Literatura Nusantara

Membumikan Sastra Melangitkan Kata

Jejak Aksara di Pojok Perpustakaan

[Sumber gambar: AI]

Penulis: Geli Febiani

Pojok perpustakaan kampus itu selalu sepi. Rak-rak buku berdiri rapi, seolah menunggu seseorang yang benar-benar ingin membaca, bukan sekadar mencari tempat berteduh dari panas siang. Di sanalah Raka sering duduk, menulis di buku catatan cokelat miliknya sambil sesekali membuka buku-buku lama tentang sastra dan literasi.

Raka bukan mahasiswa yang paling pandai berbicara di kelas, tetapi ia memiliki kegemaran membaca dan menulis. Baginya, literasi bukan hanya soal membaca huruf demi huruf, melainkan memahami makna di balik kata. Ia percaya bahwa tulisan adalah jembatan antara pikiran dan perasaan manusia.

Suatu sore, dosen bahasa Indonesia memberikan tugas kepada kelas: menulis berbagai jenis tulisan berdasarkan satu tema. Tema itu adalah literasi. Raka tersenyum kecil. Ia tahu, tugas ini bukan sekadar memenuhi kewajiban akademik, melainkan kesempatan untuk menuangkan kecintaannya pada dunia tulis-menulis.

Malam itu, Raka mulai menulis. Ia membuka lembar pertama dengan sebuah narasi tentang pengalaman pertamanya membaca buku cerita saat kecil. Lalu, ia melanjutkannya dengan deskripsi tentang aroma buku perpustakaan yang khas, sunyi yang menenangkan, dan cahaya lampu yang temaram. Setelah itu, ia menulis bagian eksposisi yang menjelaskan makna literasi sebagai kemampuan memahami dan mengolah informasi secara kritis. Di akhir tulisannya, ia menyusun argumentasi tentang pentingnya budaya membaca dan menulis di kalangan mahasiswa.

Tanpa disadari, Raka telah menggabungkan berbagai jenis tulisan dalam satu karya. Ia menulis dengan jujur, mengalir, dan penuh makna. Bagi Raka, setiap jenis tulisan memiliki peran: narasi untuk bercerita, deskripsi untuk menggambarkan, eksposisi untuk menjelaskan, dan argumentasi untuk meyakinkan pembaca.

Ketika hari pengumpulan tiba, Raka menyerahkan tulisannya dengan perasaan lega. Beberapa hari kemudian, dosen membacakan salah satu karya di depan kelas. Tulisan itu adalah milik Raka. Dosen mengatakan bahwa cerpen tersebut berhasil menunjukkan pemahaman literasi sekaligus penerapan berbagai jenis tulisan secara kreatif.

Raka tersenyum. Ia menyadari bahwa literasi bukanlah sesuatu yang rumit atau jauh dari kehidupan sehari-hari. Literasi hidup dalam cerita, dalam esai, dalam argumentasi, dan dalam setiap kata yang ditulis dengan kesadaran dan tanggung jawab.

Sejak saat itu, pojok perpustakaan tidak lagi terasa sunyi. Setiap lembar tulisan Raka menjadi bukti bahwa literasi mampu menghidupkan kata, menggerakkan pikiran, dan menghubungkan manusia melalui berbagai jenis tulisan.


Eksplorasi konten lain dari Literatura Nusantara

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Categories:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *