
[Sumber gambar: https://www.asriswear.com/]
Penulis: Ipah Muhipah
Chairil Anwar adalah sosok penyair terkemuka dalam sejarah sastra Indonesia modern. Ia dijuluki sebagai ‘Si Binatang Jalang’ (diambil dari karyanya yang berjudul Aku). Ia diperkirakan telah menulis sekitar 96 karya, termasuk di dalamnya 70 puisi. Diantara puisinya yang paling terkenal adalah Aku, Krawang-Bekasi, Derai-Derai Cemara, dan Doa. Ia bersama Asrul Sani dan Rivai Apin dinobatkan oleh H.B. Jassin sebagai pelopor Angkatan ’45 dan sekaligus pelopor puisi modern Indonesia. Angkatan ’45 merupakan kelompok sastrawan yang mengekspresikan semangat kemerdekaan dan kebebasan berpikir melalui karya-karya yang jujur, berani, dan penuh pergulatan batin. Ia menghadirkan puisi bebas yang lebih ekspresif dan individualistis. Puisinya tidak sekadar melukiskan keindahan, tetapi juga menggugat makna hidup, kematian, dan kebebasan manusia.
Ia lahir dan dibesarkan di Medan, Sumatera Utara, pada 26 Juli 1922. Ia merupakan anak Tunggal dari pasangan bernama Toeloes dan Saleha. Ayahnya adalah Bupati Indragiri, Riau yang kemudian meninggal pada saat tragedi Pembantaian Rengat. Dia masih memiliki pertalian keluarga dengan Soetan Sjahrir, Perdana Menteri pertama Indonesia. Sebagai anak tunggal yang dimanja orang tuanya, ia cenderung bersikap keras kepala dan tidak ingin kehilangan apapun, sedikit mirip dengan kepribadian orang tuanya. Sejak usia 15 tahun, ia mengatakan bahwa ia sudah bertekad ingin menjadi seorang seniman. Ia pertama kali menempuh pendidikan di Hollandsch-Inlandsche School (HIS), sekolah dasar yang diperuntukkan orang-orang pribumi pada masa penjajahan Belanda. Kemudian dia meneruskan pendidikannya di Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO). Ia tidak lagi meneruskan pendidikannya saat usianya mencapai 18 tahun. Meskipun demikian, ia mampu menguasai berbagai bahasa asing seperti Inggris, Belanda, dan Jerman. Ia juga menghabiskan waktunya dengan membaca karya-karya pengarang internasional ternama, seperti: Rainer Maria Rilke, W.H. Auden, Archibald MacLeish, Hendrik Marsman, J. Slaurhoff, dan Edgar du Perron.
Pada saat usianya menjelang 19 tahun ia pindah ke Batavia (sekarang Jakarta) bersama ibunya setelah proses perceraian ibunya pada tahun 1940. Pada saat itulah ia mulai menggeluti dunia sastra. Pada tahun 1942 ketika ia berusia 20 tahun, ia mulai memublikasikan puisi pertamanya yang berjudul Nisan, sejak itulah Nama Chairil mulai dikenal dalam dunia sastra dan terus menuliskan karya-karyanya. Puisi memuat berbagai tema mulai dari tema pemberontakan, cinta, individualisme, eksistensialisme, kematian hingga multi-interpretasi.
Di perjalanan hidupnya ia pernah mencintai seorang perempuan Bernama Sri Ayati, namun ia tidak pernah punya keberanian untuk mengungkapkannya. Sebelum usianya menjelang 27 tahun, ia sudah lama mengalami penyakit paru-paru dan dinyatakan typus menjelang akhir hayatnya yang mengakibatkan ususnya pecah. Ia meninggal di Jakarta pada 28 April 1949 dalam usia yang sangat muda di usia 26 tahun. Meskipun hidup beliau singkat, beliau meninggalkan warisan sastra modern Indonesia yang sangat berpengaruh di dunia sastra. derai derai cemara yang merupakan puisi terakhirnya seolah-olah mencerminkan akan akhir hidupnya.
Kajian stilistika puisi derai derai cemara
Melihat puisi Derai-derai cemara yang merupakan puisi terakhir Chairil Anwar di masa hidupnya, puisi terdiri dari 3 bait dan 4 baris yang menunjukkan struktur kuatrain, dengan pengamatan alam. Berdasarkan strukturnya, puisi ini mengandung unsur klimaks dan antitesis ringan yaitu ada peningkatan makna dari masa muda ke masa tua dan akhirnya pada kesadaran akan kematian, kita bisa melihat nya dalam larik ‘aku sekarang orangnya bisa tahan’ ke larik ‘hidup hanya menunda kekalahan’ yang menunjukkan klimaks emosional, dari keteguhan menuju kepasrahan. Selain itu, puisi ini mengandung antithesis ringan, kita bisa melihat larik ‘cinta sekolah rendah’ yang mengandung arti masa polos, penuh cinta dan karik ‘tambah terasing’ yang mengandung makna masa kini yang penuh jarak. Jadi ada kontras makna (antitesis) yang mempertegas perubahan batin penyair.
Kalau kita amati penulisan larik per larik, kita akan menemukan bahwa semua larik dalam puisi ini menggunakan huruf kecil. Ini menunjukkan bahwa Chairil ingin menciptakan alur yang bebas tanpa ada paksaan, kesunyian dan kesederhanaan serta mengekspresikan kerendahan hati dan keputusasaan. Hal ini menjadikan puisi ini terasa lebih halus dan mencerminkan kata-kata yang diucapkan, bukan yang ditulis, sehingga meniadakan jeda yang dipaksakan. Selain itu ada kemungkinan dipengaruhi pribadi penulis sebagai angkatan ’45 yang cenderung melawan bentuk puisi tradisional yang masih terikat aturan ketat, termasuk penggunaan kapitalisasi yakni penggunaan huruf kapital di awal kalimat.
Keraf (2009:115) mengatakan gaya bahasa dapat dilihat dari dua sudut pandang yang berbeda, yakni dari segi nonbahasa dan dari segi bahasa. Dari segi non bahasa puisi ini bisa dilihat dari segi pengarang, waktu satu situasi dan tujuan atau sasaran. Puisi ini menampilkan gaya khas Chairil Anwar yang padat, lugas, dan sarat akan emosi, yang mencerminkan karakter penyair yang tegas dan reflektif terhadap kehidupan. Puisi ini lahir, sangat dipengaruhi bagaimana kondisi Chairil anwar pada saat itu.Beliau sedang mengalami sakit keras dan menyadari bahwa hidupnya tidak lama lagi. Selain itu, puisi ini juga dipengaruhi oleh situasi politik Indonesia yang masih bergejolak setelah proklamasi kemerdekaan, sehingga memberi warna tersendiri karena pada saat itu banyak pemuda gugur dalam perjuangan, dan suasana duka serta kesadaran akan kematian begitu dekat dengan kehidupannya sehari-hari. Masa perang dan ketidakpastian memengaruhi suasana melankolis dan kontemplatif dalam puisi tersebut. Dari segi tujuan, puisi ini tidak betujuan untuk menghibur, melainkan bertujuan untuk menggugah kesadaran eksistensial manusia akan kefanaan hidup seperti yang tersirat dalam baris ‘hidup hanya menunda kekalahan.’
Dengan demikian, Derai-Derai Cemara tidak hanya mencerminkan perasaan pribadi seorang penyair yang menghadapi ajal, tetapi juga menjadi representasi zaman yakni masa ketika hidup, perjuangan, dan kematian saling bersinggungan begitu erat. Inilah yang membuat puisi ini masih tetap relevan dan menyentuh pembaca lintas generasi.
Dari segi bahasa, Keraf menegaskan bahwa gaya bisa dikaji berdasarkan pilihan kata (diksi), nada, dan struktur kalimat. Dalam puisinya, Chairil menggunakan pilihan kata (diksi) yang sederhana dan tidak resmi, misalnya ‘aku sekarang orangnya bisa tahan’. Ini termasuk gaya bahasa yang tak resmi dan percakapan, yang menunjukkan spontanitas dan kejujuran berekspresi. Mesikpun sederhana, kata kata itu berdaya makna tinggi seperti ‘cemara’, ‘merapuh’, ‘menyerah’, dan ‘kekalahan’, yang bersama-sama membangun suasana murung atau melankolis dan kontemplatif. Kata ‘cemara’ bukan hanya penanda benda konkret, tetapi memiliki nilai simbolik yang kuat yaitu pohon cemara yang tetap berdiri tegak meski diterpa angin badai menjadi representasi dari keteguhan, kesetiaan, dan daya tahan manusia dalam menghadapi kerasnya kehidupan. Sementara kata ‘merapuh’ dan ‘menyerah’ menandai adanya kontras antara keteguhan dan kefanaan, seolah menunjukkan bahwa sekuat apa pun manusia untuk bertahan, pada akhirnya ia akan tetap takluk pada waktu dan kematian.
Selain itu, Chairil tidak hanya menggunakan diksi yang hanya bermakna literal, tetapi juga menggunakan diksi konotatif yang menggugah perasaan dan membuka ruang tafsir bagi pembaca. Pilihan katanya begitu singkat, efisien, namun penuh resonansi emosional dimana setiap kata seolah-olah mengandung lapisan makna yang bisa dibaca sebagai ekspresi batin penyair terhadap keterasingan dan kesadaran akan nasib manusia. Penggunaan kata ‘terasa hari akan jadi malam’ misalnya, larik ini tidak sekadar menggambarkan perubahan waktu, tetapi juga menjadi metafora menuju kegelapan dan kematian. Larik ini menandai perubahan suasana dari suasana terang menuju redup, dari kehidupan menuju kefanaan, yang memperkuat nuansa eksistensial dalam puisi.
Berdasarkan nada, puisi ini merupakan puisi yang sederhana dan menengah. Sebagai penyair ia tidak meninggikan diri, melainkan berbicara dengan nada tenang dan reflektif tentang hidup dan kematian. Nada pada puisi ini sesuai dengan gaya yang tidak muluk-muluk tapi penuh makna filosofis.Begitu juga dalam hal struktur kalimat yang sudah dibahas sebelumnya dimana puisi ini memperlihatkan struktur klimaks dan antithesis. Dengan keduanya, struktur ini memperkuat kesan perjalanan batin yang semakin sadar akan kefanaan.
Dalam hal majas atau gaya bahasa, Chairil Anwar menunjukkan kepekaan yang luar biasa dalam menggunakan bahasa figuratif untuk mengungkapkan pergulatan batinnya. Chairil menggunakan gaya bahasa personifikasi dalam puisinya ‘cemara menderai sampai jauh’ dan ‘dahan di tingkap merapuh, dipukul angin yang terpendam’ untuk menciptakan hubungan emosional antara manusia dan lingkungannya. Cemara yang ‘menderai’ seolah-olah menangis atau meratap, sedangkan dahan yang ‘merapuh’ dan ‘dipukul angin’ menunjukkan kerapuhan hidup manusia yang secara bertahap dihancurkan oleh kekuatan tak terlihat, seperti waktu, ;nasib, atau kematian. ia menghidupkan suasana duka yang mendalam tetapi lembut.
Dalam larik ‘hidup hanya menunda kekalahan’, ia menggunakan personifikasi dan metafora eksistensial dalam puisinya. Karena ungkapan ini merupakan gaya bahasa metaforis yang dalam, itu menunjukkan hidup sebagai perjalanan menuju akhir, atau kematian. Itu juga menunjukkan kesadaran manusia terhadap batas eksistensi mereka. Fasa ini tidak hanya pesimis, tetapi juga menggambarkan bagaimana Chairil menerima realitas tragis hidupnya sambil tetap teguh. Ini menunjukkan bahwa gaya bahasa Chairil merupakan alat refleksi filosofis yang menunjukkan sikap eksistensial penyair terhadap kehidupan dan kedalaman pemikirannya.
Setiap larik memiliki makna yang padat karena gaya bahasa Chairil yang ekspresif tetapi ekonomis. Ia tidak menghias puisinya dengan kata-kata manis atau klise namun sebaliknya, ia memilih untuk berbicara tentang kenyataan hidup dengan cara yang sederhana dan sadar. Puisi-puisinya lebih indah karena ketepatan diksi dan kekuatan emosi daripada bahasa yang indah. Chairil Anwar menciptakan gaya puitik yang otentik dengan memadukan personifikasi, metafora eksistensial, citraan alam, dan struktur kalimat yang bebas. Gaya ini tidak hanya menampilkan estetika bahasa, tetapi juga menggambarkan jiwa dan pemikiran penyair sebagai orang yang terus mencari makna di tengah kefanaan hidup.
Puisi ‘Derai-Derai Cemara’ secara keseluruhan menggunakan gaya puitik khas Chairil Anwar, yang terdiri dari kata-kata yang lugas dan sederhana namun penuh dengan makna yang mendalam. Chairil berhasil menyampaikan tema besar tentang kefanaan hidup dan keteguhan manusia dalam menghadapi kematian dengan menggunakan diksi yang sederhana tetapi simbolik. Setiap kata dipilih berdasarkan makna emosional dan estetika yang kuat, dan gaya bahasanya tidak dihiasi. Hal ini menunjukkan kecenderungan stilistika Chairil yang sederhana dalam penggunaan bahasa tetapi kaya akan makna, yang membedakannya dari penyair sezamannya.
Selain itu, gambar alam seperti cemara, angin, dan malam sering digunakan sebagai latar suasana dan sebagai simbol yang menggambarkan emosi batin penyair. Chairil menunjukkan hubungan yang kuat antara alam dan manusia melalui personifikasi dan metafora yang halus. Dia menunjukkan bahwa manusia dan alam adalah dua entitas yang berkembang dan rapuh di tengah waktu. Kesan kontemplatif yang diperkuat oleh struktur sintaksis yang bebas dan penggunaan enjambemen, seolah-olah pikiran penyair mengalir bebas di ruang pikir yang tenang. Perpaduan antara kesederhanaan bentuk, kedalaman simbolik, dan ketulusan ekspresi emosional adalah alasan puisi ‘Derai-Derai Cemara’ unik, menurut pendekatan stilistika. Chairil Anwar menunjukkan bahwa kekuatan puisi tidak selalu terletak pada kerumitan bahasa, tetapi pada kejujuran dan ketepatan ekspresi yang mampu menyentuh sisi kemanusiaan pembacanya. Gaya inilah yang membuat karya Chairil tidak hanya relevan pada masanya, tetapi juga relevan untuk pembaca sastra Indonesia saat ini.












Tinggalkan Balasan