
[Sumber gambar: AI]
Penulis: Geo Sebastian
Kurebahkan tubuhku di atas sofa ruang tamu berwarna abu tua yang sudah sedikit terkoyak. Samar tercium wangi masakan ibu dari dapur. Tubuhku terlalu lelah setelah seharian berkegiatan bersama kawan-kawan osis. Kupejamkan mataku sesaat, namun suara lembut ibu memecah keheningan, “sudah pulang nak? Makan dulu yuk ibu sudah masak soto kesukaanmu.” Ajak ibu.
“Nanti aja bu, Nona masih capek.” Sahutku, dengan tetap memejamkan mata tanpa melirik ke arah ibu sedikitpun.
“Ibu bawakan kemari ya?” Tawar ibu.
“Ga usah bu, aku capek, aku mau istirahat dulu.” Aku bergegas menuju kamar meninggalkan ibu yang masih berdiri menatapku.
Semenjak ayah dan kakak meninggal dalam kecelakaan, ibu terlalu memanjakanku, jujur aku merasa risih dan terkekang. Orang bilang, kakak dan ayah adalah korban tumbal pesugihan kakek dari pihak ibu. Katanya ibu menolak mewarisi pesugihan kakek, tidak seperti saudaranya yang lain. Akibatnya ayah dan kakak yang jadi korban akibat ibu tidak ingin memenuhi syarat pesugihan turunannya. Ah… Aku tidak peduli dengan cerita picisan semacam itu. Ini dunia modern, dunia serba digital, toh semua orang sudah ditakdirkan untuk mati. Memikirkannya hanya membuatku semakin sedih setelah kehilangan mereka.
Ku buka tas ranselku, selembar kertas berada paling atas tumpukan buku yang berhimpitan di dalam ransel. aku baru ingat, lusa nanti ada acara pelantikan adik-adik osis di sekolah, dan surat ini harus di tanda tangani oleh ibu sebagai bentuk persetujuan aku mengikuti acara tersebut.
Kubuka pintu kamar dengan selembar kertas di tangan kiri ku. Ibu sudah tidak ada di ruang tamu. Kulangkahkan kaki menuju dapur, benar saja ibu sedang menyiapkan makan siang di meja makan yang sudah terlihat usang itu. Aku duduk di salah satu kursinya yang sudah mulai reyot. Kupandang sekeliling dapurku. Benar-benar jauh dari kata estetik! Hanya dapur kumuh dengan lantai semen tanpa keramik, dinding bata merah serta tungku api di pojokan dapur dengan bagian dindingnya yang kehitaman karena asap dari tungku api. Kualihkan pandangan ke ibu yang sedang menyendok nasi. “Bu, tolong tanda tangani ini, lusa Nona ada kegiatan di sekolah 2 hari 1 malam.”
Mata ibu terbelalak, “sudah ibu bilang jangan ada acara nginep diluar rumah.”
“Loh ini kan acara sekolah bu.” Sahutku
“Ibu tidak izinkan, ibu khawatir ada apa-apa. Pamali anak perempuan nginep di luar.”
“bu!!!!! Ini zaman modern. Ibu ini kolot banget sih. Masih percaya begituan! Lusa aku tetep pergi!” teriakku lantang sambil angkat kaki dari dapur. Kuhentakkan kakiku saat melewati ibu. Tidak seperti biasanya, ibu hanya diam. Biasanya ibu akan balik mengomeliku dengan nada tak kalah tinggi,”mau jadi apa kamu kalau gak ada ibu!”.
Yap aku tidak terlalu suka ibu yang banyak ngatur, serba pamali dan segala sesuatu selalu di sangkutkan dengan hal-hal ghaib. Ibu norak banget!
Tiba hari pelantikan Osis SMA Bhakti pertiwi, aku pergi tanpa pamit ke ibu. Tapi tumben sekali ibu tidak keluar kamar, juga tidak menyiapkan sarapan untukku. ‘bodo amat lah yang penting pergi dulu aja’, mungkin ibu memang masih marah. Tak banyak bekal yang kubawa, hanya pakaian ganti, serta beberapa bungkus mie instan serta air mineral yang ada di lemari dapur. Jarak sekolahku cukup dekat, hanya berjarak beberapa rumah saja untuk sampai ke sana.
Kegiatan sejak pagi-sore membuatku cukup kelelahan, padahal acara puncaknya masih di jam 8 malam, keringat sudah membasahi kaos yang sejak pagi kugunakan. Kubuka ransel biru ku untuk mengambil pakaian ganti, namun rupanya diam-diam ibu menyelipkan beberapa lembar uang diantara barang yang kubawa. Ada sedikit Rasa sesal pagi tadi aku tidak pamit ke ibu. ‘sudahlah, nanti pulangnya minta maaf ke ibu.’ pikirku dalam hati.
Kusematkan pakaian ganti dan handuk kecil di pundakku, dan menuju toilet sekolah, jarum kecil di jam tanganku menunjukkan pukul 17.26 WIB, rekan dan calon osis yang lain sedang beristirahat, sebagian lagi sedang menyantap bekal mereka. Aku berjalan menyusuri lorong menuju toilet yang berada di gedung belakang sekolah, tepat 5 meter di depanku sudah ada papan kecil bertuliskan ‘toilet wanita’, namun kulihat ada seorang siswi perempuan yang juga masuk kesana dengan mengenakan pakaian olah raga sekolah kami, dengan rambut panjang yang di kepang rapih dan kulit putih nan cantik. Sedikit asing karena rasanya aku tidak melihanya selama kegiatan berlangsung. Namun jujur saja sedikit ada perasaan lega dalam hatiku karena aku tidak sendirian di toilet berhubung sudah menjelang magrib. Saat aku mendorong pintu dan masuk… Aku tidak menemukan siapapun, hanya 5 bilik kosong dengan pintu terbuka. Jantungku sedikit berdebar, namun tiba-tiba ponsel dalam saku rokku bergetar, membuatku terperanjat. Jantungku nyaris copot. Kulihat layar ponselku, ternyata ibu mengirim pesan singkat, “hati-hati ya nak, sudah mau malam. Banyak baca doa.”
Cepat-cepat kumasukan ponselku kembali tanpa membalas pesan ibu. Dan memasuki salah satu bilik toilet untuk ganti baju. Kututup pintu toilet yang menggantung, orang dari arah luar pasti bisa melihat kakiku sampai setengah betis. Namun di antara lantai keramik hitam glossy tepat dibawah pintu bilikku, kulihat ada sesosok bayangan, yang diam tepat didepan pintu. Aku mulai panik, bulu kuduk merinding, keringat dingin mulai bercucuran. Kuberanikan diri teriak, “hei siapa disana?!!”
Sosok itu berlalu, menuju ke arah pintu keluar menurut pandanganku, dan menjawab, “ini ibu nak, sudah mau magrib, cepat keluar jangan sendirian disini.”
Hahhhhhh….. Lega sekali hatiku, kutarik nafas dalam-dalam dan kuhembuskan kencang. Kuputar kunci pintu, “iya bu… Nona udah selesai kok ini mau keluar. Bareng dong!” ucapku kegirangan. Dasar kok ibu sampai nyusulin.
Namun tak kutemui siapapun.
Tak ada jejak pintu baru terbuka, atau tanda-tanda pernah ada manusia lain disini. Hanya aku. Aku bergegas meraih gagang pintu. Diluar tak ada siapapun. Aku berlari sekencangnya menuju lapangan dimana teman-temanku berada. Yura dan Freya menghampiriku yang berlari ke arahnya, “kamu kemana aja kita cariin udah 2 jam?” ujar Freya khawatir
“hah? Aku baru pergi 10 menit aja kok.” ujarku ngos-ngosan.
“lihat ini jam berapa?” Yura menyodorkan layar ponselnya ke wajahku. Pukul 19.47. Padahal rasanya aku baru saja masuk dan segera keluar dari sana. Kulihat langit memang sudah gelap. Lampu sudah menyala di berbagai sudut sekolah.
Karena menghindari kehebohan, aku mengurungkan niatku untuk menceritakan kejadian tadi di toilet, dan memilih untuk bergegas memasuki area lapangan dimana para junior sudah berbaris rapi dan berkelompok untuk memulai acara penelusuran.
Masing-masing anggota kelompok berisikan 5 orang, tiap kelompok akan mendatangi pos 1-5 yang berada di lantai 1-3 gedung sekolah. Di tiap pos mereka sudah ditunggu oleh rekan senior dan akan di berikan soal yang harus diisi untuk bisa mendapat tiket menuju pos berikutnya. Kelompok yang tidak bisa menjawab soal dengan baik akan di hukum.
Kebetulan aku berjaga di pos 5 yaitu pos terakhir yang berda di lantai 3, bersama Yura, Freya dan Fadil.
Saat tiba giliran kelompok terakhir memasuki ruangan, “kelompok paling terakhir ini bisa disimpulkan adalah kelompok yang paling lemot selama mengisi soal di tiap pos. Jadi kalian siap-siap terima hukumannya.” celetuk freya, yang hanya diangguki kelompok terakhir tersebut.
Kulihat ada 6 orang di kelompok ini, 4 laki-laki dan 2 perempuan. Salah satu perempuan disana adalah anak yang tadi kulihat saat akan memasuki toilet. Lega rasanya hatiku ‘manusia rupanya’. Namun kulihat ia hanya tertunduk lemas, wajahnya terlihat pucat, kupikir dia kelelahan atau mungkin sakit. Tapi sebagai senior aku harus pura-pura tegas dan galak, karena sebentar lagi grup ini harus menerima hukuman.
Ponselku kembali bergetar, kurogoh ponsel dalam saku rokku. Pesan dilayar ponsel rupanya dari ibu lagi. “nak, hari sudah malam, banyak baca doa ya, sekolah biasa nya suka ada penunggunya.” huhh…. Aku mengengus kesal. Lagi-lagi ibu ngomongin hal begitu.
Kumasukan kembali ponselku.
“karena kelompok kalian selesai paling terakhir, kelompok kalian dinyatakan mendapat hukuman.” teriak fadil lantang.
Freya dan Yura bersiap menutup mata para anggota kelompok, sedangkan aku menyusul rekan yang akan jadi hantu untuk bersiap.
Alur hukumannya adalah anggota kelompok akan bergandengan tangan dengan mata tertutup kain, mereka diarahkan oleh Fadil, Rasya, dan Haikal untuk berjalan menuju toilet belakang gedung sekolah. Sementara Irwan dan Sony bertugas menjadi hantu.
“adik-adik… Kita sudah sampai di gedung belakang sekolah, yang merupakan tempat terangker di sekolah kita.” ujar Haikal menakut-nakuti. Fadil dan Rasya merapikan barisan kelompok tersebut sehingga berjajar menghadap halaman belakang. “disini pernah ada penampakan-penampakan dari seorang siswa yang bunuh diri karena dibully. Jika kalian merasakan kaki kalian di pegang hantu tersebut. Teriak minta maaf.” lanjut haikal.
Fadil dan rasya bersiap dari belakang, mencengkram kaki salah seorang siswa yang dihukum, yang reflek teriak,” ampuunnn kami minta maaf…. ” sontak aku dan yang lain terkekeh-kekeh.
” buka penutup mata kalian dan jalan ke arah kanan kalian menuju ke lapangan!” lanjut haikal.
Kami sudah tau, bahwa Soni dan Irwan yang sudah cosplay menjadi hantu tengah menanti mereka di lorong. Sesampainya di lorong, sesuai rencana kami, kelompok yang dihukum lari terbirit-birit menuju lapangan.
Aku dan yang lain terkekeh-kekeh melihat mereka yang ketakutan. Namun tiba-tiba dari arah toilet terdengan lengkingan tawa seorang wanita. “hiiiiiiihihihihi…. Hiiiiihihihihihi……” kami saling bertatap-tatapan, kemudian lari sekencang-kencangnya.
Aku yang tidak bisa lari cepat otomatis tertinggal oleh yang lain. Suara tawa masih terasa mengikuti irama langkah kakiku. Tiba-tiba seseorang menarik tanganku untuk masuk ke sebuah ruangan di sebelah kananku. dengan degup jantung yang belum berhenti berdebar, aku melihat kearah pemilik tangan itu. “ibuuu???” tanyaku kaget. “sssttttt… Hantunya ikut. Diam dulu disini. Nanti ibu antar ke lapang.” hahhhhhhhhh…. ” kubuang nafasku sekencangnya. Lega rasanya kekhawatiran ibu justru yang menyelamatkanku.
“Nona minta maaf untuk yang kemarin ya bu..” ujarku lirih. Namun ibu tidak menjawab.
“ayo, sepertinya sudah aman. Ibu antar kamu masuk ke lapangan” ujar ibu.
“gak usah bu, Nona sendiri aja, malu kalau ibu antar sampai kesana.”
Ibu hanya mengangguk dan mengantarku sampai keluar pintu. Saat aku berjalan beberapa langkah, kubalikkan badan untuk melihat ibu. Dan ibu masih berdiri disana sembari melambaikan tangan. Aku mempercepat langkah menuju lapangan. Benar saja rekanku dan salah satu guru pembina, sudah menanti dengan khawatir. Namun kujelaskan bahwa aku baik-baik saja.
Ku alihkan pandangan pada anggota kelompok yang dihukum tadi. Hanya ada 5 orang. “mana satu lagi anggota kalian?” tanyaku.
Mereka terlihat bingung. “anggota kami sudah hadir semua kak”
“bukannya kelompok kalian 6 orang? Satu orang lagi mana? Yang perempuan kan 2 orang?” tanyaku lagi. Aku takut satu anak masih tertinggal di belakang.
Teman-temanku ikut memasang wajah kebingungan. “Non, kelompok ini memang 5 orang. 4 laki-laki dan satu perempuan.” ujar Freya
Aku terdiam. Tidak ingin berdebat, karena khawatir menimbulkan ketakutan bagi yang lain. Aku memilih menutup acara dan menyuruh mereka semua bersiap untuk tidur berhubung gerimis sudah mulai turun. Namun lagi-lagi ibu datang membawakan selimut saat aku akan memasuki salah satu kelas untuk tidur. “pakai selimutnya, cuaca pasti dingin menjelang subuh, ibu pulang lagi ya.” belum sempat aku mengucapkan sepatah kata. Ibu sudah berlari menembus rintikkan air hujan.
‘yasudahlah. Tidur saja. Toh besok pagi aku juga pulang kerumah.’ pikirku.
***
Keesokan pagi nya aku terbangun tanpa menemukan selimutku. Kulihat kawan-kawan masih tertidur lelap di samping kanan kiriku. Ku rogoh ponsel dalam saku tas ranselku. Waktu menunjukan pukul 05.13 WIB. Kutengok kembali kiri kananku barangkali ada teman jahil yang memakai selimutku. Tidak ada.
Freya terbangun karena terganggu dengan gestur tubuhku. “nyari apaan sih?” sahutnya.
“kamu lihat selimut yang semalam aku pakai gak sih?” tanyaku.
Freya mengerutkan dahi. “selimut apaan kita semua ga ada yang pakai selimut!”
Aku melotot kaget kearahnya, “selimut yang semalam ibuku bawain loh??”
Freya semakin bingung dengan tingkahku. “jangan nakut-nakutin deh. Mimpi kali ah kapan ibumu datang kesini? Udah kumpulin nyawa dulu sana. Aku mau ke toilet.” ujar Freya, kemudian berlalu meninggalkanku.
Ku acak-acak rambutku sembari mengingat apa itu mimpi atau nyata? “ah sudahlah. Frey…. Tunggu…” aku segera beranjak dari tempatku untuk mengerjar Freya ke toilet dan bersiap untuk pulang.
***
“Assalamualaikum… Buu…” panggilku saat membuka pintu. Tidak ada jawaban dari ibu. “buu…” panggilku lagi. Sunyi. Tidak ada tanda ibu sedang beraktifitas di dalam rumah. Tapi pintu rumah tidak dikunci. Ku putar gagang pintu kamar ibu. Kulihaat ibu terbaring di kasurnya dengan mata terpejam. Tumben sekali ibu masih tidur. Padahal ini sudah pukul 08.00. Kudekati tubuh ibu, barangkali ibu sakit sampai tidak bisa menggerakan tubuhnya. Kutempelkan punggung tanganku ke dahi ibu. Dingin. Kuraih tangan ibu. Dingin dan kaku. Kupegang nadi di tangan ibu. Tidak ada denyut. Aku terduduk lemas tanpa bisa berkata-kata. Air mataku mengalir deras. Dengan sekuat tenaga aku merangkak keluar meminta bantuan tetangga. Orang-orang mulai berdatangan. Aku hanya bisa menangis di pelukan sanak saudara. Beberapa diantaranya memanggil polisi karena kematian ibu begitu tiba-tiba.
Jenazah ibu di bawa menggunakan ambulance untuk penyelidikan lebih lanjut mengenai penyebab kematian ibu. Hasilnya ibu mengalami serangan jantung. Di perkirakan kematian ibu sudah lebih dari 12 jam. Itu berarti ibu meninggal saat aku sedang mengikuti kegiatan di sekolah.
Rasa sesal menyeruak dalam dadaku. Andai aku tidak pergi. Mungkin ibu masih bisa tertolong. Mungkin ibu masih hidup.
Namun tiba-tiba terbersit dalam pikiranku. Rupanya ibu tidak benar-benar datang menolongku saat di sekolah. Rupanya ibu benar-benar tidak membawakanku selimut ke sekolah. Lantas siapa yang datang malam itu dan mengirim pesan?












Tinggalkan Balasan