Literatura Nusantara

Membumikan Sastra Melangitkan Kata

Kajian Makna Kutukan pada Cerita Rakyat Berjudul “The Legend of The Pineapple”

[Sumber gambar: https://emmblu.wordpress.com/]

Penulis: Indriani Widyastuti

Legenda adalah cerita rakyat yang dipercaya sebagian masyarakat sebagai peristiwa nyata yang pernah terjadi dan biasanya berkaitan dengan asal-usul suatu tempat, nama daerah, atau fenomena alam. Pengarang legenda seringkali tidak diketahui karena legenda merupakan cerita yang diturunkan dari mulut ke mulut secara turun-temurun.

Cerita berjudul “The Legend of The Pineapple” (Asal usul Nanas) ini adalah sebuah legenda /cerita rakyat yang berasal dari Filipina yang mengisahkan tentang asal usul buah nanas.

Legenda ini menceritakan tentang kisah seorang ibu yang memiliki putri bernama Pina yang sangat malas. Pina tidak pernah mau membantu ibunya. Ketika ibunya menyuruh Pina membantu pekerjaan rumah, Pina selalu berkata bahwa ia tidak menemukan barang yang ia butuhkan untuk melakukan pekerjaan tersebut. Karena kesal dengan kelakuan Pina, sang ibu berkata “Seandainya kamu punya seribu mata di kepalamu, maka kamu akan mudah menemukan apa yang kamu cari dan kamu tidak punya alasan lagi untuk tidak membantu Ibu”.

Setelah berkata demikian, Pina menghilang. Berbulan-bulan kemudian, di tempat Pina menghilang sang ibu menemukan sebuah tanaman dengan buah yang memiliki banyak mata. Mengingat apa yang telah diucapkannya, sang Ibu menyadari bahwa itu adalah jelmaan Pina, anaknya yang hilang dan kini berubah menjadi buah yang memiliki banyak mata. Tanpa disadari sang ibu sudah mengutuk anaknya sendiri karena kesal anaknya tidak mau membantunya dengan alasan tidak menemukan benda yang dia butuhkan. Setelah sadar bahwa anaknya telah berubah wujud menjadi buah,  sang ibu menamai buah tersebut sesuai dengan nama anaknya, Pina/pineapple/nanas, yaitu buah yang memiliki banyak mata, yang mana mata digunakan untuk menemukan benda-benda yang dicari.

Legenda ini menyajikan akhir cerita yang sarat akan pesan moral, dimana tokoh utama dalam cerita tersebut (Pina) mendapat kutukan dari sang ibu akibat perbuatan buruk yang dilakukannya. Kata “mengutuk’  dan “dikutuk” secara tersurat terdapat di bagian akhir dalam cerita ini.

She suddenly remembered the spiteful words she used that fateful day. With horror, she realized that in the same way her mother’s love had spoiled her daughter, so did her anger unwittingly curse her. Somehow, her daughter had been turned into this plant.

To honor the memory of her beloved daughter, she named the fruit Pina. She took such loving care of it like it was her own daughter. The fruit flourished so well that it bore more and more fruits, and became popular among the village and the entire country. Its name later evolved to pinya, or pineapple in English.

And that’s how the pineapple came to be, according to folklore, named after a spoiled child who was cursed with a thousand eyes.

Analisis cerita legenda ini akan mengkaji tentang makna “kutukan” yang sering muncul dalam cerita legenda, seperti pada cerita “The Legend of The Pineapple” ini. Lebih khusus, analisis ini akan mengkaji makna kutukan dari  segi definisi , tinjauan agama Islam, kepercayaan masyarakat dan kesamaan dengan beberapa  legenda dari negara kita, Indonesia.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, Kutuk adalah doa atau kata-kata yang dapat mengakibatkan kesusahan atau bencana kepada seseorang;  kesusahan atau bencana yang menimpa seseorang disebabkan doa atau kata-kata yang diucapkan orang lain; laknat (Tuhan); sumpah.

Kutukan menjadi pengingat bahwa setiap perbuatan buruk memiliki konsekuensi. Tindakan durhaka Pina kepada ibunya berujung pada kutukan yang mengubahnya menjadi buah nanas, mengajarkan agar selalu berhati-hati dalam bertindak dan menghormati orang tua.

Kutukan juga merupakan simbol kedurhakaan. Seperti pada cerita diatas,  kutukan dan perubahan Pina menjadi buah nanas adalah simbol bagi anak yang durhaka dan tidak patuh pada ibunya. Cerita ini menekankan bahwa  kutuk atau doa seorang ibu memiliki kekuatan dan dapat terkabul, terutama saat ia sakit hati.

Dalam pandangan Islam, konsep kutukan sedikit berbeda dengan apa yang tersurat dalam cerita-cerita legenda, dimana dalam kebanyakan cerita legenda, konsep kutukan adalah  ucapan atau doa  yang diberikan seseorang yang merupakan  hukuman akibat perbuatan buruk seseorang. Namun dalam pandangan Islam kutukan merupakan hukuman yang kebanyakan hanya diberikan oleh Alloh sebagai akibat dari perbuatan dosa manusia.

Al-Qur’an menjelaskan kutukan sebagai jauhnya seseorang dari rahmat Allah, kehinaan, dan kecelaan. Kata “la’nah” dalam Al-Qur’an memiliki makna ini. Contoh kutukan dalam Al-Qur’an meliputi orang-orang yang ingkar, munafik, dan melanggar perintah Allah, yang diancam dengan azab yang kekal.

Contoh kutukan dalam Al-Qur’an:

Surah An-Nisa’ (4:52): Menyatakan bahwa orang-orang yang dikutuk Allah tidak akan mendapatkan penolong baginya.

Surah Al-Baqarah (2:65): Mengisahkan kaum Bani Israil yang dikutuk menjadi kera karena melanggar perintah Allah untuk tidak berburu ikan di hari Sabtu.

Surah At-Taubah (9:68): Menyebutkan bahwa Allah telah menjanjikan neraka Jahanam bagi orang-orang munafik laki-laki dan perempuan, serta orang-orang kafir. Mereka kekal di dalamnya dan telah dilaknat (dikutuk) oleh Allah.

Surah Al-Ma’idah (5:78): Menyebutkan bahwa kutukan tersebut (dari Nabi Isa) diberikan kepada kaum yang membangkang, karena mereka melanggar hukum-hukum Allah.

Dari beberapa kutipan ayat Al Qur’an diatas, dapat disimpulkan bahwa dalam pandangan Islam (dalam Al-Qur’an), yang memberi kutukan (melaknat / melaknati) bisa berasal dari beberapa sumber, tergantung konteks ayatnya. Kata yang digunakan biasanya adalah “la‘nah” (لَعْنَة) yang berarti pengusiran dari rahmat Allah. Kutukan utama datang dari Allah sebagai bentuk keadilan atas perbuatan dosa besar.

Namun, dibeberapa ayat juga dikatakan bahwa malaikat ikut melaknat karena mereka adalah pelaksana kehendak Allah terhadap kejahatan manusia. Seperti pada Qur’an Surat Al-Baqarah [2]: 161]

“Sesungguhnya orang-orang yang kafir dan mati dalam keadaan kafir, mereka itu mendapat laknat Allah, malaikat, dan manusia seluruhnya.”

Manusia kadang melaknat atau mendo’akan keburukan terhadap orang yang zalim, tapi hanya Allah yang menentukan apakah kutukan itu diterima atau tidak. Hal ini tersurat dalam QS. Al-Baqarah [2]: 159-160 yang menunjukkan bahwa manusia dan malaikat bersama-sama melaknat orang yang menyembunyikan kebenaran.

Dalam beberapa budaya, kutukan dianggap sebagai alat untuk menegakkan norma-norma sosial. Seseorang yang melanggar aturan atau melakukan tindakan yang tidak diharapkan oleh masyarakat dapat dianggap sebagai orang yang dikutuk atau berisiko dikutuk.

Di banyak komunitas, termasuk di beberapa daerah di Indonesia, kepercayaan terhadap kutukan adalah bagian dari kearifan lokal dan tradisi turun-temurun. Kata-kata yang diucapkan oleh orang yang lebih tua atau yang memiliki status sosial tertentu dianggap memiliki “kekuatan” mistis.

Di era modern sekarang ini dengan kemajuan teknologi dan sains yang terus berkembang, kepercayaan terhadap hal-hal mistis, termasuk kutukan, masih tetap ada di masyarakat. Hal ini menunjukkan bahwa kebutuhan akan makna dan penjelasan di luar logika tetap kuat. Hal ini diperkuat juga oleh media, film, dan cerita horor modern yang sering mengangkat tema kutukan, yang semakin mendukung keberadaannya dalam kesadaran publik.

Berbicara mengenai cerita yang mengusung tema kutukan,  Indonesia pun memiliki banyak cerita rakyat dengan tema atau akhir cerita tentang kutukan.  Cerita-cerita tersebut diantaranya adalah:

Malin Kundang: Berasal dari Sumatera Barat, cerita ini mengisahkan seorang anak yang durhaka kepada ibunya. Ketika Malin Kundang telah menjadi kaya dan bertemu kembali dengan ibunya, ia tidak mengakui ibunya. Sang ibu, yang merasa sangat sakit hati, mengutuk Malin Kundang hingga akhirnya kapal dan dirinya berubah menjadi batu di pantai.

Legenda Telaga Warna: Legenda dari Jawa ini menceritakan tentang seorang putri raja yang dikutuk tidak memiliki keturunan. Kutukan tersebut datang setelah sang raja dan istrinya melanggar pantangan untuk tidak membunuh rusa, yang dianggap sebagai membunuh keturunannya sendiri.

Batu Gajah: Berasal dari pedalaman Sumatera, legenda ini mengisahkan tentang seorang manusia yang dikutuk menjadi batu.

Kutukan Marga Han: Terjadi di Lasem, Jawa Tengah, kutukan ini ditujukan pada keturunan marga Han yang konon dilarang menginjakkan kaki di tanah Lasem.

Kutukan Raja Pulau Mintin: Menceritakan dua pangeran yang bertengkar, lalu salah satunya dikutuk menjadi buaya penjaga di sekitar Pulau Mintin di Sungai Kapuas, Kalimantan, sementara yang lain menjadi naga penjaga sungai.

Batu Menangis: Cerita dari Kalimantan yang berisi kisah anak yang dikutuk ibunya menjadi batu karena sang anak tidak mengakui ibunya yang sudah tua dan miskin.

Semua legenda tersebut memiliki benang merah yang sama yaitu terjadinya malapetaka akibat doa atau ucapan seseorang, yang  dipercaya sebagai kutukan,  terhadap orang yang melakukan perbuatan tidak baik, dosa atau melanggar norma.

Cerita legenda yang berakhir dengan kutukan umumnya menyimpulkan bahwa tindakan buruk akan membawa konsekuensi yang merugikan, baik bagi pelaku maupun orang di sekitarnya. Kutukan sering kali menjadi hukuman setimpal yang berfungsi sebagai pengingat akan pentingnya nilai-nilai moral dalam kehidupan, seperti menghormati orang tua, menepati janji, dan tidak sombong.

Kutukan dalam cerita legenda bukan hanya sekadar hukuman, tetapi juga manifestasi dari keadilan alam atau ilahi. Hal ini menunjukkan bahwa segala perbuatan buruk, pada akhirnya, akan mendapatkan balasannya.

Legenda-legenda ini secara tidak langsung mengajarkan pentingnya menghargai dan bersyukur atas apa yang dimiliki. Sifat serakah, pemalas, dan sombong selalu berujung pada penderitaan dan penyesalan.

Kesimpulannya, cerita-cerita legenda dengan akhir kutukan berfungsi sebagai mitos pengajaran untuk masyarakat. Mereka tidak hanya menjelaskan asal-usul suatu tempat atau fenomena, tetapi juga menyisipkan nilai-nilai moral yang kuat tentang pentingnya kebajikan, kerendahan hati, dan penghormatan dalam kehidupan. Seperti dalam cerita “The Legend of The Pineapple” ini yang memberikan pesan moral mendalam terutama untuk seorang anak  yang harus selalu menghormati dan membantu orangtua serta mengajarkan agar tidak menjadi anak yang malas.


Eksplorasi konten lain dari Literatura Nusantara

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Categories:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *