HIMA Diksatrasia PBSI IKIP Siliwangi 2026–2027

[Sumber gambar: Dokumentasi Hima Diksatrasia]
Penulis: Heri Isnaini
Himpunan Mahasiswa (HIMA) bukan sekadar struktur organisasi yang berganti setiap periode. Ia adalah ruang belajar yang hidup, tempat mahasiswa menguji gagasan, merawat solidaritas, dan membangun identitas keilmuan. Dalam konteks Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI), IKIP Siliwangi, HIMA hadir sebagai rumah akademik-kultural yang menghubungkan teori di ruang kelas dengan praktik intelektual di ruang kolektif mahasiswa.
Di bawah naungan Program Studi PBSI yang dipimpin oleh Dr. Diena San Fauziya, M.Pd., HIMA Diksatrasia menjadi bagian penting dari ekosistem akademik. HIMA tidak berdiri sendiri, melainkan tumbuh sebagai mitra strategis prodi dalam membangun atmosfer literasi, keilmuan, dan kepemimpinan mahasiswa. Sinergi antara prodi dan HIMA inilah yang memungkinkan bahasa dan sastra tidak berhenti sebagai materi ajar, tetapi berkembang sebagai pengalaman intelektual yang dialami bersama.
Secara fungsional, HIMA memikul peran yang fundamental. Pertama, sebagai laboratorium keilmuan nonformal, HIMA menjadi ruang diskusi, latihan menulis, dan pertemuan gagasan, yaitu ruang untuk mahasiswa PBSI belajar berpikir kritis dan kreatif. Kedua, HIMA berfungsi sebagai wadah kaderisasi kepemimpinan, tempat mahasiswa belajar mengelola organisasi, membangun etika kolektif, dan memikul tanggung jawab. Ketiga, HIMA menjadi jembatan aspirasi, penghubung dialogis antara mahasiswa, program studi, dan institusi. Keempat, HIMA berperan sebagai penjaga identitas kultural, merawat bahasa, sastra, dan tradisi literasi di tengah dinamika kampus.

Peran-peran tersebut tidak lepas dari proses pendampingan dan pembinaan. Dalam hal ini, kehadiran Dr. Heri Isnaini, M.Hum. sebagai Pembina HIMA Diksatrasia PBSI IKIP Siliwangi menjadi penting. Pembina tidak hanya berfungsi sebagai pengarah struktural, tetapi juga sebagai penjaga orientasi intelektual dan etika akademik, agar HIMA tetap berpijak pada nilai-nilai keilmuan, kebudayaan, dan kemanusiaan.
Memasuki periode kepengurusan 2026–2027, HIMA Diksatrasia PBSI IKIP Siliwangi menandai babak baru di bawah kepemimpinan Yuda Saputra sebagai Ketua dan Utari Nur Pramesti sebagai Wakil Ketua. Kepengurusan ini memikul estafet sejarah organisasi sekaligus tantangan zaman, yakni menjaga kesinambungan tradisi intelektual HIMA, sambil membuka ruang inovasi dan adaptasi terhadap konteks mahasiswa hari ini.

Di bawah kepemimpinan Yuda Saputra dan Utari Nur Pramesti, HIMA diharapkan semakin menegaskan dirinya sebagai ruang tumbuh bersama, bukan sekadar ruang administratif. HIMA bukan hanya tentang program kerja dan laporan kegiatan, tetapi tentang proses pembentukan karakter akademik: keberanian berpikir, kepekaan sosial, kedisiplinan organisasi, dan kecintaan pada bahasa serta sastra Indonesia.
Pada akhirnya, keberadaan HIMA Diksatrasia PBSI IKIP Siliwangi tidak diukur semata dari banyaknya kegiatan, melainkan dari kedalaman dampak intelektual dan kultural yang ditinggalkannya. Setiap periode kepengurusan adalah jejak kecil dalam perjalanan panjang pendidikan, dan kepengurusan 2026–2027 adalah bagian penting dari jejak tersebut.
Dengan dukungan Program Studi PBSI, arahan Kaprodi, pembinaan dosen pembina, serta kerja kolektif seluruh pengurus dan anggota, HIMA Diksatrasia diharapkan terus menjadi rumah belajar, ruang dialog, dan ladang tumbuh, yaitu tempat bahasa menemukan maknanya, sastra menemukan denyutnya, dan mahasiswa menemukan arah keilmuannya.
Cimahi, 28 Januari 2026













Tinggalkan Balasan