
[Sumber gambar: Gemini AI]
Penulis: Heri Isnaini
Saya selalu punya hubungan yang agak pribadi dengan hujan. Mungkin karena saya lahir dan tumbuh di tanah yang akrab dengan musim hujan atau mungkin karena sejak lama saya belajar mencintai puisi-puisi Sapardi Djoko Damono, penyair yang membuat hujan tidak lagi sekadar cuaca, melainkan kesadaran.
Sebagai dosen sastra, saya sering membahas puisi di ruang kelas. Kami mendiskusikan metafora, diksi, struktur, bahkan konteks sejarahnya. Tetapi setiap kali saya sampai pada puisi tentang hujan, selalu ada ruang yang tak sepenuhnya bisa dijelaskan dengan teori. Ada getar yang lebih dalam dari sekadar analisis tekstual.
Saya sering bertanya kepada diri sendiri dan [juga] kadang kepada mahasiswa, “Ke manakah hujan pulang setelah ia jatuh?” Pertanyaan itu tampak sederhana, tetapi bagi saya ia menyimpan lapisan ontologis.
Di kelas, saya kerap melihat mahasiswa membaca puisi sebagai teks yang harus “dipahami”. Padahal puisi, bagi saya, bukan hanya untuk dipahami, ia bisa untuk dinikmati dan/atau untuk dialami.
Ketika Sapardi menulis tentang waktu yang fana, tentang ruang yang sunyi, tentang jam yang berdetak, saya tidak hanya membaca itu sebagai simbol. Saya merasakannya sebagai pengingat eksistensial sebagai manusia, yakni tentang pemahaman dan kesadaran akan diri dan keberadaan.
Sebagai manusia, kita berada di antara dua misteri, yakni dari mana dan akan kemana [misteri asal dan tujuan.] Dalam khazanah Jawa, ada kesadaran tentang sangkan paraning dumadi [dari mana kita berasal dan ke mana kita kembali.] Saya tidak selalu menyebutnya secara eksplisit di kelas. Tetapi saya percaya, setiap puisi diam-diam menyimpan kesadaran itu.
Dan hujan, dalam puisi Sapardi, terasa seperti metafora paling lembut tentang perjalanan tersebut. Ada satu larik yang selalu membuat saya terpaku
“Yang fana adalah waktu. Kita abadi.”
Setiap kali membacanya, saya tidak hanya memikirkan relasi cinta, tetapi juga relasi manusia dengan Yang Maha Ada. Waktu akan habis. Tubuh akan menua. Jabatan, reputasi, bahkan buku-buku yang kita tulis suatu hari bisa saja dilupakan. Tetapi kesadaran untuk kembali, itulah yang abadi.
Sebagai seseorang yang sehari-hari hidup di dunia akademik, saya akrab dengan target, luaran, publikasi, dan berbagai ukuran capaian. Namun setiap kali hujan turun, saya merasa diingatkan bahwa hidup bukan sekadar produktivitas. Ia adalah perjalanan pulang. Saya sering merasa bahwa membaca puisi adalah latihan pulang.
Ketika saya membaca kembali puisi-puisi Sapardi, ada perasaan seperti menengok ke dalam diri sendiri. Seolah-olah hujan yang ia tulis turun juga dalam batin saya, membersihkan debu ambisi, menyisakan kesunyian yang jernih. Kesunyian itu tidak kosong. Ia penuh kesadaran.
Bahwa kita ini sementara.
Bahwa kita ini sedang berjalan.
Bahwa setiap langkah diam-diam sedang mendekatkan kita pada asal.
Dalam pengalaman saya, puisi yang baik tidak membuat kita terkesima karena kerumitannya, tetapi karena kejujurannya. Sapardi menulis dengan jujur dan sederhana, tetapi kesederhanaan itu seperti air yang bening, yang dalam, dan yang tak pernah benar-benar bisa digenggam.
Kini, setiap kali hujan turun, saya tidak lagi sekadar melihatnya sebagai peristiwa alam. Saya melihatnya sebagai siklus. Ia turun, menyentuh bumi, lalu menguap kembali ke langit. Ia tidak pernah benar-benar hilang.
Begitulah hidup.
Kita datang dari suatu asal yang tak sepenuhnya kita pahami. Kita menjalani ruang dan waktu yang terbatas. Kita menulis, mengajar, mencintai, merindukan, bahkan kehilangan. Lalu suatu hari, kita pulang.
Dan mungkin, sebagaimana hujan, kepulangan itu bukan akhir, melainkan kembali kepada yang mula.
Sebagai pembaca, sebagai pengajar, dan sebagai manusia yang terus belajar memahami dirinya sendiri, saya merasa puisi-puisi Sapardi tidak pernah benar-benar selesai dibaca. Ia selalu seperti hujan, yang turun perlahan kemudian menyentuh kesadaran lalu mengingatkan bahwa hidup ini bukan hanya tentang tinggal, melainkan tentang kembali.
Ya, tentang kembali, tentang jalan pulang.
Bandung, 15 Februari 2026











Tinggalkan Balasan