Literatura Nusantara

Membumikan Sastra Melangitkan Kata

Kamus Gaul Bobotoh

[Sumber gambar: goal.com]

Penulis: Desti Laili Ilma Fahmiar

Bahasa berfungsi sebagai alat komunikasi, dan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) dijelaskan sebagai sistem lambang bunyi yang bersifat arbitrer. Dalam kehidupan bermasyarakat, bahasa tak sekadar digunakan untuk komunikasi, melainkan juga menjadi simbol budaya, identitas, serta solidaritas suatu kelompok. Di tanah air, terdapat berbagai komunitas suporter sepak bola Liga 1. Salah satunya adalah Bobotoh, pendukung setia Persib Bandung, yang tahun ini berhasil kembali menjadi juara Liga 1 Indonesia. Bobotoh tidak hanya tampil sebagai pendukung yang fanatik, tetapi mereka pun secara tidak langsung mengembangkan komunitas linguistik yang dinamis dengan menghasilkan kosakata baru yang tidak ditemukan di KBBI. Contohnya, istilah “Bonjovi,” yang merupakan akronim dari “Bobotoh Jongjon dina TV,” digunakan untuk menyebut Bobotoh yang sedang menyaksikan pertandingan Persib di layar kaca, serta istilah “Away” yang berarti pertandingan tandang. Bahkan, istilah “Bobotoh Away” pun muncul untuk menyebut mereka yang setia mendukung tim meski bermain di luar kandang.

Dari penelitian saya terhadap enam narasumber, saya menemukan puluhan istilah baru yang berkembang di kalangan Bobotoh. Kosakata ini muncul dari berbagai sumber, mulai dari adaptasi bahasa asing, plesetan, hingga metafora khas lokal.  Walau tampak sederhana, bahasa gaul Bobotoh seperti “bonjovi,” “away,” “membiru di hati,” “b2b,” “Viking,” “Persib nu aing,” “Bandung tiris,” “Bomber,” hingga “ulah kumeok samemeh dipacok” (Kayyis, Rodiulloh, Khairi, & Al Hakim, 2025) bukanlah sekadar guyonan. Istilah-istilah tersebut lahir dari pengalaman, emosi kolektif, serta kehidupan sehari-hari para Bobotoh. Fenomena ini bukan hanya memperkaya kosakata tidak resmi, tetapi juga menunjukkan bagaimana suatu komunitas menciptakan sistem komunikasi internal yang mencerminkan identitas mereka. Hal ini sejalan dengan pendapat Suryawin, Wijaya, dan Isnaini yang menegaskan bahwa bahasa berperan sebagai sarana ekspresi diri, komunikasi, dan penanda identitas (2022). Bahasa juga menjadi perekat antarindividu dalam sebuah komunitas, serta mempermudah adaptasi sosial dan interaksi yang efektif. Dalam konteks Bobotoh, bahasa gaul yang mereka gunakan mempererat rasa kebersamaan dan mengungkapkan nilai-nilai komunitas, seperti loyalitas, keberanian, serta humor.

Sebagai contoh, istilah “Bonjovi” diambil dari nama band rock legendaris, namun dalam komunitas Bobotoh ia menjadi akronim dalam bahasa Sunda untuk “Bobotoh Jongjon dina TV,” yang menggambarkan suporter yang sedang menonton pertandingan Persib dari rumah. Ada pula istilah “Away” yang berasal dari bahasa Inggris dan digunakan oleh Bobotoh untuk menyebut pertandingan di luar kandang.

Sebagai penulis sekaligus mahasiswa jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, saya menilai bahwa bahasa gaul Bobotoh seharusnya tidak dianggap sebagai “bahasa kelas rendah,” sebagaimana label yang kerap distereotipkan oleh beberapa pihak. Justru, bahasa ini merupakan bagian dari kekayaan budaya tak benda yang lahir dari interaksi sosial, semangat kolektif, dan kreativitas komunitas akar rumput. Bahasa seperti ini tidak muncul dari kamus atau ruang kelas, tetapi tumbuh di tribun stadion, obrolan di warung kopi, unggahan media sosial, hingga percakapan di bus saat rombongan Bobotoh pergi mendukung tim kebanggaan mereka. Inilah yang disebut living language, yaitu bahasa yang hidup dan terus berkembang mengikuti dinamika komunitasnya.

Oleh karena itu, akademisi dan pemerintah, khususnya Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, sepatutnya mulai memperhatikan dokumentasi dan pengarsipan kosakata semacam ini. Bukan berarti semua istilah harus masuk dalam KBBI, melainkan agar istilah-istilah khas komunitas seperti milik Bobotoh tidak hilang dimakan waktu. Kita bisa mencontoh Jepang dan Korea Selatan yang telah memiliki kamus  digital  untuk  mendokumentasikan  bahasa  slang  komunitas  urban  mereka.

Dengan cara seperti ini, identitas linguistik lokal akan tetap lestari dan dapat dipelajari oleh generasi berikutnya. Di sisi yang berbeda, keberadaan bahasa gaul juga membawa konsekuensi berupa tantangan dan kesempatan bagi pengajaran bahasa Indonesia.. Guru-guru sebaiknya menggunakan pendekatan yang lebih inklusif, mengakui keberadaan bahasa tidak  baku sebagai bagian dari realitas kebahasaan, tanpa melupakan pentingnya penggunaan bahasa baku dalam konteks formal. Dalam hal ini, kosakata khas Bobotoh bisa dijadikan materi ajar yang menarik dalam pelajaran bahasa Indonesia dengan pendekatan yang kritis dan kontekstual. Bahasa tidak harus diajarkan secara kaku, tetapi lebih sebagai fenomena sosial yang relevan dengan kehidupan para siswa.

Bahasa sejatinya bukan hanya soal benar atau salah, baku atau tidak baku. Bahasa juga merupakan cermin kehidupan. Dalam kasus Bobotoh, bahasa gaul yang mereka ciptakan mencerminkan semangat, solidaritas, dan daya juang dalam mendukung klub kebanggaan mereka. Istilah-istilah seperti bonjovi, away, dan membiru di hati bukan sekadar sarana komunikasi internal, melainkan juga artefak budaya yang mencatat pengalaman, emosi, dan kebersamaan dari komunitas yang luar biasa loyal ini.

Sebagai bangsa yang kaya akan budaya dan bahasa, kita tidak boleh mengabaikan dinamika bahasa yang muncul dari akar rumput. Bahasa gaul komunitas seperti milik Bobotoh layak dihargai dan didokumentasikan bukan untuk menggantikan bahasa baku, melainkan sebagai tambahan yang memperkaya  warisan  linguistik  kita.  Jangan  sampai  hanya karena tidak  “berstandar,” istilah-istilah tersebut hilang begitu saja.

Pada akhirnya, saya meyakini bahwa dengan mengenali dan menghargai keberagaman bahasa, termasuk bahasa gaul komunitas, kita sedang menghormati keragaman budaya bangsa sendiri. Siapa tahu, kelak istilah seperti “Bonjovi” atau “Bobotoh Away” tidak hanya akan tersimpan dalam ingatan para pendukung setia, tetapi juga tercatat dalam sejarah kebahasaan Indonesia secara resmi. Karena dari tribun stadion pun, bahasa bisa bersuara lantang: “Kami hadir, dan kami memiliki  cara kami sendiri untuk berbicara.


Eksplorasi konten lain dari Literatura Nusantara

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Categories:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *