
[Sumber gambar: https://rri.co.id/iptek/]
Penulis: Heri Isnaini
Di masa kecil saya, mendengarkan musik bukan kegiatan sambil lalu. Ia adalah peristiwa sekaligus momuntum kontemplasi. Kaset pita, walkman, radio, dan baterai kecil yang cepat habis membentuk satu ekosistem sederhana yang penuh makna. Dari situ, saya belajar bahwa musik selalu datang bersama keterbatasan dan tentu saja kesabaran.
Walkman jarang berhenti karena kita ingin berhenti. Ia berhenti karena baterai habis. Ketika suara mulai melambat dan pita terdengar sengau, kami tahu itu waktunya jeda. Tidak ada low battery warning, yang ada hanya intuisi. Musik memudar pelan-pelan, seperti napas yang kelelahan. Anehnya, momen itu justru terasa intim sekaligus menjengkelkan.
Lalu datang ritual kecil yang hari ini terdengar nyaris absurd, yaitu menjemur baterai. Baterai diletakkan di bawah matahari, di atas genteng, di kusen jendela, atau di halaman. Kami tahu [atau setidaknya percaya] bahwa panas matahari bisa memberi hidup tambahan. Secara teknis mungkin meragukan, tetapi secara emosional, ritual itu bekerja. Ia memberi harapan.
Menjemur baterai adalah pelajaran awal tentang kesabaran. Musik tidak bisa dipaksakan. Ia harus ditunggu. Sambil menunggu, kami melakukan hal lain, seperti membaca, menatap langit, atau sekadar membiarkan pikiran berjalan. Ketika baterai dipasang kembali dan walkman menyala [meski hanya sebentar] ada rasa kemenangan kecil yang tidak bisa dijelaskan.
Ritual ini juga mengajarkan relasi yang lebih manusiawi dengan benda. Walkman bukan alat sekali pakai. Ia dirawat, dibersihkan, dan ditunggu. Baterai bukan sampah instan, melainkan sesuatu yang bisa “disembuhkan”, meski hanya sebentar. Dalam keterbatasan itu, kami belajar menghargai fungsi, bukan sekadar hasil.

Mendengarkan musik pun menjadi pengalaman yang penuh perhatian. Karena tahu baterai terbatas, kami memilih lagu dengan hati-hati. Kadang kaset tidak diganti, hanya diulang di bagian favorit. Mendengar menjadi tindakan yang disadari, bukan refleks. Musik tidak mengalir tanpa henti, tetapi ia hadir sebentar, lalu pergi, dan mengendap sebagai kenangan.
Hari ini, ketika musik bisa diputar berjam-jam tanpa jeda dan daya selalu tersedia, pengalaman itu terasa jauh. Kita tidak lagi menunggu musik, tetapi musik yang menunggu kita. Tidak ada lagi suara yang memudar pelan, tidak ada lagi baterai yang dijemur dengan penuh harap. Yang hilang bukan teknologinya, melainkan relasi emosional dengan keterbatasan dan kesabaran.
Kaset, walkman, dan baterai yang dijemur di bawah matahari mengajarkan satu hal sederhana, “mendengarkan adalah soal kesiapan, bukan kelimpahan”. Musik yang paling membekas bukan yang terdengar paling lama, melainkan yang hadir ketika kita benar-benar memperhatikannya.
Dan sampai hari ini, setiap kali saya melihat baterai kecil [apa pun jenisnya] saya selalu teringat satu momen sunyi antara matahari, baterai yang dijajar rapi, dan harapan kecil agar satu lagu bisa diputar sekali lagi.
Bandung, 2 Februari 2026












Tinggalkan Balasan