akademik. Sebaliknya, siswa yang mengalami tekanan emosional akibat kehilangan ayah sering kali mengalami penurunan prestasi belajar dan kesulitan beradaptasi dengan lingkungan sekolah.

Oleh karena itu, peran sekolah menjadi sangat penting dalam mendampingi siswa yang mengalami kehilangan ayah. Guru, wali kelas, dan konselor sekolah diharapkan mampu memberikan perhatian lebih melalui pendekatan yang empatik dan manusiawi. Layanan bimbingan dan konseling yang berkelanjutan dapat membantu siswa mengenali emosinya, memahami proses berduka, serta belajar mengelola perasaan dengan cara yang lebih sehat.

Kesimpulannya, kehilangan ayah merupakan faktor yang berpengaruh signifikan terhadap kesehatan mental siswa. Dengan dukungan yang tepat dari keluarga dan sekolah, siswa diharapkan mampu melewati masa sulit ini dan tetap berkembang secara optimal, baik secara emosional, sosial, maupun akademik.

Tambahan dukungan dari keluarga inti, terutama ibu atau wali terdekat, juga sangat berperan dalam proses pemulihan mental siswa. Komunikasi yang terbuka, penuh kasih, dan tidak menghakimi dapat membantu anak merasa didengar dan dipahami. Ketika anak merasa aman di rumah, mereka akan lebih siap menghadapi tantangan di lingkungan sekolah.

Selain itu, lingkungan pertemanan yang positif juga dapat menjadi sumber kekuatan bagi siswa yang mengalami kehilangan ayah. Teman sebaya yang suportif mampu memberikan rasa kebersamaan dan mengurangi perasaan kesepian. Oleh karena itu, penting bagi sekolah untuk menciptakan iklim sosial yang ramah, inklusif, dan saling peduli antar siswa.

Penting pula untuk dipahami bahwa setiap anak memiliki cara dan waktu yang berbeda dalam menghadapi kehilangan. Ada siswa yang mampu beradaptasi dengan cepat, namun ada pula yang membutuhkan waktu lebih lama. Sikap sabar dan tidak memaksakan anak untuk “cepat pulih” merupakan bentuk dukungan yang sangat berarti dalam proses pemulihan kesehatan mental mereka.

Sekolah juga dapat mengintegrasikan pendidikan karakter dan kesehatan mental dalam kegiatan pembelajaran. Melalui diskusi, kegiatan reflektif, atau program penguatan karakter, siswa dapat belajar mengenali emosi, menumbuhkan empati, serta membangun ketahanan mental sejak dini. Hal ini tidak hanya bermanfaat bagi siswa yang mengalami kehilangan, tetapi juga bagi seluruh peserta didik.

Dengan kolaborasi yang baik antara keluarga, sekolah, dan lingkungan sosial, siswa yang kehilangan ayah tetap memiliki peluang besar untuk tumbuh menjadi pribadi yang tangguh. Pengalaman kehilangan, meskipun menyakitkan, dapat menjadi bagian dari proses pembentukan karakter apabila didampingi dengan kasih sayang, pemahaman, dan dukungan yang tepat.


Eksplorasi konten lain dari Literatura Nusantara

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Categories:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *