Literatura Nusantara

Membumikan Sastra Melangitkan Kata

Generasi Muda dan Bela Negara di Kehidupan Sehari-hari

[Sumber gambar: wowkeren.com]

Penulis: Farah Faizah Arafah

Ketika mendengar istilah bela negara, bayangan yang kerap muncul adalah peperangan, senjata, dan medan pertempuran. Padahal, di era modern, makna bela negara jauh lebih luas dan dekat dengan kehidupan kita sehari-hari. Membela negara bukan hanya soal berdiri di garis depan dengan seragam militer, melainkan bagaimana setiap warga negara, sesuai kapasitasnya, berkontribusi menjaga persatuan, kedaulatan, dan kemajuan bangsa.

Bagi generasi muda, khususnya mahasiswa dan calon pendidik, arena bela negara sesungguhnya ada di ruang-ruang pendidikan. Proses belajar mengajar bukan sekadar transfer ilmu, tetapi juga medan strategis untuk menanamkan nilai cinta tanah air, kedisiplinan, gotong royong, serta etika bermedia sejak dini. Anak-anak yang kita didik hari ini adalah calon pemimpin esok. Maka, ketika kita menanamkan karakter kebangsaan kepada mereka, sesungguhnya kita sedang menulis bab awal pertahanan bangsa yang berjangka panjang.

Bela negara dalam kehidupan sehari-hari kerap hadir dalam bentuk sederhana. Disiplin belajar, menjaga kebersihan lingkungan, menghargai perbedaan teman sebaya, hingga menggunakan media sosial dengan bijak—semuanya adalah bentuk kontribusi yang tidak bisa diremehkan. Di era digital, sikap kritis untuk memilah informasi, menolak hoaks, dan menghindari ujaran kebencian adalah tameng baru untuk menjaga keutuhan bangsa. Ancaman terhadap negara saat ini bukan hanya serangan fisik, tetapi juga potensi perpecahan akibat disinformasi yang menggerogoti kepercayaan sosial.

Namun, perjalanan generasi muda dalam mengamalkan bela negara tidaklah mudah. Globalisasi dan budaya instan sering kali membuat anak muda lebih fasih mengenal budaya populer luar negeri daripada tradisi sendiri. Di satu sisi, arus informasi global membuka kesempatan belajar tanpa batas, tetapi di sisi lain ia membawa risiko jika tidak disaring dengan literasi yang baik. Di sinilah peran literasi digital dan pendidikan karakter menjadi benteng utama yang menjaga agar generasi muda tidak tercerabut dari akar bangsanya.

Setidaknya ada tiga langkah nyata yang bisa dilakukan generasi muda sebagai wujud bela negara. Pertama, memperkuat literasi—mulai dari literasi baca tulis, literasi digital, hingga literasi budaya, sehingga kita tidak mudah goyah oleh pengaruh negatif global. Kedua, membiasakan gotong royong dan solidaritas, nilai luhur yang sejak lama menjadi jati diri bangsa Indonesia. Ketiga, menumbuhkan kebanggaan terhadap identitas bangsa, baik melalui bahasa, budaya, maupun pemahaman sejarah perjuangan. Dengan ketiga langkah ini, generasi muda dapat menjadi kokoh menghadapi derasnya arus globalisasi tanpa kehilangan jati diri.

Sesungguhnya, bela negara adalah panggilan semua warga negara, tidak terbatas pada mereka yang berseragam militer. Seorang pendidik yang menanamkan kejujuran kepada muridnya, seorang mahasiswa yang menekuni studinya demi kemajuan bangsa, atau seorang warga yang tertib berlalu lintas—semuanya adalah potongan mozaik bela negara. Tindakan itu mungkin terlihat kecil, tetapi jika dilakukan secara kolektif, akan menjelma menjadi kekuatan besar yang menopang bangsa.

Generasi muda adalah garda terdepan masa depan Indonesia. Dengan cinta tanah air yang diwujudkan dalam tindakan nyata sehari-hari, kita sedang menulis kisah bela negara dengan tinta keberanian, kedisiplinan, dan pengabdian. Dari ruang kelas, lingkungan sekitar, hingga jagat digital, setiap langkah adalah kontribusi. Inilah bela negara versi generasi kita: sederhana, nyata, dan bermakna bagi Indonesia.


Eksplorasi konten lain dari Literatura Nusantara

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Categories:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *