Literatura Nusantara

Membumikan Sastra Melangitkan Kata

Genealogi Generasi dan Cara Manusia Memberi Makna

[Sumber gambar: https://idn.freepik.com/]

Penulis: Heri Isnaini

Dalam kajian sosiologi, generasi tidak sekadar ditentukan oleh tahun kelahiran. Akan tetapi, yang jauh lebih menentukan adalah pengalaman historis kolektif dan peristiwa-peristiwa besar yang dialami bersama, lalu membentuk cara berpikir, merasa, dan memaknai hidup. Karl Mannheim pernah mengingatkan bahwa generasi adalah produk zaman. Dan zaman, seperti yang kita tahu, tidak pernah netral. Ia selalu meninggalkan luka, tetapi juga pelajaran. Oleh sebab itu, pembagian generasi dari 1883 hingga proyeksi 2039 sesungguhnya dapat dibaca sebagai satu narasi panjang tentang cara manusia bertahan dan memberi makna pada hidupnya.

Mereka yang lahir pada rentang 1883–1900, yang kerap disebut “Generasi Hilang”, tumbuh di dunia yang rapuh. Perang, krisis, dan ketidakpastian global menjadi udara sehari-hari. Tak lama berselang, mereka yang lahir pada 1901–1927, “Generasi Terhebat”, ikut ditempa oleh pengalaman serupa. Hidup bagi kedua generasi ini bukan ruang untuk pencarian diri, melainkan medan perjuangan. Dalam kacamata trauma budaya, mereka mengalami penderitaan kolektif, yakni luka yang bukan hanya personal, tetapi struktural. Tak mengherankan jika nilai yang mereka pegang adalah ketahanan, pengorbanan, dan tanggung jawab. Dalam bahasa sastra, mereka hidup dengan tubuh yang letih, tetapi jiwa yang tegak. Mereka jarang bertanya “Siapa aku?”, karena yang lebih mendesak adalah “Bagaimana kita selamat?”

Setelah dunia mulai bergerak menjauh dari trauma, lahirlah mereka yang berada di rentang 1928–1945, “Generasi Diam”. Mereka bekerja tanpa banyak bicara, membangun dalam sunyi. Bersama “Generasi Baby Boomer” yang lahir pada 1946–1964, mereka menjadi fondasi dunia pascaperang. Negara, institusi, sistem pendidikan, dan tatanan sosial modern banyak disangga oleh tangan-tangan mereka. Baby Boomer hidup dengan keyakinan kuat pada narasi kemajuan, yakni kerja keras, stabilitas, dan kepastian aturan. Dunia, bagi mereka, adalah sesuatu yang bisa ditata, bahkan dikendalikan, melalui sistem. Barangkali karena itulah, ketegangan antargenerasi mulai muncul ketika sistem yang mereka bangun mulai dipertanyakan oleh generasi setelahnya.

“Generasi X”, yang lahir pada 1965–1980, hadir sebagai generasi peralihan. Mereka hidup di dua dunia, yaitu analog dan digital. Mereka menjadi jembatan kultural, penafsir ulang nilai lama, sekaligus penyesuai diri terhadap perubahan teknologi. Adaptif dan mandiri, tetapi kerap terjebak dalam tarik-menarik antara loyalitas pada tatanan lama dan tuntutan pembaruan.

Sementara itu, “Generasi Milenial” yang lahir pada 1981–1996 tumbuh di tengah percepatan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Informasi melimpah, tuntutan hidup semakin tinggi, dan kepastian ekonomi makin rapuh. Mereka sering dicap mudah stres, tetapi dari kegelisahan itulah lahir kreativitas dan inovasi. Dalam bahasa sastra, Milenial adalah generasi yang gelisah bukan karena rapuh, melainkan karena terlalu sadar bahwa hidup tidak lagi sesederhana rumus lama tentang kerja dan kesuksesan.

“Generasi Z”, yang lahir pada 1997–2012, menandai perubahan yang lebih radikal. Teknologi bagi mereka bukan sekadar alat, melainkan habitat. Identitas, relasi sosial, bahkan cara beriman dan berharap, dibentuk dalam lanskap digital. Menariknya, di tengah logika kapitalisme teknologi, Generasi Z justru menunjukkan kerinduan pada makna. Isu kesehatan mental, keadilan sosial, dan keberlanjutan hidup menjadi percakapan penting. Mereka tidak hanya mengejar materi, tetapi juga bertanya: “Untuk apa semua ini dijalani?”

“Generasi Alpha”, yang lahir pada 2013–2024, melangkah lebih jauh. Mereka lahir di dunia layar yang nyaris total. Cara mereka belajar, membaca, dan memahami realitas akan sangat berbeda dari generasi sebelumnya. Tantangan terbesar mereka bukan kecakapan teknologi karena itu sudah menjadi naluri mereka, melainkan kemampuan untuk tetap reflektif di tengah banjir visual dan informasi.

Di depan sana, “Generasi Beta” yang diproyeksikan lahir pada 2025–2039 masih berupa bayangan. Namun satu hal hampir pasti adalah mereka akan hidup di dunia kecerdasan buatan, krisis iklim, dan perubahan nilai yang radikal. Tantangan mereka bukan lagi sekadar bertahan atau berhasil, melainkan etis, yakni “Bagaimana tetap menjadi manusia di tengah mesin yang semakin cerdas.”

Pada akhirnya, membaca generasi seharusnya tidak berujung pada penghakiman. Setiap generasi adalah jawaban sementara atas pertanyaan zamannya sendiri. Dalam perspektif sastra, generasi adalah bab-bab dalam satu novel panjang bernama kemanusiaan yang masing-masing memuat luka, konflik, dan harapan. Mungkin tugas kita hari ini bukan membandingkan siapa yang paling tangguh atau paling kreatif, melainkan merawat dialog antargenerasi. Sebab hanya dengan saling mendengar, antara yang lahir dari perang, sistem, kegelisahan, dan layar, kita dapat memastikan bahwa sejarah tidak hanya bergerak maju, tetapi juga semakin manusiawi.

Bandung, 30 Januari 2026


Eksplorasi konten lain dari Literatura Nusantara

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Categories:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *