Literatura Nusantara

Membumikan Sastra Melangitkan Kata

Hujan, Petir, dan Ketakutan Kolektif

[Sumber gambar: https://www.kompasiana.com/]

Penulis: Heri Isnaini

Musim hujan pada tahun 1990-an bukan sekadar peristiwa cuaca. Ia adalah situasi batin. Langit yang tiba-tiba menggelap, angin yang datang tanpa permisi, dan bunyi petir yang meledak seperti pintu langit dibanting, semuanya membentuk satu kesadaran bersama, yakni ada sesuatu yang harus diwaspadai.

Waktu itu, hujan selalu datang bersama instruksi. Televisi harus dimatikan. Antena harus dicabut. Anak-anak dilarang berdiri dekat jendela. Ibu akan berkata dengan suara setengah berbisik, setengah ancaman, “Petir bisa nyambar.” Tidak ada penjelasan ilmiah, tidak juga diagram listrik statis. Yang ada hanyalah kepatuhan kolektif yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Sebagai anak, saya mengenal petir bukan lewat buku IPA, melainkan lewat rasa takut yang dibagi bersama. Takut yang sama dirasakan seluruh rumah. Seluruh kampung. Petir menjadi makhluk tak kasatmata yang punya kehendak sendiri. Ia bisa marah. Bisa memilih sasaran. Bisa datang tiba-tiba. Maka, musim hujan adalah musim kewaspadaan.

Di luar rumah, hujan mengubah jalan kampung menjadi sungai kecil. Tapi di dalam rumah, ia mengubah ruang menjadi tempat berlindung. Kami duduk lebih rapat. Suara hujan di genting menjadi musik yang monoton, sementara petir menyela seperti tanda baca yang kasar. Di momen-momen itulah cerita mistik sering muncul, yaitu tentang pohon yang disambar, orang yang “kena”, atau suara aneh setelah kilat menyambar tanah.

Ketakutan itu bukan ketakutan individual. Ia komunal. Ia diproduksi bersama, dirawat bersama, dan dipercaya bersama. Bahkan orang dewasa, yang dalam keseharian tampak rasional, ikut mematikan televisi, ikut mencabut kabel, ikut menengadah ke langit dengan cemas. Tidak ada yang merasa paling tahu. Semua tunduk pada alam.

Menariknya, ketakutan itu tidak sepenuhnya negatif. Ia justru membentuk etika kehati-hatian. Anak-anak belajar diam. Belajar menunggu. Belajar bahwa ada hal-hal yang tidak bisa dilawan, hanya bisa dihindari. Musim hujan mengajari kami bahwa dunia tidak selalu ramah, dan manusia bukan pusat segalanya.

Kini, ketika musim hujan datang, petir tinggal menjadi notifikasi di aplikasi cuaca. Televisi tetap menyala. Gawai tetap di tangan. Ketakutan itu menguap, digantikan oleh rasa tahu. Tapi bersama hilangnya takut, hilang pula satu hal penting, yait “rasa takzim pada alam”.

Musim hujan tahun 1990-an mengajarkan saya satu hal yang tak tertulis di buku pelajaran bahwa rasa takut, jika dibagi bersama, bisa menjadi cara paling manusiawi untuk memahami dunia. Petir bukan hanya bunyi. Ia adalah ingatan. Ia adalah gema dari masa kecil yang mengajarkan bahwa ada kekuatan di luar diri kita dan kita belajar hidup berdampingan dengannya, dengan diam, dengan doa, dan dengan saling menjaga.

Bandung, 3 Februari 2026


Eksplorasi konten lain dari Literatura Nusantara

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Categories:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *