Literatura Nusantara

Membumikan Sastra Melangitkan Kata

Kehidupan di bawah Laut

[Sumber gambar: AI]

Penulis: Hilya Qanita Isnaini

Suatu hari, Tiara sedang bermain di pantai bersama keluarganya. Ombak bergulung pelan dan angin bertiup sejuk. Tiara melihat air laut yang berkilauan dan merasa sangat tertarik.

“Ibu, boleh nggak aku ke air?” tanya Tiara.
“Boleh, tapi jangan jauh-jauh ya,” jawab ibunya.

Tiara pun berlari kecil ke arah ombak. “Wah, indah sekali pantainya,” ucap Tiara dengan gembira.

Tiba-tiba, Tiara melihat seekor penyu dan seekor bintang laut di dekat kakinya. Bintang laut itu menyapa lebih dulu.
“Hai,” sapa bintang laut.
“Hai juga,” jawab Tiara sambil tersenyum.

Tiara melihat penyu itu tampak malu-malu. Ia pun menghampiri mereka.
“Kalian kenapa ada di sini?” tanya Tiara.
“Kami sedang jalan-jalan,” jawab bintang laut.
“Iya,” kata penyu pelan.

“Kamu mau ikut kami ke sana nggak?” tanya bintang laut sambil menunjuk ke arah laut.
“Ayo!” seru Tiara dengan senang.

Mereka pun bersiap-siap.
“Naik ke tempurungku,” ucap penyu.
Tiara duduk di atas tempurung penyu.
“Pegang erat-erat!” kata penyu.

Mereka bertiga pun menyelam ke dalam laut.
“Oh iya, aku lupa. Siapa namamu?” tanya bintang laut.
“Namaku Tiara,” jawab Tiara.

“Tiara, kamu mau ke tempat yang sangat indah?” tanya penyu.
“Mauuu,” kata Tiara penuh semangat.

Tak lama kemudian, mereka sampai di sebuah tempat dengan batu karang yang sangat indah.
“Wow, indah sekali!” ucap Tiara kagum.
“Iya, tempat ini sudah indah sejak dulu. Ini rumah bintang laut dan ikan-ikan lainnya,” jelas penyu.

“Mau nggak kita main dulu di sini?” tanya bintang laut.
“Ayo!” seru Tiara dan penyu.
“Kita main petak umpet,” kata penyu.

“Oke, aku yang jaga!” ucap Tiara.
“1… 2… 3…” Tiara mulai menghitung.

Bintang laut dan penyu bersembunyi.
“Siap atau tidak, aku datang!” kata Tiara.

Tiara mencari ke balik batu dan menemukan bintang laut.
“Yah, aku ketahuan,” kata bintang laut.
“Ayo, kita cari penyu!” ajak Tiara.

Mereka berenang ke sana kemari, tetapi penyu tidak ditemukan.
“Ayo kita ke sana, Ti,” kata bintang laut.
Tiara pun mengangguk dan mengikutinya.

Namun, semakin lama tempat itu semakin gelap.
“Kita mau ke mana?” tanya Tiara.
“Aku juga nggak tahu,” jawab bintang laut.

“Sepertinya kita tersesat,” pikir Tiara.
“Ah! Kita di laut dalam!” kata bintang laut panik.
“Di sini banyak makhluk laut yang seram. Kita harus segera ke permukaan,” jelasnya.
“Oke,” jawab Tiara.

Dalam perjalanan, mereka melihat ikan-ikan menyeramkan, salah satunya angler fish dengan lampu di kepalanya dan gigi yang tajam.
“Aku capek,” kata Tiara.
“Ayo cepat! Kamu mau terus di sini?” tanya bintang laut.

Akhirnya, mereka melihat cahaya dan berenang menuju ke sana. Namun, sesampainya di tempat terang itu, mereka justru melihat banyak sampah plastik di laut.
Mereka juga melihat seekor lumba-lumba yang terlilit sampah.

“Hei, lumba-lumba!” kata bintang laut.
“Hai,” jawab lumba-lumba lemah.
“Apa yang terjadi?” tanya Tiara.

“Banyak manusia membuang sampah ke laut. Aku terlilit sampah-sampah ini. Tolong bantu aku,” kata lumba-lumba.
“Boleh,” ucap Tiara dan bintang laut.

Mereka pun membantu melepaskan sampah dari tubuh lumba-lumba.
“Terima kasih,” kata lumba-lumba.
“Sama-sama. Kamu melihat penyu?” tanya bintang laut.
“Iya, dia pergi ke arah sana,” jawab lumba-lumba sambil menunjuk.

Tiara dan bintang laut segera pergi dan akhirnya menemukan penyu yang bersembunyi di balik bebatuan.
“Penyu! Dari tadi kita cari kamu,” kata Tiara lega.
“Maaf ya, aku terlalu asyik bersembunyi,” kata penyu.

Penyu lalu berkata, “Laut ini rumah kami. Kalau kotor, kami bisa sakit.”
Tiara mengangguk. “Aku janji akan menjaga laut dan mengingatkan orang lain supaya tidak membuang sampah sembarangan.”

“Terima kasih, Tiara,” kata penyu dan bintang laut.
“Sekarang kamu harus kembali. Ibumu pasti menunggumu,” kata penyu.

Tiara naik ke tempurung penyu dan mereka berenang ke permukaan. Tak lama kemudian, Tiara kembali ke pantai.
“Ibu!” panggil Tiara sambil berlari. “Tiara punya cerita!”

Sejak hari itu, Tiara selalu menjaga kebersihan pantai dan mencintai kehidupan di bawah laut.


Eksplorasi konten lain dari Literatura Nusantara

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Categories:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *