Literatura Nusantara

Membumikan Sastra Melangitkan Kata

Kartini dari Masa Depan: Mimpi Anisa di Tengah Tumpukan Harapan

[Sumber gambar: AI]

Penulis: Anastalia Auryn Junita Sitorus

Anisa adalah anak yang cerdas dan penuh semangat belajar. Di usianya yang masih belia, ia berhasil meraih beasiswa penuh dari salah satu sekolah bergengsi di Jakarta. Prestasi itu bukanlah hasil kebetulan, melainkan buah dari ketekunannya belajar di sela-sela kesibukan membantu orang tua. Namun, kabar bahagia itu justru menjadi awal pergulatan batin terbesar dalam hidup Anisa.

Anisa berasal dari keluarga sederhana. Ayah dan ibunya bekerja sebagai pemulung barang bekas, menyusuri jalanan kota setiap hari demi menyambung hidup. Anisa adalah anak tunggal, harapan sekaligus tumpuan mereka. Bagi kedua orang tuanya, sekolah tinggi terasa seperti kemewahan yang sulit dijangkau. Mereka berpikir, lebih baik Anisa membantu bekerja daripada bermimpi terlalu tinggi.

Sore itu, Anisa mendatangi tempat ayah dan ibunya mengumpulkan barang bekas. Hatinya berdebar, namun ia memberanikan diri.

“Ayah, Ibu… Anisa ada kabar baik,” ucapnya pelan.

Ayah dan ibunya menghentikan aktivitas mereka lalu menoleh.
“Kabar baik apa, Nak?” tanya sang ibu dengan wajah penuh harap.

Dengan mata berbinar, Anisa menceritakan bahwa ia diterima di sekolah bergengsi di Jakarta dengan beasiswa penuh. Namun belum sempat senyumnya merekah lebih lama, sang ayah langsung menyela dengan nada tegas.

“Sudah ayah bilang, kamu tidak perlu melanjutkan sekolah. Lebih baik kamu membantu ayah dan ibu bekerja. Sekolah tidak bisa mengenyangkan perut, Anisa.”

Ucapan itu membuat hati Anisa perih. Namun ia tak ingin menyerah.
“Tapi Ayah… Anisa ingin sekolah. Anisa ingin menjadi guru, ingin membangun sekolah untuk anak-anak yang tidak mampu seperti Anisa,” katanya lirih, nyaris menangis.

Melihat perdebatan itu, sang ibu menengahi dengan lembut.
“Sudahlah, kita bicarakan nanti di rumah. Sekarang pulang dulu, bersih-bersih, lalu kembali membantu ayah dan ibu.”

“Baik, Bu,” jawab Anisa dengan senyum yang dipaksakan.

Hari-hari pun berlalu. Diam-diam, dengan bantuan guru dan beasiswa, Anisa tetap melanjutkan sekolah. Ia belajar lebih keras dari siapa pun, seolah ingin membuktikan bahwa mimpi bukanlah milik orang kaya saja. Setahun kemudian, Anisa duduk di kelas 3 dan menjadi siswa akselerasi pertama di sekolahnya. Prestasinya membuat banyak orang kagum, termasuk guru-guru yang terus menyemangatinya.

Di balik keberhasilannya, Anisa tak pernah berhenti berdoa dan berharap agar suatu hari orang tuanya mengerti. Ia yakin pendidikan bukanlah penghalang untuk berbakti, melainkan jalan untuk mengubah masa depan. Dalam hati kecilnya, Anisa percaya bahwa suatu saat nanti, ayah dan ibunya akan bangga padanya.

Anisa adalah Kartini dari masa depan, seorang anak perempuan yang berani melawan keterbatasan demi haknya atas pendidikan, membawa cahaya harapan dari tumpukan barang bekas menuju masa depan yang lebih bermakna.


Eksplorasi konten lain dari Literatura Nusantara

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Categories:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *